Home Finance Panas Ekstrem Bikin AC Jadi Barang ‘Mewah’, Warga Berebut hingga Rusuh
Finance

Panas Ekstrem Bikin AC Jadi Barang ‘Mewah’, Warga Berebut hingga Rusuh

Share
Panas Ekstrem Bikin AC Jadi Barang ‘Mewah’, Warga Berebut hingga Rusuh
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang panas yang semakin sering terjadi membuat pendingin ruangan atau air conditioner (AC) tidak lagi sekadar barang untuk menambah kenyamanan. Di banyak negara, AC mulai menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan dan membantu masyarakat tetap beraktivitas di tengah suhu ekstrem.

Masalahnya, tidak semua orang mampu membeli AC atau mendapatkan pasokan listrik yang cukup untuk menyalakannya. Ketika suhu terus naik, keterbatasan tersebut mulai memicu perebutan barang, protes akibat pemadaman listrik, hingga perdebatan politik.

Gelombang panas yang melanda Prancis pada awal Juli turut mendorong lonjakan permintaan AC portabel.

Mengutip The Economist, warga di Nanterre, kawasan pinggiran Paris, menyerbu salah satu gerai Lidl ketika suhu diperkirakan menembus 40 derajat Celsius. Desakan pembeli membuat pintu gerai roboh saat mereka berebut unit AC portabel terakhir.

Di gerai Lidl lain, dua pembeli dilaporkan terlibat perkelahian. Kondisi tersebut kemudian memicu perdebatan di kalangan politikus Prancis mengenai perluasan penggunaan AC di tengah kekhawatiran terhadap konsumsi energi dan emisi.

Masalah yang lebih berat terjadi di negara-negara berkembang.

Di sejumlah kota di Pakistan dan Bangladesh, warga memblokade jalan serta mengepung kantor perusahaan listrik setelah mengalami pemadaman selama berminggu-minggu ketika suhu mencapai 45 derajat Celsius.

Di Chandpur, Bangladesh, warga bahkan dilaporkan menyerang seorang pegawai badan elektrifikasi pedesaan pada akhir Juni.

Protes serupa terjadi di sejumlah desa di India. Warga mengeluhkan listrik yang padam saat gelombang panas, sehingga mereka bahkan tidak bisa menyalakan kipas pada malam hari.

Kerusuhan akibat kekurangan listrik untuk mendinginkan ruangan juga terjadi di Irak dan Sri Lanka.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelombang panas bukan hanya masalah cuaca. Ketika masyarakat tidak bisa mendapatkan udara sejuk, persoalannya dapat berubah menjadi masalah kesehatan, ekonomi, ketimpangan, bahkan stabilitas politik.

AC Kini Dianggap Kebutuhan Dasar

AC merupakan teknologi yang relatif baru. Bahkan di Amerika Serikat (AS), penggunaannya belum meluas sebelum 1960.

Namun, perubahan iklim membuat teknologi pendinginan semakin dibutuhkan di banyak wilayah dunia.

Dalam Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belém, Brasil, pada November 2025, teknologi pendinginan seperti AC bahkan dinyatakan sebagai infrastruktur penting, setara dengan air, energi, dan sanitasi.

Panas ekstrem menjadi salah satu bentuk cuaca ekstrem yang paling mematikan.




LifesaverLifesaver Foto: The Economist

Pemodelan yang diterbitkan jurnal kesehatan The Lancet memperkirakan sekitar 489.000 orang meninggal setiap tahun akibat panas sepanjang periode 2000-2019.

AC terbukti mampu menekan risiko tersebut. Penelitian terpisah dalam The Lancet memperkirakan penggunaan teknologi pendinginan pada awal dekade 2020-an mampu mencegah sekitar 190.000 kematian setiap tahun pada kelompok usia 65 tahun ke atas.

Di AS, peneliti National Bureau of Economic Research memperkirakan penggunaan AC di rumah membantu menurunkan risiko kematian saat cuaca sangat panas sekitar 75% sepanjang abad ke-20.

Cuaca sangat panas dalam penelitian tersebut didefinisikan sebagai hari dengan suhu rata-rata di atas 27 derajat Celsius.

Hampir seluruh penurunan risiko kematian terjadi setelah 1960, ketika rumah tangga AS mulai ramai memasang AC.

Sekilas, jawabannya terlihat sederhana. Semakin banyak AC, semakin banyak pula masyarakat yang terlindungi dari panas.

Namun, persoalannya tidak semudah itu.

Negara maju berdebat mengenai perubahan iklim dan efisiensi energi. Negara berkembang menghadapi harga listrik yang mahal, jaringan yang rapuh, dan keterbatasan anggaran.

Sementara itu, masyarakat semakin menganggap akses terhadap udara sejuk sebagai kebutuhan yang seharusnya tersedia.

AC Jadi Bahan Pertarungan Politik

Di negara-negara kaya, isu AC mulai digunakan sebagai bahan pertarungan politik.

Pada Juni, pemimpin National Rally Prancis Marine Le Pen meminta pemerintah menyediakan lebih banyak AC di sekolah, rumah sakit, dan panti jompo.

Politikus sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menentang gagasan pemasangan AC secara luas. Menurutnya, penggunaan AC di mana-mana akan meningkatkan konsumsi energi dan memperparah pemanasan global.

