
Jakarta, CNBC Indonesia – Nigeria mendapatkan berkah windfall jumbo dari gejolak harga minyak dunia.
Pada periode Januari-September 2026, Nigeria memproduksi 402,86 juta barel minyak mentah. turun 7,48 juta barel dibandingkan 457,65 juta barel yang diproduksi pada periode yang sama tahun lalu.
Dengan mengacu pada harga minyak acuan Bonny Light, nilai bruto produksi tersebut diperkirakan mencapai ₦52,12 triliun atau sekitar US$39,15 miliar atau sekitar Rp 697,8 triliun (US$1= Rp 17.825)).
Sebagai perbandingan, produksi minyak mentah Nigeria sepanjang 2025 mencapau 530,41 juta barel dengan nilai ₦55.5 trillion atau sekitar US$38,23 miliar pada kurs akkhir 2025.
Artinya, secara nilai, produksi sembilan bulan tahun ini sudah melampaui pencapaian sepanjang tahun lalu.
Nilai Januari-September 2026 merupakan estimasi bruto produksi seluruh produsen minyak, sebelum dikurangi biaya produksi, pajak, royalti, alokasi domestik, dan berbagai potongan lainnya.
Perhitungan yang mengacu pada data Central Bank of Nigeria (CBN) tersebut mencakup minyak mentah (crude oil), tidak termasuk kondensat dan gas. Estimasi nilai produksi dihitung berdasarkan volume produksi bulanan dan harga Bonny Light, dengan kurs ₦1.331 per dolar AS.
Dari sisi volume, produksi tertinggi terjadi pada Mei 2026, mencapai 47,43 juta barel. Sebaliknya, Februari menjadi periode terendah dengan produksi 36,68 juta barel.
Menariknya, volume produksi tertinggi tidak otomatis menghasilkan nilai produksi terbesar. April justru mencatat nilai produksi tertinggi, yakni sekitar US$5,66 miliar, ketika harga Bonny Light mencapai US$126,71 per barel.
Sebaliknya, nilai produksi Februari menjadi yang terendah, sekitar US$2,65 miliar. Data ini menunjukkan bahwa nilai produksi minyak tidak hanya bergantung pada volume yang dihasilkan, tetapi juga pada fluktuasi harga minyak dunia.
Sebagai catatan, harga minyak brent terbang 82% sementara WTI meonjak 75% sepanjang 2026. Lonjakan harga dipicu meletusnya perang Iran di akhir Februari 2026 serta ditutupnya Selat Hormuz.
Indonesia Impor 4,6 Juta Ton Minyak Mentah dari Nigeria
Minyak Nigeria mengalir ke banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nigeria menyumbang 24,91% dari total impor minyak mentah Indonesia pada Januari-Juni 2026.
Posisi berikutnya ditempati Angola dengan pangsa 15,41% dan Arab Saudi sebesar 13,62%.
Secara keseluruhan, nilai impor minyak mentah Indonesia mencapai US$16,16 miliar pada semester I-2026. Sementara itu, impor hasil minyak tercatat sebesar US$5,85 miliar.
Nilai impor minyak mentah tersebut melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika Indonesia mengimpor minyak mentah senilai US$4,18 miliar dengan volume 7,74 juta ton.
Besarnya ketergantungan terhadap impor minyak mentah membuat dinamika produksi dan harga minyak global menjadi faktor penting bagi ketahanan energi Indonesia. Di tengah volatilitas harga, perubahan harga minyak tidak hanya memengaruhi nilai perdagangan, tetapi juga berpotensi menekan biaya impor energi nasional.
(mae/mae)
Leave a comment