
Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas mata uang Asia menguat pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (14/8/2026). Namun, bila dihitung dalam sepekan, mayoritas melemah.
Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berhasil membalikkan tekanan pada awal perdagangan, seiring dolar AS yang melemah di pasar global.
Mengacu data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Jumat (14/8/2026) ditutup menguat 0,22% ke level Rp17.820/US$. Penguatan ini menjadi yang kedua secara beruntun setelah sehari sebelumnya rupiah naik tipis 0,03%.
Dalam sepekan, rupiah mencatat penguatan 0,36%. Pada akhir pekan sebelumnya, rupiah masih berada di level Rp17.885/US$.
Dolar AS Tertekan, Mata Uang Asia Perkasa
Indeks dolar melandai ke 99,67 atau terlemah dalam enam hari pada perdagangan Jumat.
Pelemahan ini menjadi katalis positif untuk mata uang Asia. Mayoritas mata uang Asia menguat pada perdagangan Jumat.
Dolar Taiwan dan rupiah menjadi yang terdepan. Hanya Peso Filipina yang melemah,
Dolar melemah setelah data inflasi AS mendingin.
Data Producer Price Index (PPI) AS menjadi salah satu katalis utama. PPI pada Juli 2026 tercatat tidak berubah secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,2%. Sebelumnya, PPI pada Juni tercatat turun 0,1%.
Data tersebut memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda dan mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September.
Sebelumnya, data inflasi konsumen AS juga menunjukkan kenaikan harga yang relatif terbatas pada Juli. Inflasi tahunan maupun inflasi inti turut melandai.
Kombinasi data tersebut membuat pasar kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan hanya 35%, turun dari 40% pada Rabu dan 55% sepekan sebelumnya.
Ekspektasi kenaikan suku bunga yang semakin rendah membuat imbal hasil aset AS kurang menarik dan menekan dolar. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Mayoritas Mata Uang Asia Masih Melemah dalam Sepekan
Dolar AS yang lebih lemah memberikan angin segar bagi mata uang Asia, yang sebelumnya berada di bawah tekanan akibat penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi AS.
Namun, dalam sepekan, banyak dari mata uang Asia yang melemah.
Dolar Taiwan memimpin dengan penguatan 0,72% disusul dengan rupiah.
Sebaliknya, mata uang Peso, won, hingga rupee masih melemah dalam sepekan.
Dengan melemahnya indeks dolar, bank sentral di kawasan Asia kini berpotensi lebih leluasa dalam mengelola kebijakan moneter masing-masing, seiring menurunnya risiko arus modal keluar dan depresiasi mata uang.
Namun, para analis mengingatkan bahwa langkah The Fed selanjutnya masih sangat bergantung pada data ekonomi. Jika inflasi kembali meningkat, tren saat ini dapat dengan cepat berbalik.
.
Peso Filipina Tembus 61/Dolar, Harga Minyak Jadi Biang Kerok
Peso Filipina kembali melemah ke level 61,26 per dolar AS, turun 55,5 centavos dari posisi sebelumnya. Pelemahan terjadi saat harga minyak Brent mendekati US$90 per barel setelah negosiasi AS-Iran kembali menemui jalan buntu.
Sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan Filipina terhadap dolar AS dan menekan peso. Harga Brent sendiri naik sekitar 5% dalam dua hari.
Ekonom Union Bank of the Philippines Ruben Carlo O. Asuncion menilai pelemahan peso lebih banyak dipicu faktor global, seperti kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, dan lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah.
Kepala Ekonom Union Bank of the Philippines (UBP) Ruben Carlo O. Asuncion menilai pelemahan peso kali ini lebih banyak dipicu faktor eksternal dibandingkan kondisi domestik.
“Kenaikan imbal hasil US Treasury, dolar AS yang lebih kuat, serta lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kemungkinan membebani mata uang negara berkembang, termasuk peso,” ujarnya kepada Reuters.
Selama harga Brent bertahan di sekitar US$90 per barel dan imbal hasil US Treasury tetap tinggi, peso diperkirakan masih menghadapi tekanan.
Ke depan, pergerakan peso akan sangat bergantung pada data inflasi AS, ekspektasi kebijakan The Fed, harga minyak, dan perkembangan geopolitik. Pelemahan berkepanjangan juga berisiko meningkatkan inflasi impor Filipina.
MUFG Peringatkan Mata Uang ASEAN Masih Rentan
MUFG Bank memperingatkan mata uang negara-negara ASEAN semakin rentan terhadap kombinasi pelemahan data ekonomi regional dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan.
Dalam catatan terbaru kepada klien, MUFG melihat prospek pasar valuta asing (valas) ASEAN masih penuh kehati-hatian. Investor kini mencermati dampak data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, di tengah perubahan arah kebijakan moneter global.
MUFG mencatat sejumlah data ekonomi terbaru di kawasan ASEAN berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan ekonomi negara-negara Asia Tenggara.
Bank tersebut secara khusus menyoroti perlambatan aktivitas manufaktur dan permintaan ekspor, yang menjadi mesin pertumbuhan penting bagi banyak negara ASEAN.
Pelemahan tersebut, ditambah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global, menjadi tekanan tambahan bagi mata uang regional.
Di saat yang sama, bank sentral ASEAN harus menghadapi dilema antara mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga stabilitas mata uang.
Sikap The Fed yang diperkirakan tetap ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya turut memperlebar perbedaan suku bunga antara AS dan negara-negara ASEAN. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan depresiasi terhadap mata uang regional.
Menurut MUFG, pelaku pasar kini cenderung mengambil posisi lebih hati-hati di pasar valas. Investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk mata uang ASEAN, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Seberapa jauh pelemahan mata uang ASEAN akan berlanjut sangat bergantung pada data ekonomi berikutnya serta respons kebijakan bank sentral masing-masing negara.
Jika data ekonomi terus mengecewakan, MUFG menilai bank sentral kemungkinan harus melakukan intervensi di pasar valas untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Meski demikian, intervensi biasanya memiliki dampak jangka panjang yang terbatas jika tidak didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat.
Bagi investor, analisis MUFG menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih selektif dalam mengalokasikan modal di pasar ASEAN.
Perbedaan fundamental ekonomi antarnegara membuat kinerja mata uang di kawasan tersebut kemungkinan tidak akan seragam.
Bagi dunia usaha, kondisi ini juga menegaskan pentingnya strategi lindung nilai (hedging) untuk mengelola risiko nilai tukar, terutama bagi perusahaan yang memiliki transaksi lintas negara dalam jumlah besar.
Kekhawatiran pertumbuhan juga tidak merata di seluruh ASEAN. Beberapa negara, seperti Vietnam, masih menunjukkan ketahanan ekonomi, sementara negara lainnya lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Perbedaan fundamental tersebut menjadi faktor penting bagi investor dalam menilai dampaknya terhadap portofolio maupun operasional bisnis.
(mae/mae)
Leave a comment