
Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan menggunakan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB pada Kamis (24/9/2026) waktu setempat untuk menyerang Wali Kota New York Zohran Mamdani. Perseteruan sengit ini makin menyoroti isolasi diplomatik pemimpin Israel tersebut menjelang pemilihan umum di dalam negerinya yang berpotensi mengakhiri kekuasaannya.
Mengutip Reuters, Kamis (24/09/2026), Netanyahu minggu ini merilis sebuah pernyataan video yang secara langsung menyatakan bahwa ia datang ke New York untuk mengungkap kebenaran tentang Mamdani. Ia secara keliru menuduh Mamdani telah mendukung militan Hamas.
Tudingan ini merupakan balasan atas sikap sang wali kota yang sebelumnya menyebut Netanyahu sebagai arsitek genosida mengerikan terhadap warga Palestina.
Mamdani bahkan pernah berkampanye dengan janji untuk menangkap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang jika ia mengunjungi kota terbesar di AS tersebut, meski belakangan ia mengakui tidak memiliki wewenang hukum untuk melakukannya.
Di saat yang bersamaan, warga Israel yang menentang pemerintahan sayap kanan Netanyahu juga tengah merencanakan aksi protes besar-besaran untuk menyambut kunjungan pertamanya sejak Mamdani menjabat pada Januari lalu.
Pidato Kampanye & Absennya Trump
Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa pemilihan umum Israel yang akan digelar lima minggu lagi, tepatnya pada 27 Oktober, berpotensi menggulingkan Netanyahu. Oleh karena itu, pidatonya di PBB dinilai tak lebih dari sekadar alat kampanye politik di tengah meningkatnya kritik atas perang Gaza.
“Ia tidak benar-benar berbicara kepada PBB, ia berbicara kepada publik Israel,” ungkap mantan Duta Besar Israel Michael Oren.
“Mungkin ia berpikir, ‘Jika saya dapat menyerang Mamdani dan menyerang pihak Iran, seseorang yang bimbang antara memilih saya dan memilih Gadi Eisenkot mungkin memutuskan untuk memilih saya’,” papar Oren, merujuk pada mantan kepala militer yang kini menjadi pesaing utama Netanyahu.
Kunjungan Netanyahu ke AS kali ini terbilang sangat singkat. Ia dijadwalkan tiba pada Kamis pagi dan langsung terbang kembali ke Israel pada sore harinya setelah berpidato. Kantor perdana menteri mengonfirmasi bahwa ia hanya akan bertemu dengan para pemimpin dari Argentina, Bolivia, Paraguay, Panama, Ethiopia, Kolombia, Yunani, Slovenia, dan Papua Nugini.
Secara mengejutkan, Netanyahu dipastikan tidak akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Meskipun keduanya bersama-sama melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu, hubungan mereka kini memanas setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara yang ditentang keras oleh Israel.
Banyak warga Israel marah dengan kesepakatan itu dan mulai mempertanyakan komitmen Trump, meskipun pemerintahannya masih terus memproses penjualan senjata senilai miliaran dolar AS ke Israel.
Presiden wadah pemikir Mitvim, Nimrod Goren, menilai absennya pertemuan ini akan menjadi pukulan telak.
“Kurangnya pertemuan dengan presiden, sebulan sebelum pemilihan umum Israel, akan menunjukkan bahwa Trump menjaga jarak darinya dan akan berdampak negatif bagi kampanye Netanyahu,” tegasnya.
Goren memprediksi pidato Netanyahu nanti hanya akan mengulang naskah lama dengan membela Israel, menyerang kritikus, memperingatkan ancaman nuklir Iran, dan membanggakan kedekatannya dengan Trump.
Semua ini terjadi di tengah isolasi diplomatik Israel yang kian parah. Selain tak bisa bepergian ke banyak negara akibat surat perintah penangkapan dari Pengadilan Pidana Internasional (ICC), sekutu setia Israel seperti Inggris, Prancis, dan Kanada baru-baru ini juga telah menjatuhkan sanksi yang menargetkan permukiman Israel di Tepi Barat.
(luc/luc)
Leave a comment