Jakarta, CNBC Indonesia – Program pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk menyediakan lebih dari 100.000 kendaraan bagi desa-desa di seluruh Indonesia mulai memberikan dampak besar terhadap industri kendaraan niaga. Sejumlah produsen truk, mulai dari Mitsubishi Fuso, Hino Motors hingga Tata Motors, menikmati lonjakan pesanan dan meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan.
Mitsubishi Fuso Truck and Bus, misalnya, mulai Juli ini mengubah pola operasional pabriknya di Jakarta dari satu menjadi dua shift. Langkah tersebut dilakukan untuk menggandakan kapasitas produksi bulanan dari sekitar 3.500 unit. Perusahaan juga merekrut ratusan pekerja kontrak guna mengejar target produksi.
Mitsubishi Fuso masih menjadi pemimpin pasar kendaraan niaga di Indonesia. Pada periode Januari-Juni 2026, penjualannya mencapai sekitar 17.500 unit atau melonjak sekitar 53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan tersebut salah satunya ditopang pesanan besar dari PT Agrinas Pangan Nusantara. Badan usaha milik negara di sektor pangan itu memesan sekitar 20.000 unit truk ringan Canter pada awal tahun ini. Jumlah tersebut hampir menyamai total penjualan Mitsubishi Fuso di Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 25.000 unit.
Direktur pemasaran salah satu perusahaan penjualan Mitsubishi Fuso di Indonesia mengatakan pihaknya kini mengoperasikan pabrik dengan kapasitas penuh demi memenuhi tenggat pengiriman.
“Kami mengoperasikan pabrik pada kapasitas penuh untuk memenuhi tenggat pengiriman hingga akhir 2026,” ujarnya dilansir dari Nikkei Asia.
Produsen asal Jepang lainnya, Hino Motors, juga memperoleh pesanan sebanyak 10.000 unit truk ringan Hino 300 Series dari Agrinas. Jumlah itu setara lebih dari separuh total penjualan Hino di Indonesia pada 2025 yang mencapai sekitar 18.000 unit. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Hino juga menambah jumlah tenaga kerja sekaligus mempercepat proses produksi.
Meningkatnya pesanan kendaraan niaga tidak lepas dari program pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembentukan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia. Program tersebut bertujuan menyediakan bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Selain memperkuat distribusi kebutuhan pokok, program itu juga mencakup peningkatan sistem logistik guna menghidupkan kembali sektor pertanian dan perikanan di daerah. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp80 triliun dari APBN untuk menjalankan program tersebut pada 2026.
Dalam pelaksanaannya, Agrinas Pangan Nusantara menjadi pelaksana operasional program. Perusahaan berencana mengadakan 80.000 kendaraan niaga dan 70.000 pikap untuk mendukung distribusi hasil pertanian dan berbagai komoditas lainnya. Total pengadaan sebanyak 150.000 kendaraan itu hampir menyamai total penjualan kendaraan niaga dan pikap baru di Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 170.000 unit.
Meski demikian, program tersebut juga menuai kritik karena dinilai kurang melibatkan produsen otomotif yang memiliki fasilitas produksi di dalam negeri.
Produsen asal India, Tata Motors dan Mahindra & Mahindra, yang belum memiliki pabrik truk di Indonesia, masing-masing memperoleh pesanan 35.000 unit kendaraan pikap. Tata Motors juga mendapatkan pesanan tambahan sebanyak 35.000 unit kendaraan niaga ringan.
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Mota sebelumnya mengatakan pengadaan kendaraan dari India dilakukan karena dapat menekan biaya. Namun, hingga kini belum jelas bagaimana pemerintah akan mengatur sistem inspeksi maupun perawatan terhadap kendaraan impor tersebut.
Di sisi lain, kondisi pasar otomotif nasional secara umum masih menghadapi tantangan. Penjualan kendaraan baru di Indonesia, baik kendaraan penumpang maupun kendaraan niaga, terus mengalami penurunan dibandingkan satu dekade lalu.
Dari puncaknya sekitar 1,2 juta unit pada 2013, penjualan kendaraan baru turun menjadi sekitar 800.000 unit pada 2025 seiring melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah. Kondisi tersebut juga membuat Indonesia kehilangan status sebagai pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara setelah disalip Malaysia.
Selama beberapa tahun terakhir, pelaku industri otomotif terus meminta pemerintah mengambil langkah untuk mendorong pemulihan pasar. Namun, sejumlah pihak menilai berbagai kebijakan yang telah diterapkan belum cukup efektif dalam meningkatkan permintaan kendaraan.
Salah satu eksekutif produsen kendaraan niaga asal Jepang menilai lonjakan permintaan saat ini belum mencerminkan pemulihan pasar secara menyeluruh.
“Meskipun permintaan meningkat, itu hanya terjadi pada tahun ini. Kondisi pasar belum bisa membuat kami optimistis,” katanya.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment