
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Seorang ayah terdiam di depan layar telepon genggamnya. Ia sedang menghitung uang yang tersisa sampai akhir bulan. Cicilan rumah segera jatuh tempo, sementara anaknya membawa surat pemberitahuan biaya kegiatan sekolah. Di ruang sebelah, istrinya mencoret beberapa kebutuhan dari daftar belanja. Bukan karena tidak diperlukan, melainkan karena uangnya tidak cukup.
Mereka berdua bekerja. Tidak menganggur, tidak pula bermalas-malasan. Tetapi beberapa tahun terakhir, mempertahankan kehidupan yang dahulu terasa cukup kini menjadi pekerjaan tersendiri. Dahulu mereka membicarakan liburan keluarga dan tabungan pendidikan. Sekarang percakapan lebih sering berkisar pada tagihan yang harus ditunda, tabungan yang dapat dicairkan, atau siapa yang mungkin bersedia meminjamkan uang.
Tekanan itu perlahan memasuki rumah tangga. Pertengkaran kecil menjadi lebih sering, bukan karena berkurangnya kasih sayang, tetapi karena kecemasan tidak pernah benar-benar selesai. Kisah ini ilustratif, bukan laporan tentang satu keluarga tertentu. Namun, siapa pun yang akrab dengan kehidupan kelas menengah Indonesia pasti akan pernah mendengarnya atau bahkan mengalaminya.
Pada 5 November 2026, Badan Pusat Statistik dijadwalkan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2026. Kita tentu berharap hasilnya menggembirakan. Tetapi sebelum angka itu hadir dan diperdebatkan, cerita tentang keluarga tadi tentu menjadi sebuah pertanyaan: ekonomi sedang tumbuh untuk siapa?
Angka yang Benar, Kehidupan yang Berbeda
Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran penting. Ia mencatat jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan perekonomian. Tanpa pertumbuhan yang memadai, kesempatan kerja dan kemampuan negara membiayai pelayanan publik juga sulit berkembang. Namun, angka pertumbuhan tidak otomatis menunjukkan bagaimana tambahan pendapatan itu dibagikan.
Produk domestik bruto dapat tetap meningkat ketika keuntungan sebagian perusahaan naik, investasi sektor padat modal berkembang, atau belanja pemerintah bertambah. Pada saat yang sama, upah riil kelompok pekerja tertentu dapat stagnan, omzet pedagang kecil melemah, dan biaya hidup rumah tangga terasa semakin berat. Kedua kenyataan itu tidak saling meniadakan.
Ada pula perbedaan antara pekerjaan yang tercatat dan pekerjaan yang memberikan penghidupan layak. Seseorang bisa tetap bekerja, tetapi jam kerjanya berkurang atau pendapatannya tidak lagi cukup mengikuti kebutuhan. Pelaku usaha dapat tetap membuka toko, meskipun keuntungan habis untuk sewa, listrik, dan pembayaran kepada pemasok.
Statistik kita mencatat orang yang bekerja paling sedikit 1 jam dalam seminggu terakhir sebagai orang bekerja/tidak menganggur. Sebagai sebuah klasifikasi statistik, hal ini dapat diterima, tetapi ini bukanlah ukuran kelayakan pekerjaan.
Jika hanya melihat status bekerja atau aktivitas produksi, tekanan seperti yang dialami keluarga tadi mudah luput. Padahal, di sanalah daya tahan kelas menengah dan kelompok rentan sedang diuji. Pertumbuhan yang berkualitas harus memperhatikan bukan hanya jumlah aktivitas ekonomi, melainkan juga daya beli dan kehidupan layak yang dihasilkannya.
Di sinilah seorang ekonom perlu membedakan pertumbuhan agregat dari transmisi pertumbuhan menjadi kesejahteraan. Pertanyaannya bukan sekadar seberapa besar ekonomi bertambah, melainkan melalui saluran apa pertumbuhan tersebut menjadi pekerjaan yang layak, pendapatan riil, dan kemampuan keluarga membiayai hidupnya.
Pengalaman pribadi tentu bukan pengganti survei nasional. Keluhan yang saya dengar dari pekerja, pedagang, dan pelaku usaha tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat memburuk. Tetapi statistik nasional pun tidak boleh dipakai untuk membatalkan kesulitan yang benar-benar dialami sebagian warga. Justru perbedaan antara keduanya menuntut penyelidikan yang lebih serius. Di sinilah keterampilan para ahli harus dipergunakan dengan bijaksana.
Ketika Kesempatan Bergantung pada Akses
Salah satu pertanyaan penting adalah apakah pertumbuhan membuka kesempatan yang luas atau justru terkonsentrasi pada jaringan penerima belanja negara. Program besar seperti Makan Bergizi Gratis menciptakan permintaan bagi pengelola dapur, pemasok, dan berbagai kegiatan pendukung. Akan tetapi, besarnya perputaran anggaran belum dengan sendirinya membuktikan bahwa kesempatan memperoleh manfaat tersebar secara adil.
