
Jakarta, CNBC Indonesia – Program asuransi kesehatan Amerika Serikat (AS), Obamacare, mulai kehilangan pesonanya. Jumlah warga yang membeli asuransi melalui bursa kesehatan pemerintah turun menjadi 19,2 juta orang pada 2026, dari 21,8 juta orang setahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi setelah subsidi tambahan yang selama ini membantu masyarakat membayar premi dikurangi. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan jumlah peserta di bursa kesehatan dapat turun di bawah 17 juta orang pada akhir tahun ini.
Masalahnya bukan sekadar jumlah peserta yang menyusut. Mereka yang keluar dari pasar asuransi cenderung lebih sehat, sehingga kelompok yang tersisa menjadi lebih mahal untuk ditanggung. Premi rata-rata pun melonjak dari US$113 atau Rp 2.017.050 menjadi US$178 atau Rp 3.177.300 per bulan.
Obamacare Mulai Kehilangan Peserta
Obamacare atau Affordable Care Act (ACA) disahkan pada 2010 untuk memperluas akses asuransi kesehatan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah yang tidak memperoleh perlindungan dari pekerjaan.
Salah satu instrumen utamanya adalah subsidi bagi masyarakat yang membeli asuransi melalui health insurance exchanges. Namun, kewajiban membeli asuransi secara efektif dihapus pada 2019.
Jumlah peserta kemudian kembali melonjak setelah Kongres AS meningkatkan subsidi pada 2021. Kebijakan tersebut membuat pendaftaran hampir dua kali lipat hingga 2025.
Demokrat sempat berupaya mempertahankan bantuan tambahan tersebut. Namun, perpanjangan subsidi yang diperkirakan membutuhkan biaya sekitar US$35 miliar tahun ini akhirnya tidak berlanjut.
CBO memperkirakan jumlah peserta di marketplace dapat turun hingga 10 juta orang pada 2028 dibandingkan tahun lalu.
Premi Naik, Perlindungan Menyusut
Persoalan berikutnya muncul dari komposisi peserta.
Mereka yang meninggalkan bursa asuransi cenderung merupakan orang-orang yang lebih sehat. Artinya, perusahaan asuransi kini menghadapi kelompok peserta yang rata-rata membutuhkan biaya perawatan lebih besar.
Ketika jumlah peserta sehat menyusut, premi ikut terdorong naik. Rata-rata pembayaran bulanan tahun ini meningkat menjadi US$178, dari US$113 sebelumnya.
Sebagian peserta mencoba menghindari biaya tersebut dengan memilih paket asuransi yang lebih murah. Konsekuensinya, biaya yang harus mereka keluarkan sendiri sebelum asuransi mulai menanggung pengobatan ikut meningkat hampir 40% menjadi sekitar US$3.800.
Semakin banyak orang sehat yang memilih keluar, biaya rata-rata kelompok yang tersisa kembali meningkat.
Siklus tersebut dikenal sebagai adverse selection.
Tahun Depan Bisa Makin Berat
Menurut KFF, lembaga pemikir kebijakan kesehatan, perusahaan asuransi mengusulkan kenaikan premi median sebesar 15% untuk 2027. Jika terealisasi, premi sebelum subsidi akan meningkat lebih dari sepertiga dibandingkan 2025.
KFF memberi gambaran seorang perempuan berusia 40 tahun di Indiana dengan pendapatan US$65.000 per tahun. Pada 2025, premi bulanannya setelah subsidi mencapai US$316.
Tahun ini angkanya naik menjadi US$477. Tahun depan, nilainya diperkirakan mendekati US$550.
Obamacare Tak Akan Langsung Runtuh
Meski tekanan meningkat, marketplace diperkirakan tidak akan langsung kolaps.
Ben Sommers, ekonom kesehatan dari Harvard, mengatakan subsidi yang masih tersisa kemungkinan cukup untuk membuat sebagian peserta tetap bertahan.
Menurutnya, perubahan yang terjadi pada dasarnya membawa marketplace kembali mendekati kondisi 2016-2019: jumlah peserta lebih kecil, perusahaan asuransi yang berpartisipasi lebih sedikit, dan peserta yang tersisa cenderung lebih sakit.
CBO memperkirakan pada 2028 akan ada sekitar 10 juta lebih sedikit warga AS yang mendapatkan asuransi melalui marketplace dibandingkan tahun lalu.
Masalahnya, semakin banyak warga yang keluar dari sistem berarti semakin banyak pula orang yang berpotensi tidak memiliki perlindungan kesehatan.
Yang Tak Punya Asuransi Makin Banyak
Dampaknya kemudian bergerak keluar dari pasar asuransi.
Penelitian selama lebih dari satu dekade menunjukkan masyarakat tanpa asuransi cenderung menunda pengobatan yang mereka butuhkan, termasuk membeli obat tertentu atau menjalani operasi.
Rumah sakit tetap harus memberikan layanan darurat meskipun pasien tidak mampu membayar. Akibatnya, beban biaya dapat berpindah ke penyedia layanan kesehatan.
Menurut Kaufman Hall, biaya layanan kesehatan yang tidak dibayar meningkat rata-rata 16% pada Mei dibandingkan setahun sebelumnya.
HCA Healthcare, salah satu kelompok rumah sakit swasta terbesar di AS, memperkirakan bertambahnya pasien tanpa asuransi dapat memangkas sedikitnya US$1 miliar laba operasional perusahaan pada tahun ini. Nilai tersebut setara sekitar 15% dari laba bersih yang diproyeksikan.
Bukan Sekadar Soal Mau atau Tidak
Obamacare sejak awal bukan sistem yang benar-benar universal. Program tersebut dibangun di atas sistem kesehatan AS yang sudah terfragmentasi, dengan sebagian masyarakat memperoleh asuransi dari pekerjaan dan kelompok tertentu dilindungi program pemerintah.
Karena itu, perdebatan mengenai Medicare-for-all kembali menguat di kalangan Demokrat, termasuk dari generasi politisi yang lebih muda seperti Abdul El-Sayed, kandidat Senat dari Michigan.
Namun, data terbaru menunjukkan persoalannya lebih mendasar. Ketika bantuan pemerintah berkurang, sebagian masyarakat tidak sekadar memilih paket yang lebih murah, tetapi memilih keluar dari pasar asuransi.
Cynthia Cox dari KFF merangkum persoalannya dengan sederhana. “Orang pada dasarnya menginginkan asuransi kesehatan. Hanya saja, pertanyaannya adalah apakah mereka mampu membayarnya.”
(mae/mae)
Leave a comment