Jakarta, CNBC Indonesia – Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memperlihatkan bahwa peperangan modern bukan hanya membutuhkan tentara dan persenjataan, tetapi juga pasokan bahan baku untuk terus memproduksinya.
Konflik tersebut mulai menguras stok rudal pertahanan udara dan senjata berpemandu presisi AS.
JP Morgan dalam laporannya Pandora’s Bog: the global energy shock of 2026 menyoroti bagaimana intensitas perang dapat mendorong kebutuhan logam mineral pertambangan, bahkan dalam waktu singkat. Contoh terbaru adalah penggunaan logam mineral jarang dalam operasi militer AS dalam 96 jam pertama perang Iran yang meletus pada 28 Februari 2026.
Penggunaan mineral kritis dalam senjata AS di perang Iran Foto: JP Morgan
|
Presiden Donald Trump bahkan mengumpulkan produsen senjata pada Juni 2026 untuk mempercepat produksi setelah operasi di Iran dan konflik lain mengurangi persediaan amunisi.
Washington menargetkan produksi rudal Patriot naik tiga kali lipat dan THAAD empat kali lipat. Produksi Tomahawk dan rudal udara-ke-udara AMRAAM juga akan ditingkatkan.
Namun, produksi senjata membutuhkan pasokan mineral strategis. Salah satu yang terpenting adalah logam tanah jarang (rare earth), yang digunakan pada rudal, radar, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara.
Meski dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil, sifat magnetik, optik, serta ketahanannya terhadap suhu tinggi membuat mineral ini sulit digantikan. Di tengah meningkatnya risiko perang, pengamanan pasokan logam tanah jarang pun menjadi bagian penting dari ketahanan industri pertahanan.
Pentingnya Logam Tanah Jarang Dalam Industri Pertahanan
Logam tanah jarang merupakan kelompok yang terdiri dari 17 unsur kimia, yakni 15 unsur lantanida ditambah skandium dan itrium.
Kelompok tersebut mencakup lantanum, serium, praseodimium, neodimium, prometium, samarium, europium, gadolinium, terbium, disprosium, holmium, erbium, tulium, iterbium, lutetium, skandium, dan itrium.
Persoalannya, logam itu jarang ditemukan dalam konsentrasi tinggi dan sering bercampur dengan unsur lain sehingga sulit serta mahal untuk dipisahkan.
Dalam industri pertahanan, logam tanah jarang bukan bahan utama pembentuk badan rudal atau pesawat tempur. Namun, mineral ini menjadi bagian penting dari “otak dan saraf” yang membuat senjata modern mampu mendeteksi sasaran, bergerak, mengarahkan tembakan, dan mengenai target secara akurat.
Departemen Pertahanan AS menyebut mineral kritis digunakan pada hampir seluruh sistem militernya, mulai dari drone, pesawat tempur, hingga kapal selam.
Sementara laporan US Government Accountability Office (GAO) mencatat logam tanah jarang digunakan dalam radar, sistem pemandu, amunisi presisi, laser, satelit, dan perangkat penglihatan malam.
Pentingnya logam tanah jarang bagi pertahanan juga sering disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Prabowo pernah memanggil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto ke Hambalang, Bogor.
Pertemuan tersebut membahas kesiapan sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta perkembangan kerja sama yang berkaitan dengan mineral kritis dan logam tanah jarang.
“Sekali lagi ini berkenaan dengan masalah persiapan pengawakan sumber daya manusia kita yang beberapa sudah berjalan proses-proses pendidikan maupun latihan. Dan juga update mengenai beberapa kerja sama dengan yang berkaitan dengan tempo hari kami sampaikan, berkenaan dengan masalah teknologi dan mineral kritis atau logam tanah jarang,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, di depan gerbang Padepokan Garuda Yaksa, Rabu (17/6/2026).
Perhatian Prabowo terhadap mineral tersebut kembali terlihat ketika menerima Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (7/7/2026).
Dalam pernyataan bersama, Prabowo menyebut logam tanah jarang sebagai salah satu sektor strategis yang akan diperkuat Indonesia dan India, bersama bidang pertahanan, keamanan maritim, energi, teknologi, dan antariksa.
