Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin resmi masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Nama pria yang akrab disapa BGS itu tercantum sebagai salah satu dari empat kandidat prospektif yang akan bersaing memperebutkan posisi tertinggi di badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.
Berdasarkan laman resmi WHO dikutip Senin (24/8/2026), BGS diajukan oleh Indonesia sebagai calon Direktur Jenderal WHO. Ia bersaing dengan Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang diusulkan Belgia.
WHO menyebut nama-nama tersebut masih berstatus prospective candidates atau kandidat prospektif. Daftar dan status pencalonan akan diperbarui setelah WHO secara resmi mempublikasikan seluruh kandidat dan proposal pencalonannya.
Masuknya nama BGS menjadi sorotan karena latar belakangnya berbeda dibandingkan kebanyakan pemimpin WHO. Budi bukan dokter maupun profesional kesehatan masyarakat, melainkan memiliki latar belakang pendidikan fisika nuklir dan karier panjang di sektor perbankan serta korporasi.
BGS mulai menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada Desember 2020 dan memimpin Kementerian Kesehatan ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Sebelum masuk pemerintahan, ia pernah menduduki sejumlah posisi penting di dunia usaha.
BGS pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri mulai 2013. Ia kemudian memimpin perusahaan induk pertambangan milik negara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebelum akhirnya masuk ke pemerintahan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberi pemaparan saat Konferensi pers terkait RAPBN & Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
|
Meski latar belakang nonmedis dinilai sebagian pengamat dapat menjadi tantangan, pengalaman BGS di bidang keuangan juga dinilai bisa menjadi modal penting. Terlebih, WHO saat ini tengah menghadapi tekanan pendanaan yang cukup besar.
BGS juga memiliki rekam jejak dalam diplomasi kesehatan global. Ia merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam pembentukan Pandemic Fund, mekanisme pendanaan global yang diluncurkan dalam rangkaian Presidensi G20 Indonesia di Bali pada 2022 dan dikelola melalui Bank Dunia.
Indonesia pada Juli lalu juga memberikan tambahan kontribusi sukarela sekitar US$30 juta kepada WHO untuk membantu menutup kekurangan pendanaan organisasi tersebut.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya menyampaikan apresiasi kepada Budi setelah kontribusi tersebut diberikan. Namun, Tedros hingga kini belum secara terbuka memberikan dukungan kepada kandidat mana pun untuk menggantikannya.
Pencalonan BGS membuat jumlah kandidat prospektif Direktur Jenderal WHO sejauh ini menjadi empat orang. Nama-nama tersebut sejauh ini dipandang sebagai kandidat awal dalam pemilihan Direktur Jenderal WHO yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027 di Jenewa, Swiss.
Namun, peta persaingan masih dapat berubah. Negara-negara anggota masih memiliki waktu untuk mengajukan kandidat lain hingga batas pencalonan pada 24 September 2026. Pemilihan kali ini berlangsung ketika WHO tengah menghadapi perubahan besar. Mundurnya Amerika Serikat dari organisasi tersebut menyebabkan tekanan terhadap pendanaan dan memaksa WHO melakukan berbagai langkah penghematan.
Krisis pendanaan itu antara lain berujung pada pengurangan jumlah staf sekitar 25% dalam setahun terakhir. Sejumlah pejabat senior WHO juga meninggalkan organisasi, termasuk dokter dan peneliti asal Inggris Jeremy Farrar. Negara-negara anggota WHO nantinya akan memilih Direktur Jenderal baru dalam World Health Assembly ke-80. Kandidat terpilih dijadwalkan mulai menjabat pada 16 Agustus 2027, setelah masa jabatan Tedros berakhir.
(wur/wur)

Leave a comment