Home Finance Membaca Peta Konsolidasi Asuransi BUMN: Siapa Kandidat Survival Entity
Finance

Membaca Peta Konsolidasi Asuransi BUMN: Siapa Kandidat Survival Entity

Share
Membaca Peta Konsolidasi Asuransi BUMN: Siapa Kandidat Survival Entity
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Konsolidasi perusahaan asuransi BUMN sedang berproses dengan target eksekusi paling cepat akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan. Saat ini prosesnya masih dalam tahap due dilligence dan valuasi dari konsultan independen.

Dalam skema streamlining yang dikomandoi oleh Danantara ini, belum ada penjelasan pasti mengenai berapa jumlah dan entitas mana yang akan menjadi survival entity. Awalnya disebutkan bahwa perusahaan asuransi BUMN akan dilebur menjadi 3 entitas yaitu asuransi umum, asuransi jiwa, dan asuransi kredit.

Namun belakangan wacana streamlining berkembang menjadi 8 entitas yaitu asuransi umum, asuransi jiwa, asuransi umum syariah, asuransi jiwa syariah, penjaminan, penjaminan syariah, reasuransi, dan reasuransi syariah.

CNBC Indonesia Research melakukan analisa mengenai probabilitas siapa kandidat survival entity berdasarkan 9 lini sektor usaha di industri asuransi nasional yaitu asuransi umum, asuransi jiwa, asuransi kredit, penjaminan, reasuransi, asuransi umum syariah, asuransi jiwa syariah, penjaminan syariah, dan reasuransi syariah.

Faktor lain yang dijadikan acuan antara lain performa keuangan, kapasitas modal, skala dan positioning bisnis, dan kesiapan infrastruktur. Riset dilakukan untuk membaca probabilitas kandidat survival entity dalam program konsolidasi asuransi BUMN.

Ada dua skenario yang diuji dalam riset ini yaitu pertama, dalam skenario 1: konsolidasi hanya melibatkan entitas ekosistem IFG dan anak usaha asuransi Indonesia Re meliputi Jasindo, Askrindo, Jamkrindo, IFG Life, Inhealth, Asei, Jasaraharja Putera, Jasindo Syariah, Askrindo Syariah, Jamkrindo Syariah, Indonesia Re, dan Nasional Re.

Kedua, dalam skenario 2: konsolidasi menambahkan perusahaan lini usaha asuransi milik Pertamina yaitu Tugu Insurance dan Tugure. Sebagai catatan, streamlining reasuransi BUMN kemungkinan besar akan berdiri sendiri di luar ekosistem IFG, sisanya kemungkinan akan berada di bawah ekosistem IFG seperti yang berjalan saat ini. 

Asuransi Umum

Untuk survival entity di lini asuransi umum, Jasindo dan Askrindo menjadi kandidat kuat di skenario 1 tetapi keduanya harus berhadapan dengan Tugu Insurance yang juga memiliki peluang tinggi di skenario 2.

Pada 2025 Jasindo membukukan aset Rp13,92 triiun, ekuitas Rp2,61 triliun, dan laba sekitar Rp459 miliar. Penguatan bisnis terjadi pada sejumlah lini strategis seperti properti, energi, engineering, marine dan cargo.

Askrindo berada pada skala yang lebih besar dan mencatat aset Rp22,23 triliun, ekuitas Rp8,68 triliun, dan laba Rp1,04 triliun pada 2025. Perusahaan juga berhasil memperbaiki kualitas portofolio KUR; hingga September 2025 premi KUR turun 18%, tetapi klaim turun 24%, recoveries naik 5%, dan hasil underwriting KUR tumbuh 166%.


Secara finansial, Askrindo memiliki keunggulan dibanding Jasindo. Akan tetapi bila di breakdown, kekuatan Askrindo justru bertumpu pada lini bisnis asuransi kredit dan penjaminan. Oleh karena itu, bila asuransi kredit dipisahkan sebagai entitas tersendiri dalam skema streamlining, Askrindo layak mengisi posisi itu. Sementara itu, posisi survival entity di lini asuransi umum bisa diisi oleh Jasindo.

Sebaliknya bila Tugu Insurance masuk dalam streamlining (skenario 2), Tugu Insurance secara konsolidasian memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menjadi survival entity di lini general insurance. Sepanjang 2025, Tugu Insurance tercatat memiliki aset sekitar Rp27,71 triliun dan ekuitas Rp10,17 triliun. Sementara itu, laba bersih yang dihasilkan Tugu Insurance mencapai Rp762 miliar.

