
Jakarta, CNBC Indonesia – Peta persepsi global mulai berubah, dengan China kini dipandang lebih positif dibandingkan Amerika Serikat (AS) di lebih banyak negara. Bagi negara-negara berkembang, perubahan ini menunjukkan meningkatnya daya tarik pendekatan Beijing yang berorientasi pada pembangunan dan kepentingan nasional.
Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, China memperoleh citra lebih positif dibandingkan AS di lebih banyak negara. Mengapa ini terjadi?
Perubahan ini mengindikasikan bahwa pengaruh global semakin ditentukan bukan hanya oleh kekuatan politik dan keamanan. Tetapi juga kemampuan menawarkan manfaat ekonomi yang nyata.
“Global South tidak menjadi anti-Amerika; mereka menjadi pragmatis secara strategis,” tulis Maya Majueran dalam kolomnya yang dimuat Kantor Berita Xinhua, dikutip Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, kebijakan luar negeri negara-negara berkembang semakin didorong oleh kepentingan nasional, peluang ekonomi, dan prioritas pembangunan. Sehingga, ini bukan keberpihakan geopolitik seperti pada era Perang Dingin.
Bagi banyak negara berkembang, China menawarkan kemitraan yang berfokus pada infrastruktur, investasi, industrialisasi, transfer teknologi, dan perdagangan. Melalui Belt and Road Initiative (BRI), China telah memobilisasi hampir US$1 triliun atau sekitar Rp17.800 triliun investasi infrastruktur, dengan berbagai proyek yang menyentuh kebutuhan transportasi, energi, konektivitas, dan kapasitas industri.
Majueran menilai daya tarik China juga muncul karena hasil kerja samanya dapat dilihat secara langsung. Proyek seperti jaringan kereta api di Ethiopia dan pembangkit listrik di Pakistan dinilai menjawab kebutuhan pembangunan sehari-hari, sementara kerja sama industri dan transfer teknologi membantu meningkatkan kapasitas lokal.
“Pendekatan terpadu ini telah menghasilkan peningkatan nyata dalam produktivitas, konektivitas dan kapasitas lokal,” tulisnya.
Selain investasi, China memperluas akses pasar, memberikan perlakuan bebas bea masuk bagi banyak negara kurang berkembang, memperdalam skema pertukaran mata uang, serta mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi biaya transaksi dan risiko nilai tukar sekaligus membuka peluang bagi negara berkembang untuk masuk lebih dalam ke rantai nilai regional dan global.
Faktor lain adalah pendekatan diplomasi China yang menekankan kedaulatan, saling menghormati, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri. Bagi sejumlah pemerintah di Global South, pendekatan ini memberi ruang lebih luas untuk menentukan jalur politik dan pembangunan sendiri.
Pada saat yang sama, transformasi China selama empat dekade, termasuk pengentasan ratusan juta orang dari kemiskinan serta kemajuannya di bidang manufaktur, infrastruktur, dan teknologi, menjadi referensi bagi negara berkembang dalam mengejar pembangunan. Perubahan tersebut memperkuat kecenderungan menuju tatanan dunia yang lebih multipolar.
“Di China, negara-negara berkembang menemukan sahabat sejati dan mitra yang baik,” tulis Majueran.
Ia juga menekankan bahwa Global South kini tidak lagi menjadi peserta pasif dalam urusan dunia. Tetapi semakin mampu menentukan pilihan berdasarkan kepentingan nasional dan aspirasi rakyatnya.
(tfa/sef)
Leave a comment