Siapa yang dapat masuk ke rantai pasok? Bagaimana pemasok dipilih? Apakah usaha kecil tanpa hubungan dengan pengambil keputusan mempunyai peluang yang setara? Pertanyaan ini bukan tuduhan bahwa setiap penerima kontrak memperoleh keuntungan karena kedekatan politik. Ini tuntutan agar penggunaan uang publik menghasilkan persaingan terbuka dan manfaat yang dapat diperiksa.
Kita perlu mewaspadai perekonomian yang membuat kedekatan dengan sumber anggaran negara menjadi lebih menentukan keberhasilan usaha daripada produktivitas, inovasi, dan kemampuan menciptakan nilai tambah. Negara memang harus hadir dalam perekonomian, tetapi kehadirannya semestinya memperluas pasar dan kesempatan, bukan menciptakan lingkaran penerima manfaat yang semakin tertutup.
Ketika Pertumbuhan Tidak Sampai ke Rumah Tangga
Persoalan pertumbuhan yang tidak menjangkau kehidupan rumah tangga bukan semata-mata masalah pemerataan. Ia juga menyimpan risiko bagi keberlanjutan perekonomian itu sendiri.
Ketika tambahan nilai tambah ekonomi tidak diikuti peningkatan pendapatan riil masyarakat secara luas, kemampuan konsumsi menjadi terbatas. Rumah tangga mulai mengurangi belanja, menunda kebutuhan, atau menggunakan tabungan dan utang untuk mempertahankan kehidupan.
Pada tahap berikutnya, tekanan tersebut dapat menjalar kepada pelaku usaha melalui penurunan permintaan, tertundanya investasi, dan semakin terbatasnya penciptaan lapangan kerja. Dengan kata lain, pertumbuhan yang tidak terdistribusi secara memadai berisiko melemahkan salah satu sumber pertumbuhan berikutnya.
Lebih jauh, tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat mengubah persoalan pendapatan menjadi persoalan sosial. Pendidikan anak dikorbankan, aset keluarga dijual, dan hubungan rumah tangga menghadapi tekanan yang semakin berat. Ketika keadaan ini berlangsung luas, kita bukan hanya menghadapi persoalan daya beli, melainkan juga risiko melemahnya kualitas sumber daya manusia dan mobilitas sosial antargenerasi.
Jadi, pertumbuhan yang tidak sampai ke rumah tangga bukan hanya gagal memperbaiki kehidupan hari ini, tetapi juga berisiko menggerus fondasi pertumbuhan ekonomi esok hari.
Neraca Kehidupan Rumah Tangga
Karena itu, saya mengusulkan agar setiap rilis pertumbuhan ekonomi diikuti pembacaan yang lebih dekat dengan kehidupan warga: semacam Neraca Kehidupan Rumah Tangga. Bukan untuk menggantikan PDB atau menciptakan angka tandingan, melainkan untuk menyandingkan pertumbuhan dengan perubahan kemampuan ekonomi keluarga.
Di dalamnya, pemerintah dapat menampilkan perkembangan upah dan pendapatan riil menurut kelompok, kualitas pekerjaan, keuntungan usaha kecil, beban pengeluaran pokok, serta kemampuan rumah tangga menyisihkan pendapatan setelah membayar kebutuhan rutin dan cicilan. Sebagian datanya telah tersedia, sebagian lainnya memerlukan penguatan survei dan penyajian yang konsisten.
Lebih jauh, setiap program besar sepatutnya diuji melalui peta penerima manfaat: berapa banyak nilai tambah yang tercipta, siapa memperoleh kesejahteraan, wilayah mana mendapat peluang usaha, dan kelompok mana yang tertinggal. Ukuran ini akan membantu pemerintah memperbaiki desain kebijakan, bukan sekadar mempertahankan klaim keberhasilan.
Sebab keberhasilan ekonomi tidak cukup dibuktikan oleh bertambahnya nilai produksi nasional, tetapi juga oleh semakin banyaknya keluarga yang memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, dan merencanakan masa depan.
Untuk Apa Kita Bertumbuh?
Ketika angka pertumbuhan diumumkan nanti, para ekonom tentu akan menelaah konsumsi, investasi, ekspor, dan sektor-sektor penyumbangnya. Itu penting. Tetapi setelah konferensi pers selesai, keluarga dalam cerita tadi masih harus menentukan tagihan mana yang dibayar terlebih dahulu.
Mereka tidak sedang meminta angka statistik diubah agar sesuai dengan perasaannya. Mereka berharap pertumbuhan yang benar-benar terjadi suatu hari sampai juga ke meja makan, ruang kelas anaknya, dan ketenangan rumah tangganya.
Ekonomi harus tumbuh. Namun, pertumbuhan kehilangan makna sosialnya apabila tambahan kemakmuran hanya berputar pada segelintir kelompok sementara banyak keluarga terus berjuang sekadar mempertahankan kehidupan. Maka, sebelum merayakan angka berikutnya, mari bertanya dengan lebih sungguh-sungguh: ekonomi Indonesia sedang tumbuh, tetapi untuk siapa?
(miq/miq)
Leave a comment