
Jakarta, CNBC Indonesia – Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bersiap menggelar pertemuan darurat para kepala staf militer untuk membahas bentuk dukungan terhadap Riyadh di tengah meningkatnya serangan dari kelompok Houthi di Yaman.
Rencana tersebut diumumkan setelah Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud bertemu dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di New York pada Kamis (24/9/2026) waktu setempat.
Saudi Press Agency melaporkan ketiga negara sepakat membahas dukungan bagi Arab Saudi melalui mekanisme yang dibentuk berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah. Namun, pernyataan bersama itu belum menjelaskan kapan para kepala staf militer ketiga negara akan bertemu maupun bentuk bantuan yang nantinya akan dipertimbangkan.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sebelumnya menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus. Kesepakatan tersebut dirancang untuk memperkuat pencegahan kolektif sekaligus memperluas kerja sama pertahanan di antara ketiga negara.
Dalam perjanjian itu ditegaskan bahwa serangan terhadap salah satu dari ketiganya akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, sehingga kerap mendapat julukan “NATO Islam”.
Sejak kesepakatan diteken, ketiga negara mulai membangun mekanisme kerja sama yang disepakati. Menteri luar negeri, menteri pertahanan, serta para kepala staf militer Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sebelumnya bertemu di Istanbul pada 31 Agustus dalam pertemuan pertama Komite Politik dan Pertahanan Strategis.
Dalam pertemuan tersebut, mereka menyepakati pembentukan sekretariat di Arab Saudi serta peningkatan kerja sama militer.
Pertemuan para menteri luar negeri pada Kamis juga mengecam serangan yang menyasar Makkah, serta fasilitas sipil dan ekonomi di Arab Saudi. Ketiga negara sekaligus menegaskan hak Riyadh untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Langkah diplomatik itu berlangsung ketika Arab Saudi kembali menghadapi serangkaian serangan dari wilayah Yaman.
Arab Saudi mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan ke arah Taif dan Yanbu pada Kamis.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dari Houthi akan “ditangani dengan tegas”. Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi sebelumnya mengeluarkan peringatan di sejumlah wilayah, sebelum kemudian menyatakan situasi telah kembali aman.
Di sisi lain, Houthi mengeklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sebuah “target sensitif” di Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu.
Dukungan terhadap Arab Saudi juga datang dari Prancis. Presiden Emmanuel Macron mengatakan Paris akan mengirim aset militer untuk membantu melindungi Yanbu.
“Kami akan mengirim aset militer, yang berarti tentara, radar, dan sistem pertahanan untuk melindungi lokasi ini,” kata Macron dalam wawancara dengan TF1 pada Kamis.
Pertempuran Yaman Makin Sengit
Eskalasi serangan lintas perbatasan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya pertempuran di dalam wilayah Yaman. Konflik di sejumlah front dilaporkan menjadi salah satu yang paling mematikan sejak permusuhan kembali meningkat.
Menurut penghitungan kantor berita AFP, sedikitnya 150 pejuang Houthi dan anggota pasukan yang bersekutu dengan pemerintah tewas dalam pertempuran selama 24 jam hingga Jumat.
Korban tersebut terdiri dari 98 pejuang dari pihak pemerintah dan 52 anggota Houthi. Pertempuran dilaporkan terjadi di sekitar Pegunungan Kahboub serta wilayah antara Lahj dan Taiz yang menghadap ke Selat Bab al-Mandeb.
Pada saat yang sama, Houthi memperluas keberadaannya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Kelompok tersebut dilaporkan telah menguasai kota pelabuhan Mocha dan sejumlah pulau strategis.
Perluasan wilayah itu memperkuat posisi Houthi di sekitar Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sekitar 12% perdagangan global biasanya melewati jalur tersebut.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional kini mendesak keterlibatan masyarakat internasional yang lebih besar. Dalam sidang Majelis Umum PBB, pemerintah memperingatkan bahwa penguasaan Houthi di sekitar selat tersebut dapat menimbulkan risiko ekonomi yang lebih luas.
Wakil Presiden Yaman Abdullah Abdulkader Al Alimi-Bawzer menuduh Houthi memanfaatkan kebebasan navigasi sebagai alat tekanan. Menurut dia, tindakan kelompok tersebut telah “menyandera seluruh perekonomian global”.
Pertempuran yang kembali berkobar juga memicu gelombang pengungsian besar. Badan PBB untuk pengungsi, UNHCR, memperkirakan lebih dari 230.000 orang telah meninggalkan rumah mereka sejak awal September karena bentrokan menyebar di berbagai garis depan.
Jumlah tersebut menambah sekitar 5,2 juta orang yang sebelumnya sudah menjadi pengungsi internal di berbagai wilayah Yaman.
UNHCR menyebut keluarga-keluarga terdampak tersebar di sejumlah provinsi, termasuk Hodeidah, Taiz, Lahj, Aden, Abyan, Marib, al-Dhalea, dan Shabwah. Banyak dari mereka terpaksa melarikan diri dalam waktu singkat dengan hanya membawa sedikit barang.
Kebutuhan paling mendesak saat ini meliputi tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan. Sementara itu, masyarakat yang menjadi tempat tujuan para pengungsi serta lokasi-lokasi penampungan juga semakin terbebani oleh meningkatnya jumlah pendatang.
(luc/luc)
Leave a comment