
Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Asia bergerak cukup beragam dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara empat mata uang melemah dan satu lainnya stagnan.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won menguat 0,16% ke posisi KRW 1.337,6/US$.
Yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama menguat 0,04%, masing-masing ke posisi JPY 153,46/US$ dan SGD 1,2634/US$.
Ringgit Malaysia juga bergerak positif dengan penguatan 0,02% ke MYR 4,067/US$, sementara yuan China naik tipis 0,01% ke CNY 6,7072/US$.
Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,11% ke posisi Rp17.520/US$. Meski demikian, rupiah masih berkisar di level terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir.
Peso Filipina turut terkoreksi 0,05% ke PHP 62,460/US$, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,04% ke TWD 31,484/US$. Baht Thailand turun 0,03% ke THB 32,88/US$.
Sementara itu, dong Vietnam bergerak stagnan di posisi VND 25.904/US$.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau melemah 0,09% ke posisi 98,731.
Dolar AS masih berada di bawah tekanan karena yen Jepang bergerak kuat dalam beberapa hari terakhir. Greenback bahkan diperdagangkan dekat level terendah tujuh bulan terhadap yen, seiring pasar mencermati arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dan bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) pada pekan depan.
“Cerita utamanya adalah premi kebijakan AS yang membatasi kenaikan dolar, sementara yen menguat dengan dukungan dari Departemen Keuangan AS,” ujar Kevin Ford, FX & Macro strategist Convera, dikutip dari Reuters.
Yen masih menjadi perhatian utama pasar setelah menguat sekitar 4% sepanjang September. Penguatan yen mulai mengganggu perhitungan dalam transaksi carry trade, yakni strategi meminjam yen dengan biaya rendah untuk ditempatkan pada aset atau mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Penguatan yen ditopang oleh ekspektasi pengetatan kebijakan BOJ yang lebih cepat, potensi repatriasi dana investor Jepang dari luar negeri, serta tekanan dari Washington agar yen bergerak lebih kuat.
Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September mendatang. Namun, penguatan yen berikutnya masih akan bergantung pada sinyal kebijakan Gubernur BOJ Kazuo Ueda.
Di sisi lain, dolar AS masih mendapat penahan dari kenaikan harga minyak. Harga minyak Brent naik 3,36% dan ditutup di US$101,21 per barel, level tertinggi sejak Mei, setelah konflik di Timur Tengah kembali meningkat.
Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Pada saat yang sama, pasukan AS menyerang beberapa kapal tanker minyak Iran, sementara Iran menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Kenaikan harga minyak membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi global. Kondisi ini menjadi penting karena data inflasi AS yang akan dirilis Jumat akan menjadi salah satu acuan utama sebelum rapat The Fed pekan depan.
OCBC menilai eskalasi terbaru di Timur Tengah membuat dampak harga energi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian, terutama setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.
Dolar AS juga sempat memangkas pelemahannya setelah Departemen Keuangan AS menyatakan akan melipatgandakan ukuran operasi buyback obligasi tenor panjang pada Kamis, dengan pembelian hingga US$6 miliar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment