
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu pekerjaan yang paling menantang bagi saya adalah membangun kerja sama, terutama untuk proyek baru. Seorang kolega pernah bercanda bahwa jika pekerjaan dinilai dengan skala 1-10, saya selalu berada di tahap 1-3, yakni tahap awal ketika segalanya masih dimulai dari nol.
Memulai sesuatu yang baru tidak cukup bermodal semangat; dibutuhkan energi yang tidak boleh padam. Salah satu kuncinya adalah menjalin hubungan dengan orang-orang yang pernah bekerja bersama kita atau beririsan dengan pekerjaan kita. Hubungan lama sering menjadi pintu pertama yang terbuka.
Prosesnya pun tidak selesai dalam satu atau dua hari. Ia berlangsung lama, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pemangku kepentingan dengan kepentingan yang tidak selalu sama. Kesabaran dan konsistensi sama pentingnya dengan gagasan yang bagus.
Dari Pesan Pertama hingga Pertemuan
Minggu lalu saya kembali melakukan road show untuk memperkenalkan program baru di kampus kami kepada mitra di Indonesia dan luar negeri. Langkah awalnya hampir selalu sama: mengirim email, surat, atau, kalau di Indonesia, pesan WhatsApp.
Ada lembaga yang terbuka, membalas dengan cepat, dan bersedia menjadwalkan pertemuan. Ada pula yang tidak pernah menjawab dan memilih menutup diri. Keduanya adalah bagian dari proses. Penolakan dan kesunyian adalah harga yang wajar untuk menemukan mitra yang benar-benar sejalan.
Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa kerja sama jarang dimulai dari kesamaan visi yang sempurna. Biasanya ia dimulai dari kepercayaan kecil: satu balasan, satu pertemuan, satu janji yang ditepati. Karena itu, saya belajar tidak mengukur keberhasilan tahap awal dari jumlah tanda tangan, tetapi dari seberapa jauh kedua pihak bersedia meluangkan waktu untuk saling memahami kebutuhan masing-masing.
Ujian Setelah Seremoni
Ujian sesungguhnya datang setelah acara seremonial selesai. Foto bersama dan tanda tangan di atas kertas mudah didapat. Yang sulit adalah menjaga komitmen ketika agenda berganti, pejabat berpindah, atau anggaran berubah. Di titik itulah dua pihak dengan latar belakang berbeda harus tetap bekerja untuk tujuan yang sama dan saling percaya.
Banyak nota kesepahaman berakhir di laci karena tidak ada yang bertanggung jawab menjalankannya. Kerja sama yang hidup memerlukan penanggung jawab yang jelas, target yang realistis, dan kebiasaan sederhana seperti berkomunikasi secara berkala, bahkan ketika tidak ada acara untuk dirayakan.
Karena itu, pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah kerja sama itu penting, sebab hampir semua orang setuju. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: bagaimana kita menghargainya, dan dengan ukuran apa kita menilainya?
Pelajaran dari Program Kelembagaan dan Beasiswa
Pengalaman bekerja di berbagai program pengembangan kelembagaan dan kepemimpinan mengajarkan saya satu hal: kerja sama bernilai ketika ia meninggalkan kapasitas, bukan hanya laporan. Di beberapa lembaga internasional tempat saya pernah bekerja, keberhasilan tidak dinilai dari banyaknya pertemuan atau tebalnya dokumen yang dihasilkan.
Ukurannya adalah apakah institusi publik kita menjadi lebih mampu mengelola kinerjanya sendiri setelah program berakhir. Program yang baik pada akhirnya membuat dirinya tidak lagi dibutuhkan.
Prinsip yang sama berlaku di bidang pendidikan. Ketika bekerja di sebuah lembaga pemberi beasiswa, ukuran yang kami pegang jelas: beasiswa harus membuka jalan studi lanjut bagi calon pemimpin dari kelompok yang selama ini kurang terwakili. Nilainya baru terasa ketika para penerima kembali dan memimpin perubahan di komunitasnya, bukan ketika mereka menerima ijazah.
Belajar dari Luar, Memiliki untuk Dalam
Dalam kerja sama internasional, jejaring global baru bermakna jika memperkaya cara kita berpikir tentang masalah dalam negeri. Berinteraksi dengan para pakar kebijakan dunia membantu memperkuat pengambilan kebijakan berbasis bukti, karena kita bisa belajar apa yang berhasil, apa yang gagal, dan mengapa, di tempat lain.
Kita tidak perlu merasa rendah diri untuk belajar, tetapi juga tidak boleh berhenti pada kekaguman. Namun ada satu syarat penting: gagasan dari luar harus diuji, disesuaikan, dan dimiliki oleh konteks Indonesia. Meniru mentah-mentah bukanlah kerja sama, melainkan impor yang tidak selesai.
Artinya, menghargai kerja sama internasional juga berarti berani menjadi mitra yang setara. Kita perlu datang dengan data, gagasan, dan kepentingan yang jelas, bukan sekadar sebagai penerima manfaat. Mitra asing cenderung lebih menghormati pihak yang tahu apa yang dibutuhkannya. Kerja sama yang lahir dari kesetaraan biasanya lebih tahan lama dibanding yang lahir dari rasa sungkan.
Contoh Nyata: Kampus Asing di Tanah Air
Pendidikan tinggi adalah salah satu bidang yang paling merasakan dampak kerja sama lintas negara. Teknologi digital membuat batas geografis tidak lagi menjadi penghalang utama bagi mahasiswa untuk mengakses kampus berkualitas. Lewat program seperti IDegree – Woosong Digital Campus, universitas asing dapat hadir bagi mahasiswa Indonesia tanpa mereka harus meninggalkan tanah air.
Model seperti ini memperlihatkan bahwa kerja sama internasional tidak harus berarti pergi ke luar negeri. Kualitas bisa datang kepada mereka yang selama ini terhambat biaya, jarak, atau keterbatasan kesempatan. Seorang anak muda di kota kecil kini dapat belajar di kampus asing sambil tetap dekat dengan keluarganya. Nilainya sangat konkret: semakin banyak anak muda Indonesia memperoleh pendidikan bermutu, dan semakin siap kita bersaing di tingkat global.
Tentu, pembelajaran daring bukan tanpa tantangan. Kualitas pendampingan, akses internet, dan pengakuan atas capaian belajar tetap harus dijaga. Namun arah yang ditunjukkan jelas: kesempatan tidak lagi harus ditentukan oleh alamat tempat tinggal.
Tiga Ukuran Sederhana
Dari semua pengalaman itu, saya menarik tiga pertanyaan sederhana untuk menilai apakah sebuah kerja sama internasional benar-benar bernilai.
Pertama, apakah ia membangun kapasitas yang bertahan? Kerja sama yang baik membuat kita lebih mandiri, bukan lebih bergantung. Jika program berhenti dan kemampuan kita ikut hilang, yang terjadi hanyalah bantuan sementara, bukan kerja sama.
Kedua, apakah ia dijalankan secara setara? Mitra yang saling menghormati membawa pengetahuan dan kepentingannya masing-masing ke meja yang sama. Tanpa kesetaraan, kerja sama mudah berubah menjadi hubungan pemberi dan penerima yang timpang.
Ketiga, apakah ia menjangkau lebih banyak orang? Manfaatnya tidak boleh berhenti pada elite dan lembaga besar, tetapi harus sampai kepada mereka yang selama ini tertinggal dari kesempatan.
Ketiga pertanyaan ini sederhana, tetapi menjawabnya dengan jujur sering lebih sulit daripada menyelenggarakan acara penandatanganan.
Penutup
Daya saing nasional tidak dibangun dengan menutup diri, tetapi juga tidak dengan membuka diri tanpa arah. Negara yang cerdas memilih kerja sama yang memperkuat institusi, manusia, dan kemampuan belajarnya sendiri. Di tengah ketidakpastian global, kemampuan itulah yang akan membedakan negara yang sekadar terhubung dengan negara yang benar-benar tumbuh.
Pada akhirnya, kerja sama internasional adalah investasi jangka panjang. Hasilnya sering tidak terlihat dalam satu periode jabatan atau satu tahun anggaran. Justru karena itu, ia membutuhkan kesabaran, kejujuran dalam menilai hasil, dan kemauan untuk terus membangun hubungan, sekalipun yang kita kerjakan masih berada di tahap 1-3.
Maka, cara terbaik kita menghargai kerja sama internasional bukan dengan memperbanyak seremoni, melainkan dengan memastikan setiap kerja sama meninggalkan jejak yang nyata: kebijakan yang lebih baik, pemimpin yang lebih siap, dan kesempatan yang lebih luas bagi generasi berikutnya.
(miq/miq)
Leave a comment