Namun demikian, dengan manuver Danantara yang baru saja mengisi 3 kursi direksi Jasindo, yang telah lama kosong, menjadi sinyal Jasindo akan dipertahankan sebagai entitas. Di sisi lain, dengan formasi kepemilikan saham Tugu Insurance yang sebesar 41,49% dimiliki oleh publik dan swasta, proses konsolidasi Tugu Insurance ke dalam ekosistem IFG bukan perkara mudah.

Di luar dua skenario yang dianalisa, peta streamlining lini asuransi umum bisa berubah ketika BRI Insurance yang notabene anak usaha dari BRI ikut ambil bagian. BRI memiliki posisi strategis dalam bisnis retail, UMKM, digital, dan tentu ekosistem BRI.

BRI Insurance bahkan memiliki ekuitas yang sedikit di atas Jasindo yaitu Rp2,95 triliun. BRI Insurance memiliki total aset sebesar Rp8,39 triliun, RBC 371%, RKI 204%, dan pendapatan premi Rp3,68 triliun. Posisi kepemilikan saham BRI Insurance 90% dikuasai oleh BRI dan sisanya dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pekerja BRI. Artinya, proses akuisisinya cenderung lebih mudah dibandingkan dengan Tugure, BRI Life, dan BNI Life. 

Asuransi Jiwa

Untuk lini asuransi jiwa, IFG Life menjadi satu-satunya kandidat kuat. Kecuali, perusahaan asuransi jiwa anak usaha BUMN lain seperti BNI Life dan BRI Life ikut dalam proses streamlining ini. Namun, tampaknya pelibatan BNI Life dan BRI Life akan sulit dilakukan karena melibatkan pemegang saham non-BUMN.

Sebagai satu-satunya asuransi jiwa anak usaha BUMN, IFG Life memiliki kinerja yang impresif setelah pada 2025 membukukan laba sebesar Rp482,12 miliar atau melonjak dari tahun sebelumnya Rp183,41 miliar.

Pendapatan premi konsolidasian tercatat naik dari Rp6,26 triliun menjadi Rp6,77 triliun, sementara pendapatan jasa asuransi mencapai Rp6,56 triliun. Adapun solvabilitas yang tecermin dari RBC berada di level 180,16%.

Pada 2024, IFG Life juga telah mengintegrasikan bisnis asuransi kesehatan milik PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia ke dalam portofolionya. Akuisisi tersebut semakin memperkuat lini bisnis asuransi kesehatan IFG Life yang secara khusus dijalankan oleh Inhealth.

Reasuransi

Seperti lini asuransi umum, bila streamlining hanya melibatkan entitas ekosistem IFG (Nasional Re) dan Indonesia Re, maka Indonesia Re memiliki posisi yang sangat kuat untuk menjadi survival entity reasuransi. Namun, bila Tugure ikut dilibatkan, petanya bisa berubah.


Tugure memiliki keunggulan dari sisi kualitas capital buffer. Tugure memiliki rasio solvabilitas sebesar 201% yang lebih tinggi dari Indonesia Re sebesar Rp133,38%. Untuk rasio likuiditas, Tugure mencatatkan 192% atau lebih tinggi daripada Indonesia Re sebesar 114,77%.

Namun demikian, Indonesia Re unggul dari sisi skala aset, ekuitas, dan bisnis. Sebagai catatan, Indonesia Re, mengonsolidasikan kinerja keuangan dari Asei dan Reindo Syariah.

Indonesia Re mencatatkan aset, ekuitas, dan pendapatan jasa asuransi masing-masing Rp12,52 triliun, Rp1,85 triliun, dan Rp6,80 triliun, sedangkan Tugure mencatatkan Rp6,03 triliun, Rp1,55 triliun, dan Rp3,56 triliun.

Selain itu, Indonesia Re juga unggul dari sisi franchise dan posisi kelembagaan yang sudah berstatus BUMN (Persero), berbeda dengan Tugure yang notebene anak usaha Tugu Insurance. Dalam konteksi konsolidasi yang dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas reasuransi nasional, faktor ini membuat strategic fit Indonesia Re lebih besar dibandingkan dengan Tugure. Di sisi lain, proses konsolidasi Tugure juga tidak mudah karena melibatkan pemegang saham non-pemerintah yang kepemilikannya mencapai 49,26%.

