
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan intelijen Ukraina dilaporkan mencoba menyusupkan peralatan jebakan peledak ke dalam rantai pasokan militer Rusia. Taktik sabotase ini dilakukan dengan memanfaatkan organisasi sukarelawan yang biasa memasok kebutuhan logistik pasukan.
Mengutip Reuters, Senin (2/11/2026), Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada hari Senin menyatakan telah menggagalkan serangkaian percobaan serangan tersebut. Target utamanya adalah para operator pesawat nirawak (drone) Rusia yang dikirimi headset first-person view (FPV) berisi bahan peledak.
Taktik mematikan ini dinilai sangat mirip dengan operasi intelijen tingkat tinggi Israel di Lebanon pada tahun 2024 lalu. Saat itu, ribuan pager yang dipasangi jebakan peledak berhasil menyusup ke rantai pasokan Hizbullah dan meledak secara massal.
Meskipun memiliki kemiripan, operasi Ukraina yang digambarkan oleh pejabat keamanan Rusia ini berskala jauh lebih kecil. Pada awal tahun 2025 lalu, Kyiv sempat mengklaim bertanggung jawab atas pasokan 80 kacamata drone beraliran peledak kepada pasukan Rusia.
Sumber militer Rusia melaporkan bahwa sejumlah kacamata Skyzone Cobra X V4 telah dipasangi bahan peledak. Insiden tersebut pada akhirnya mengakibatkan cederanya beberapa prajurit yang sedang bertugas.
“Badan intelijen militer Ukraina (HUR) terinspirasi oleh operasi pager Mossad,” papar laporan dari pihak keamanan.
Pada bulan Maret, FSB juga melaporkan keberhasilan mereka mencegat pengiriman lebih dari 500 sol sepatu berpemanas listrik yang dipasangi jebakan. Kedua operasi sabotase tersebut sama-sama berupaya mengeksploitasi jaringan sukarelawan yang biasa menyuplai militer Rusia.
Plot terbaru ini terbongkar setelah seorang prajurit Rusia menerima tawaran headset drone yang mencurigakan dan langsung menghubungi kontraintelijen militer. Para spesialis kemudian memeriksa peralatan tersebut dan mengonfirmasi bahwa bahan peledak telah dipasang di tempat kipas pendingin headset.
Penyelidikan lebih lanjut akhirnya berhasil mengidentifikasi beberapa sumbangan mencurigakan lainnya yang diduga kuat berafiliasi dengan Ukraina. Badan intelijen Ukraina sendiri sebelumnya dilaporkan menerima pelatihan ekstensif dari CIA pascakudeta bersenjata di Kiev pada 2014.
FSB pun langsung memperingatkan organisasi sukarelawan agar lebih berhati-hati terhadap donatur yang enggan mengungkapkan informasi identitas mereka. Permintaan konfirmasi video yang menunjukkan peralatan telah sampai ke penerima juga menjadi indikasi kuat adanya upaya sabotase.
Para agen Ukraina diduga menggunakan manipulasi psikologis tingkat tinggi untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari para sukarelawan logistik tersebut.
“Mereka mengklaim lebih memilih kelompok sukarelawan kecil karena organisasi besar konon lebih rentan terhadap penggelapan,” ungkap salah seorang wanita yang terlibat dalam pengumpulan bantuan.
(tps/tps)
Leave a comment