Hal ini menujukkan bahwa pemerintah tidak lagi melihat logam tanah jarang hanya sebagai komoditas tambang. Mineral tersebut juga berkaitan langsung dengan pembangunan industri teknologi dan pertahanan nasional.
Indonesia Punya Bahan Baku Logam Tanah Jarang
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia, Indonesia memiliki posisi cukup strategis karena menyimpan potensi logam tanah jarang di berbagai wilayah.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat logam tanah jarang di Indonesia ditemukan dalam sejumlah bentuk endapan, baik sebagai mineral utama maupun produk samping dari pengolahan mineral lain.
Berdasarkan Booklet ESDM Tanah Jarang 2020, terdapat sedikitnya 28 lokasi yang memiliki indikasi, keterdapatan, maupun sumber daya logam tanah jarang. Sebarannya membentang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa.
Pemetaan tersebut menunjukkan lokasi LTJ paling banyak ditemukan di Sumatra. Dari 28 lokasi yang tercatat, sebanyak 16 berada di Sumatra, tujuh di Kalimantan, tiga di Sulawesi, dan dua di Jawa.
Namun, status setiap lokasi tidak sama. Dari seluruh lokasi tersebut, sembilan telah berstatus sumber daya, sembilan masih berupa keterdapatan, dan 10 lainnya baru sebatas indikasi.
Sebagian potensi yang paling menarik berada di Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Di wilayah tersebut, logam tanah jarang banyak ditemukan pada endapan sekunder yang berkaitan dengan kegiatan penambangan timah.
Dalam penambangan timah, logam tanah jarang biasanya ditemukan pada mineral ikutan seperti monasit dan xenotim. Mineral tersebut dapat ikut terangkat bersama timah, tetapi selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Potensi Logam Tanah Jarang Foto: Kementerian ESDM
|
Monasit di Bangka Belitung, misalnya, diketahui mengandung unsur tanah jarang ringan seperti serium, lantanum, dan neodimium.
Neodimium merupakan salah satu bahan utama pembuatan magnet permanen berkekuatan tinggi. Magnet tersebut digunakan pada motor listrik, radar, rudal, pesawat, drone, dan berbagai perangkat elektronik militer.
Selain berkaitan dengan timah, potensi logam tanah jarang Indonesia juga ditemukan pada endapan laterit dan batuan tertentu. Beberapa di antaranya berada di Mamuju, Sulawesi Barat; Parmonangan, Sumatera Utara; Ketapang, Kalimantan Barat; Banggai, Sulawesi Tengah; hingga sejumlah wilayah Papua.
Pemetaan dan eksplorasi pun terus berkembang setelah penerbitan Booklet ESDM Tanah Jarang 2020.
Eksplorasi Badan Geologi pada 2022 menemukan kadar total logam tanah jarang tertinggi di Mamuju mencapai 4.571 bagian per juta atau ppm. Sementara kadar tertinggi yang ditemukan di Parmonangan mencapai 1.549 ppm.
Hasil tersebut memperluas gambaran mengenai potensi LTJ nasional. Namun, keberadaan sumber daya di berbagai daerah belum otomatis membuat Indonesia mampu memasok kebutuhan industri teknologi dan pertahanan.
Sebagian besar lokasi masih membutuhkan eksplorasi lebih rinci untuk mengetahui jumlah sumber daya, cadangan yang layak ditambang, serta tingkat keekonomiannya.
Tantangan lainnya berada pada proses pengolahan. Unsur tanah jarang biasanya ditemukan bercampur satu sama lain sehingga harus melewati tahapan pemisahan dan pemurnian yang panjang.
Mineral monasit juga dapat mengandung uranium dan torium yang bersifat radioaktif. Pengolahannya membutuhkan teknologi, fasilitas khusus, serta pengawasan lingkungan dan keselamatan yang ketat.
Indonesia juga perlu menguasai proses lanjutan setelah pemurnian. Nilai terbesar logam tanah jarang tidak berada pada material mentah, tetapi setelah diolah menjadi oksida berkadar tinggi, logam murni, paduan, magnet permanen, sensor, dan komponen teknologi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google


Leave a comment