Sebagai tambahan informasi, Danantara telah menetapkan direktur utama definitif di Indonesia Re yang selama ini dibiarkan kosong sepeninggal Benny Waworuntu, sedangkan posisi direktur utama di Tugure sampai saat ini masih kosong sepeninggal Teguh Budiman. Bisa jadi ini menjadi pertanda arah streamlining BUMN reasuransi.

Selama ini, Indonesia Re juga cukup aktif menyampaikan wacana penggabungan Indonesia Re, Nasional Re, dan Tugure menjadi perusahaan reasuransi nasional berskala besar (Giant Re).

Penjaminan

Untuk lini penjaminan, Jamkrindo adalah kandidat tanpa lawan untuk menjadi anchor. Jamkrindo memiliki rekam performa keuangan yang positif. Pada 2025, Jamkrindo mencatatkan volume penjaminan sekitar Rp247,57 triliun, aset Rp30,86 triliun, ekuitas Rp13,84 triliun, pendapatan bersih Rp1,54 triliun, dan laba bersih Rp1,05 triliun.

Secara bisnis, Jamkrindo juga telah menjangkau lebih dari 5,56 juta pelaku UMKM dan koperasi. Dengan kombinasi scale, capital, profitability dan franchise, Jamkrindo sangat layak sebagai guarantee survival entity.

Dalam ekosistem IFG, Askrindo juga menjalankan bisnis penjaminan tetapi skalanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jamkrindo.

Entitas Bisnis Syariah

Untuk lini bisnis syariah, ada 4 potensi entitas bisnis yaitu asuransi umum syariah, asuransi jiwa syariah, reasuransi syariah, dan penjaminan syariah.

Saat ini IFG memiliki 4 entitas syariah yaitu Askrindo Syariah, Jasindo Syariah, Jamkrindo Syariah, dan Reindo Syariah.

Pada lini asuransi umum syariah, Jasindo Syariah menjadi satu-satunya kandidat kuat. Jasindo Syariah merupakan merupakan asuransi umum syariah full fledged hasil spin off dan beroperasi sejak 2016. Jasindo memiliki aset Rp632,34 miliar per 2025, ekuitas Rp73,11 miliar, dan kontribusi asuransi Rp220,96 miliar.

Sementara itu pada lini asuransi jiwa syariah, belum ada entitas full fledged di ekosistem IFG. Kemungkinan besar, entitas asuransi jiwa syariah akan berasal dari hasil spin off yang berdasarkan regulasi OJK harus tuntas dilakukan pada Desember 2026. Kemungkinan lain, IFG dapat meng-convert inhealth menjadi entitas asuransi jiwa syariah full fledged agar tidak perlu mendirikan entitas baru.

Pada lini reasuransi syariah, Reindo Syariah menjadi satu-satunya kandidat survival entity untuk lini reasuransi syariah. Pada 2025, Reindo Syariah mencatatkan total aset sebesar Rp1,1 triliun, ekuitas Rp453,7 miliar, dan pendapatan kontribusi Rp623,44 miliar. Namun, pada periode tersebut Reindo Syariah masih mencatatkan defisit dana tabarru’ sebesar Rp21,86 miliar.

Adapun pada lini penjaminan syariah, pertarungannya cukup sengit. Pasalnya, Askrindo Syariah unggu dalam skala dan laba, sedangkan Jamkrindo Syariah unggul dalam ekuitas dan momentum pertumbuhan laba.

Jamkrindo Syariah mencatatkan aset Rp2,46 triliun, ekuitas Rp1,40 triliun, pendapatan Rp426,67 miliar, dan laba bersih Rp141,03 miliar. Sementara itu, Askrindo Syariah mencatatkan aset Rp3,28 triliun, ekuitas Rp1,17 triliun, pendapatan Rp538,93 miliar, dan laba bersih Rp163,18 miliar.

Selain unggul dari sisi skala dana laba, Askrindo syariah juga unggul dari sisi posisi pasar, produk, dan infrastruktur. Askrindo Syariah menguasai 55,64% dari IJK industri penjaminan syariah pada Maret 2025. Tak hanya itu, Askrindo Syariah memiliki tiga kelompok bisnis utama yaitu kafalah pembiayaan konsumtif, kafalah pembiayaan produktif, dan kafalah pembiayaan suretyship. Dengan demikian, Askrindo Syariah relatif lebih siap menjadi survival entity yang menampung bisnis Jamkrindo Syariah.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

(ach/ach)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *