Jakarta, CNBC Indonesia – Seluruh dunia menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), yang akan diumumkan pada Rabu (29/7/2026) waktu AS atau Kamis (30/7/2026) dini hari waktu Indonesia.
Rapat yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi pertemuan kedua yang dipimpin Kevin Warsh sejak resmi menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei 2026.
Pada rapat perdananya bulan lalu, Warsh bersama seluruh anggota FOMC sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.
Namun, keputusan kali ini tidak lagi mudah diperkirakan. Pasar melihat peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali mempertahankan suku bunga, sedangkan kemungkinan kenaikan 25 basis poin mencapai 33%.
Peluang kenaikan tersebut membesar tajam dibandingkan sekitar 10% setelah data inflasi Juni diumumkan dan 16% pada pekan lalu.
Perubahan ekspektasi terjadi setelah harga minyak kembali naik akibat memanasnya perang AS-Iran. Sejumlah pejabat The Fed juga mulai secara terbuka menyampaikan perlunya suku bunga yang lebih tinggi untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Berbeda dengan rapat Juni, FOMC kali ini tidak disertai pembaruan proyeksi ekonomi maupun dot plot. Pasar harus mencari arah kebijakan melalui keputusan bunga, pernyataan resmi, hasil pemungutan suara, dan konferensi pers Warsh.
Berikut lima hal yang paling dinantikan dari FOMC Juli:
1. Keputusan Suku Bunga
Perhatian utama pasar tentu tertuju pada keputusan suku bunga. The Fed memiliki dua pilihan, yakni mempertahankan bunga di kisaran 3,50%-3,75% atau menaikkannya sebesar 25 basis poin menuju 3,75%-4,00%.
Penahanan suku bunga masih menjadi skenario utama. Inflasi konsumen AS turun lebih dalam dari perkiraan pada Juni, sementara penciptaan lapangan kerja melambat tajam.
The Fed juga belum memberikan sinyal yang cukup jelas mengenai kenaikan bunga sebelum memasuki masa tenang menjelang FOMC. Kenaikan yang dilakukan tanpa petunjuk sebelumnya dapat menimbulkan gejolak besar di pasar.
Analis pasar IG Fabien Yip memperkirakan The Fed masih membutuhkan lebih banyak bukti mengenai seberapa lama risiko inflasi akan bertahan.
“Saya masih berpikir The Fed membutuhkan lebih banyak petunjuk mengenai berapa lama risiko inflasi akan berlangsung,” ujar Yip, dikutip dari Reuters.
Meski demikian, kenaikan bunga tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan. Inflasi masih jauh di atas target, harga minyak kembali naik, dan pasar tenaga kerja belum mengalami pelemahan besar.
Jika The Fed menaikkan bunga, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023. Pasar juga akan melihat apakah langkah itu hanya menjadi kenaikan satu kali atau awal dari rangkaian pengetatan baru.
2. Penilaian The Fed terhadap Inflasi dan Harga Minyak
Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati cara The Fed membaca perkembangan inflasi.
Inflasi konsumen AS turun dari 4,2% pada Mei menjadi 3,5% pada Juni. Inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi juga melandai dari 2,9% menjadi 2,6%.
Secara bulanan, indeks harga konsumen turun 0,4%, menjadi penurunan pertama sejak April 2020.
FILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
|
Namun, ukuran inflasi yang paling diperhatikan The Fed masih berada di level tinggi. Inflasi personal consumption expenditures (PCE) mencapai 4,1% secara tahunan pada Mei, tertinggi sejak April 2023. Sementara core PCE naik 3,4%, tertinggi sejak Oktober 2023.
Berbeda dengan CPI, PCE memiliki cakupan pengeluaran yang lebih luas dan menjadi acuan resmi The Fed dalam mengejar target inflasi 2%.
Masalahnya, data PCE Juni baru akan diumumkan pada Kamis (30/7/2026) waktu AS, setelah keputusan FOMC. The Fed harus menentukan kebijakan tanpa memiliki data terbaru dari ukuran inflasi utamanya.
Ekonom memperkirakan core PCE Juni sedikit melandai menjadi sekitar 3,3%. Namun, data tersebut belum memasukkan tekanan harga energi yang kembali muncul sepanjang Juli.
Penurunan inflasi pada Juni banyak dibantu oleh merosotnya harga energi ketika gencatan senjata AS-Iran sempat meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak.
Indeks harga energi turun 5,7% secara bulanan, sedangkan harga bensin merosot 9,7%. Kondisi tersebut memberi kesan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Situasinya kembali berubah pada Juli. Perang AS-Iran memanas dan harga minyak Brent sempat menembus US$100 per barel sebelum turun setelah AS menghentikan sementara serangannya.
FILE PHOTO: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pidato pada hari upacara pelantikannya, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 22 Mei 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein/File Photo Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
|
Harga minyak kembali meningkat pada Rabu setelah militer AS mencegat rudal balistik Iran yang diarahkan menuju pasukan AS di Timur Tengah.
The Fed perlu menentukan apakah kenaikan harga energi hanya akan mendorong inflasi untuk sementara atau mulai merembet ke biaya transportasi, produksi, upah, serta harga barang dan jasa lainnya.
Pasar pun akan mencermati perubahan bahasa dalam pernyataan resmi FOMC. Penekanan yang lebih kuat terhadap inflasi dan risiko energi dapat menghasilkan hawkish hold, yakni suku bunga dipertahankan tetapi peluang kenaikan pada rapat berikutnya tetap terbuka lebar.
3. Potensi Dissent
Hasil pemungutan suara anggota FOMC menjadi bagian lain yang akan diperhatikan.
Pada rapat Juni, keputusan mempertahankan suku bunga disepakati secara bulat dengan hasil 12-0. Namun, suara bulat tersebut belum tentu terulang pada Juli.
Presiden The Fed Dallas Lorie Logan telah menyatakan bahwa suku bunga yang sedikit lebih tinggi diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target.
Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack juga menilai tekanan inflasi mulai meluas dan tidak lagi hanya berasal dari energi atau beberapa kelompok barang tertentu.
Jika The Fed mempertahankan suku bunga, Logan dan Hammack berpeluang memilih kenaikan 25 basis poin.
Munculnya satu atau dua dissent akan memperlihatkan bahwa dukungan terhadap kenaikan bunga mulai membesar di dalam FOMC. Penahanan bunga pun dapat dibaca sebagai penundaan sebelum The Fed mengambil langkah pada rapat berikutnya.
Sebaliknya, jika The Fed menaikkan bunga, pasar akan mencermati apakah pejabat yang ingin menunggu memberikan suara menolak.
Hasil pemungutan suara akan menunjukkan seberapa solid dukungan terhadap keputusan tersebut sekaligus memberi gambaran mengenai peluang kebijakan lanjutan.
4. Sinyal Kenaikan pada September
Jika suku bunga dipertahankan, perhatian pasar akan langsung bergeser menuju rapat FOMC berikutnya pada 15-16 September 2026.
FOMC Juli tidak menerbitkan proyeksi ekonomi dan dot plot terbaru. Pasar masih berpegang pada hasil rapat Juni untuk membaca arah suku bunga.
Dalam dot plot Juni, sembilan dari 18 peserta FOMC memperkirakan suku bunga perlu berada lebih tinggi pada akhir 2026. Delapan peserta memproyeksikan bunga tetap, sedangkan hanya satu peserta melihat kemungkinan penurunan.
Median proyeksi suku bunga akhir tahun naik menjadi 3,8% dari 3,4% pada Maret. Pergeseran tersebut menunjukkan peluang pemangkasan semakin tertutup, sementara ruang kenaikan bunga justru membesar.
Ekspektasi serupa terlihat dalam CME FedWatch Tool. Pasar memperkirakan peluang sebesar 78,9% bahwa suku bunga The Fed sudah berada di atas level saat ini pada September.
Secara terperinci, peluang suku bunga berada di kisaran 3,75%-4,00% mencapai 56,8%, sedangkan kemungkinan naik lebih jauh ke 4,00%-4,25% sebesar 22,1%. Peluang bunga tetap di level 3,50%-3,75% hanya 21,1%.
CME FedWatch Tool Foto: CME FedWatch Tool
|
Data tersebut menunjukkan pasar lebih meyakini The Fed telah menaikkan bunga setidaknya satu kali hingga September dibandingkan mempertahankannya.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati apakah pernyataan FOMC memberi petunjuk bahwa The Fed hanya membutuhkan data tambahan sebelum mulai menaikkan bunga.
Sinyal tersebut dapat muncul melalui penilaian yang lebih tegas terhadap inflasi atau penegasan bahwa setiap rapat terbuka terhadap perubahan kebijakan.
Jika The Fed menahan bunga tetapi terdengar hawkish, ekspektasi kenaikan pada September dapat bertahan dan menjaga dolar AS serta imbal hasil obligasi tetap tinggi. Sebaliknya, peluang tersebut dapat berkurang jika The Fed melihat tekanan inflasi mulai mereda.
5. Konferensi Pers Kevin Warsh
Setelah keputusan diumumkan, perhatian akan beralih kepada konferensi pers Kevin Warsh.
Forum tersebut menjadi semakin penting karena FOMC Juli tidak disertai proyeksi ekonomi dan dot plot. Penjelasan Warsh akan menjadi petunjuk utama mengenai cara The Fed menilai inflasi, pasar tenaga kerja, harga minyak, dan arah suku bunga berikutnya.
Pasar juga masih mencoba memahami gaya komunikasi Warsh. Sejak menjadi Ketua The Fed, dia mulai mengurangi forward guidance atau petunjuk kebijakan jauh sebelum keputusan dibuat.
Warsh ingin setiap rapat tetap terbuka terhadap seluruh pilihan berdasarkan data terbaru. Pendekatan tersebut membuat pelaku pasar lebih sulit memperkirakan keputusan berikutnya.
Jika suku bunga ditahan, Warsh akan ditanya mengenai alasan The Fed belum bertindak meskipun inflasi masih tinggi dan harga minyak kembali naik.
Jika bunga dinaikkan, pasar akan menunggu penjelasan apakah langkah tersebut merupakan awal dari rangkaian kenaikan atau hanya tindakan pencegahan terhadap risiko inflasi.
Nada bicara Warsh juga akan menunjukkan seberapa besar pengaruh kubu pendukung kenaikan bunga di dalam FOMC.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google



Leave a comment