
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan kelautan dan atmosfer Amerika Serikat (NOAA) serta NASA mengumumkan bahwa lubang ozon di atas Antartika tahun 2026 menjadi salah satu yang terbesar dalam 48 tahun pemantauan.
Lubang ozon bukanlah lubang terbuka yang memisahkan langit, melainkan penurunan drastis jumlah gas ozon di lapisan stratosfer yaitu bagian atmosfer yang berada 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan Bumi. Lapisan ozon berfungsi sebagai perisai alami yang menyaring sinar ultraviolet berbahaya dari matahari. Tanpa lapisan ini, sinar tersebut dapat menyebabkan kanker kulit, kerusakan mata, melemahkan daya tahan tubuh, serta merusak tanaman dan hewan.
Penurunan ini terjadi karena zat buatan manusia seperti klorofluorokarbon atau CFC, yang dulunya banyak dipakai pada pendingin ruangan, kulkas, dan semprotan, terbang ke atas dan memecah molekul ozon saat terkena sinar matahari di musim semi Antartika. Makin banyak zat tersebut, makin tipis lapisan pelindungnya. Istilah “lubang” digunakan karena kadar ozon di wilayah itu turun sangat jauh dibandingkan tingkat normal.
Selama puncak kerusakan antara 7 September hingga 13 Oktober 2026, rata-rata luas lubang ozon mencapai 25 juta kilometer persegi. Jika dibandingkan dengan keseluruhan wilayah Indonesia, luas lubang ozon setara dengan 7 kali wilayah daratan dan lautan Indonesia yang mencapai 3,26 juta kilometer persegi.
Puncak terbesarnya terjadi pada 18 September, mencapai 27,1 juta kilometer persegi atau sekitar 8,3 kali luas keseluruhan wilayah Indonesia. Ukuran itu mencakup sekitar 90% dari lubang ozon terbesar yang pernah tercatat, yaitu pada tahun 2000.
Para ilmuwan menegaskan, jika kadar bahan perusak ozon masih setinggi puncaknya pada tahun 2000, lubang ini bisa 3,5 juta kilometer persegi lebih luas lagi setara dengan menambahkan lebih dari seluruh luas wilayah Indonesia ke ukuran yang sudah ada. Artinya, upaya dunia mengurangi bahan kimia perusak ozon memang telah memberikan hasil yang nyata.
Lubang ozon kali ini melebar bukan semata-mata karena polusi, melainkan karena pusaran angin kutub yang sangat kuat dan stabil. Angin yang berputar kencang di atas Antartika menahan udara sangat dingin di sana, membentuk awan khusus yang mempercepat reaksi perusakan ozon saat matahari kembali bersinar. Meskipun tampak mengkhawatirkan, pola ini sebagian besar dipengaruhi cuaca, bukan naiknya kadar zat perusak.
“Pusaran kutub sangat besar tahun ini, karena sistem cuaca skala planet yang biasanya muncul dan menghancurkannya, sangat lemah pada Agustus dan September,” kata Amy Butler dari NOAA.
Fakta bahwa lubang ozon kini terbentuk lebih lambat dibandingkan puluhan tahun lalu menjadi tanda pemulihan sedang berlangsung. Berdasarkan Protokol Montreal tahun 1987, bahan kimia perusak ozon telah dikurangi sepertiga dibandingkan tingkat tertingginya pada tahun 1980-an. Jika tren ini berlanjut, lapisan ozon diperkirakan pulih sepenuhnya pada tahun 2070-an.
Paul Newman, ilmuwan senior NASA, menjelaskan, “Lubang ozon tahun 2026 memang besar, tetapi kerusakannya tidak sedahsyat catatan 10 atau 20 tahun lalu. Kita melihat perbaikan, meskipun cuaca sesekali menyembunyikannya.”
(dem/dem)
Leave a comment