Home Finance Mazmur dari Pax Romana
Finance

Mazmur dari Pax Romana

Share
Mazmur dari Pax Romana
Share




Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman. Berikut adalah tulisan ke-25 dari Serial Matinya Ilmu Ekonomi.

—

Berbahagialah mereka yang lahir setelah sejarah selesai, karena mereka tidak perlu lagi berharap. Mereka tidak perlu lagi menunggu, dan tidak perlu lagi bermimpi. Sebab semuanya telah tersedia. Jalan-jalan telah dibangun, perdagangan telah berkembang, uang telah beredar, dan perang telah berakhir. Dan dunia telah menjadi aman.

Roma sedang berjaya, tidak ada kekaisaran yang lebih kaya, tidak ada kekaisaran yang lebih kuat, Tidak ada kekaisaran yang lebih terorganisasi. Di bawah pemerintahan Augustus, perang saudara yang panjang telah berakhir dan pedang-pedang dikembalikan lagi ke sarungnya.

Bajak laut disingkirkan dari laut, jalan-jalan baru menghubungkan kota-kota yang sebelumnya terpisah. Dari Hispania sampai Suriah, Dari Britannia sampai Mesir. Dunia tampak lebih kecil daripada sebelumnya. Kapal-kapal dagang memenuhi Laut Tengah. Gandum dari Mesir, minyak zaitun dari Hispania, anggur dari Italia dan rempah-rempah dari Timur.

Semuanya bergerak, mengalir dan hidup. Jika seorang ekonom hidup pada masa itu, ia mungkin akan tersenyum puas. Pertumbuhan tinggi, perdagangan meningkat, konektivitas membaik, stabilitas terjaga. Pax Romana!, Perdamaian Romawi! Mungkin dulu mereka akan berkata, “Inilah akhir sejarah.”

Dan seperti semua zaman yang percaya bahwa sejarah telah berakhir, justru pada saat itulah sejarah sedang menyiapkan kejutannya. Karena di balik kemegahan Roma, ada dunia lain yang tidak terlihat dari balkon istana.

Ada desa-desa kecil, ada petani yang kehilangan tanah, ada keluarga yang semakin sulit membayar pajak, ada orang-orang yang bekerja lebih keras namun merasa hidup mereka semakin jauh dari pusat kekuasaan.

Di Yudea, kekayaan Roma terasa seperti cahaya bulan. Terlihat, tetapi tidak menghangatkan. Pajak harus dibayar, pajak kuil, pajak lokal, pajak kekaisaran. Sementara tanah perlahan berpindah tangan, utang bertambah. Dan sebagian orang mulai merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Mereka hidup di dalam kekaisaran yang semakin kaya, Namun mereka sendiri tidak merasa ikut menjadi bagian dari kemakmuran itu. Mungkin itulah paradoks tertua dalam salah satu sejarah ekonomi. Bahwa sebuah sistem dapat berhasil secara statistik, Namun gagal memberikan rasa memiliki.

Roma menghitung hampir segala sesuatu. Pajak, penduduk, tanah, dan perdagangan. Sensus menjadi bagian dari cara kekaisaran mengetahui siapa yang hidup di bawah kekuasaannya. Nama dicatat, keluarga didaftarkan, wilayah dihitung. Kekaisaran ingin mengetahui semuanya. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa dihitung oleh sensus, Harapan! Dan justru ketika negara sedang sibuk menghitung manusia, dia lahir.

Bukan di Roma, bukan di Alexandria, bukan pula di Antiokhia, dan bukan di rumah senator dan juga pemungut pajak, tapi ditempat yang sangat jauh di ujung dunia Romawi. Tidak ada perayaan resmi, tidak ada pengumuman dari istana, tidak ada berita di Senat.

Ironis sekali, pada saat seluruh dunia sedang berbicara tentang kekuasaan, perdagangan, dan pajak, dunia justru berbelok melalui seorang bayi. Ia tidak memiliki tanah, tidak pula emas, tentara maupun jabatan.

Tetapi ketika ia dewasa, ia berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah menjadi prioritas kekaisaran. Ia berbicara tentang pengampunan utang, tentang janda, tentang orang miskin, Tentang belas kasih, tentang mereka yang tersisih dari pesta besar bernama Pax Romana.

Mungkin karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui para penguasa. Bahwa manusia tidak hidup hanya dari perdagangan, tidak hidup hanya dari uang. Sebab jika demikian, Roma seharusnya menjadi kerajaan yang sempurna. Namun bahkan kekaisaran terbesar dalam sejarah tidak mampu menjawab kerinduan manusia akan makna.

Dan sejarah bergerak dengan cara yang aneh. Berabad-abad kemudian, sistem moneter Roma koyak. Perak dalam koin-koin mereka semakin sedikit, pajak semakin berat, negara semakin besar, tentara semakin mahal, kepercayaan perlahan memudar.

Apa yang tampak abadi ternyata tidak abadi, Apa yang tampak kokoh ternyata dapat runtuh. Tetapi ada sesuatu yang bertahan, bukan istana, bukan legiun, bukan kantor pajak, bukan pasar. Melainkan cerita tentang seorang bayi. Dan mungkin itulah ironi terbesar dalam sejarah ekonomi.

Roma menguasai dunia, tetapi tidak menguasai hati manusia. Roma membangun jalan-jalan, Tetapi tidak mampu menunjukkan tujuan perjalanan. Roma menciptakan stabilitas, tetapi tidak mampu memberikan harapan.

Maka pada suatu hari, puluhan tahun setelah kelahirannya, seorang pria itu memasuki Yerusalem. Bukan di atas kereta perang, bukan diiringi legiun, bukan dengan mahkota emas, melainkan di atas seekor keledai.

Di belakangnya bukan para senator, bukan para bankir, bukan para pemungut pajak, melainkan orang-orang biasa, orang-orang kecil. Orang-orang yang selama ini tidak masuk dalam perhitungan kekaisaran.

Dan dua ribu tahun kemudian, dunia masih mengingat arak-arakan itu. Sementara nama pejabat fiskal, pengelola moneter, dan administrator Kekaisaran Romawi telah hilang ditelan waktu.

Maka ketika aku membaca sejarah Pax Romana, aku sering bertanya-tanya. Apakah sebuah peradaban benar-benar runtuh ketika kehabisan uang? Ataukah ia mulai runtuh ketika tidak lagi mampu memberi alasan bagi manusia untuk berharap?

Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang paling kaya, siapa yang paling kuat, atau siapa yang menguasai perdagangan dunia. Ia juga mengingat siapa yang memberi makna kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa. Dan mungkin itulah sebabnya raja bagi orang miskin masih selalu diingat, sementara kekaisaran yang pernah menguasai dunia tinggal puing-puing.

(miq/miq)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *