
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah celah keamanan (flaw) berbahaya baru-baru ini ditemukan pada platform kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) populer, ChatGPT. Celah tersebut memungkinkan peretas (attacker) menjalankan kode jahat di dalam akun pengguna yang sedang aktif (login) hanya melalui sebuah tautan berbagi (share link) palsu.
Laporan yang dirilis oleh perusahaan keamanan siber Parameter menunjukkan bahwa ancaman ini berpotensi membocorkan dan membaca isi percakapan pribadi milik korban tanpa disadari, dikutip dari TheHackerNews, Senin (2/11/2026).
Para peneliti Parameter melaporkan temuan tersebut kepada OpenAI melalui program bug bounty pada 18 Oktober lalu. Merespons laporan tersebut, OpenAI bergerak cepat dan berhasil menutup celah keamanan itu dalam kurun delapan hari, serta memberi label tingkat risiko P1-kategori ancaman paling serius.
Modus peretasan dilakukan melalui percakapan ChatGPT biasa yang dibagikan lewat tautan publik. Tautan jebakan ini dapat disebarkan secara bebas melalui email, aplikasi pesan singkat, tiket dukungan (support ticket), hingga unggahan di media sosial.
Skenario serangan ini terbilang sangat halus. Korban tidak diwajibkan menginstal aplikasi tambahan, bergabung ke ruang kerja (workspace), atau memasukkan kredensial login ke situs peretas.
Pada versi awal serangan, korban hanya perlu membuka tautan dan mengklik tombol Preview sekali. Namun, pada pengujian berikutnya, peneliti mendapati bahwa fitur Preview dapat dipicu secara otomatis begitu tautan dibuka.
Potensi Bahaya dan Pengambilalihan Akun
Begitu tautan berhasil dibuka, kode jahat peretas akan langsung mengeksekusi perintah di dalam sesi akun korban yang sedang aktif dengan hak akses yang sama seperti situs resmi ChatGPT. Kode tersebut mampu memindai daftar obrolan terbaru, membuka percakapan pribadi yang belum pernah dibagikan, lalu mengirimkan sebagian datanya ke server yang dikendalikan peretas.
Karena kode ini memanggil API internal ChatGPT secara langsung-bukan sekadar menyalin apa yang tampil di layar-jangkauannya menjadi sangat luas.
“Pada dasarnya, kami dapat melakukan tindakan apa pun atas nama akun ChatGPT milik korban,” tulis tim peneliti Parameter dalam laporannya.
Meski demikian, pengujian yang dilakukan oleh Parameter bersifat terkontrol. Hingga saat ini, tidak ada indikasi bahwa celah tersebut telah dieksploitasi oleh peretas di dunia nyata, dan pengujian peretasan obrolan pribadi hanya dilakukan di antara akun milik internal peneliti.
Mekanisme Eksploitasi dan Celah Keamanan
Peneliti menjelaskan bahwa kerentanan ini berawal dari fitur Preview di ChatGPT yang berfungsi mengubah blok HTML menjadi halaman web kecil. Secara sistem, halaman Preview tersebut sebenarnya diisolasi dalam ruang terbatas (sandbox) pada domain terpisah.
Namun, peretas memanfaatkan celah dari fitur lain dalam percakapan yang sama, yakni grafik interaktif yang memuat pustaka matematika bernama MathLive. Pemuatan MathLive ini meninggalkan fungsi pemantau (listener) pada halaman utama ChatGPT.
Kelemahan terjadi karena listener MathLive tidak memverifikasi asal pengirim pesan dan mengizinkan masuknya data berbentuk HTML mentah. Alhasil, fitur Preview dapat menembus batasan sandbox dan menyuntikkan HTML peretas ke halaman utama chatgpt.com.
OpenAI Luncurkan Perbaikan Khusus
Pihak OpenAI telah mengonfirmasi temuan tersebut dan langsung meningkatkan status keparahan ancaman dari P2 menjadi P1. Perusahaan mendistribusikan perbaikan pada dua versi tampilan depan (web frontend) ChatGPT untuk menolak pesan yang dimanfaatkan peretas.
Pengguna ChatGPT diimbau tidak perlu khawatir karena perbaikan telah diterapkan sepenuhnya dari sisi server OpenAI. Pengguna tidak perlu menginstal ulang aplikasi maupun menyetel ulang (reset) kata sandi.
Atas temuan celah keamanan kritikal ini, OpenAI memberikan imbalan (bug bounty) sebesar US$5.000 (sekitar Rp90 juta) kepada peneliti Parameter.
(fab/fab)
Leave a comment