Teknologi pendinginan saat ini menyumbang sekitar 4% emisi gas rumah kaca dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan permintaan AC dan lemari pendingin akan meningkat lebih dari tiga kali lipat pada 2050 apabila tren saat ini berlanjut.

Lonjakan tersebut berpotensi membuat emisi dari sektor pendinginan hampir dua kali lipat.

Perdebatan serupa terjadi di AS, meski sekitar 90% rumah tangga di negara tersebut sudah memiliki AC.

Pada 1 Juli, Wali Kota New York dari Partai Demokrat Zohran Mamdani meminta warga mengatur AC di suhu 78 derajat Fahrenheit atau sekitar 26 derajat Celsius.

Imbauan tersebut bertujuan mencegah jaringan listrik kelebihan beban ketika gelombang panas.

Senator Republik asal Texas Ted Cruz kemudian mengejek imbauan tersebut. Ia menyebut masyarakat di negara maju seharusnya bisa menyalakan AC.

Namun, Texas sendiri rutin mengeluarkan imbauan serupa untuk menjaga jaringan listrik saat permintaan energi melonjak.

Eropa Kaya, tetapi Banyak Rumah Belum Punya AC

Permintaan Marine Le Pen tidak sepenuhnya hanya untuk mencari dukungan politik. Eropa memang menghadapi risiko kematian akibat panas yang tinggi.

Menurut pemodelan The Lancet, sekitar 36% kematian akibat panas dunia terjadi di Eropa, padahal kawasan tersebut hanya dihuni kurang dari 10% penduduk dunia.

Jumlah korban juga terus bertambah. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat kematian akibat panas di Eropa meningkat sekitar 30% dalam dua dekade terakhir.

Salah satu penyebabnya adalah usia penduduk Eropa yang semakin tua. Kelompok lanjut usia lebih rentan menghadapi suhu tinggi.

Eropa juga menjadi benua dengan laju pemanasan paling cepat di dunia.

Namun, tingginya korban turut dipengaruhi terbatasnya penggunaan AC.

International Energy Agency mencatat hanya sekitar 23% rumah tangga Eropa yang memiliki pendingin ruangan.

Banyak bangunan di Eropa dirancang untuk menahan udara dingin, bukan menghadapi gelombang panas. Saat suhu melonjak, rumah-rumah tersebut justru dapat memerangkap panas.




Cold ComfortCold Comfort Foto: The Economist

Negara Miskin Menghadapi Masalah Lebih Berat

Persoalan AC jauh lebih rumit di negara miskin yang sebagian besar berada di wilayah beriklim panas.

Harga unit AC mahal, biaya listrik tinggi, dan jaringan listrik membutuhkan investasi besar. Pemerintah maupun masyarakat sama-sama memiliki kemampuan keuangan yang terbatas.

Lebih dari 80% penduduk dunia secara rutin menghadapi suhu yang membutuhkan teknologi pendinginan.

Namun, hanya sekitar 40% dari kelompok tersebut yang mampu mendapatkan AC.

Kesenjangan terbesar terjadi di negara-negara paling miskin sekaligus paling panas.

India menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan penggunaan AC tercepat. Sekitar 50 juta unit AC ditambahkan sepanjang 2019-2024.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar separuh dari seluruh AC yang terpasang di Eropa.

India Energy and Climate Centre di University of California, Berkeley memperkirakan India akan menambah 130 juta hingga 150 juta unit AC lagi dalam satu dekade mendatang.

Namun, sebagian besar unit tersebut diperkirakan akan dibeli rumah tangga berpenghasilan tinggi.

Sebagian warga miskin memilih menyewa AC hanya selama bulan-bulan terpanas. Ada pula yang harus berutang agar bisa mendapatkan udara sejuk.

Biaya listriknya juga tidak murah. Rumah tangga termiskin di negara berkembang seperti India dapat menghabiskan hingga 8% pendapatan mereka untuk membayar listrik pendingin ruangan.

Sebagai perbandingan, rumah tangga berpendapatan tinggi di berbagai negara hanya mengalokasikan sekitar 0,2%-2,5% pendapatan untuk kebutuhan serupa.

Warga miskin juga biasanya membeli AC paling murah yang cenderung lebih boros listrik.

Mesin tersebut kemudian digunakan di rumah dengan ventilasi buruk dan insulasi lemah. Akibatnya, kebutuhan listrik semakin besar.

AC Membebani Jaringan Listrik

AC diperkirakan menyumbang sekitar seperempat kebutuhan listrik tertinggi India.

Apabila tren saat ini berlanjut, konsumsi listrik pada jam puncak yang hanya digunakan untuk pendinginan dapat meningkat tiga kali lipat menjadi 180 gigawatt pada 2035.

India Energy and Climate Centre memperingatkan kekurangan listrik dapat muncul mulai 2028, bahkan apabila seluruh pembangkit yang sedang dibangun selesai tepat waktu.

Permintaan listrik tertinggi India mencetak rekor pada Mei. Kondisi tersebut memicu pemadaman, kerusakan transformator, dan memaksa perusahaan listrik membeli pasokan dari pasar spot dengan harga mahal.

Pemadaman paling sering terjadi ketika gelombang panas, tepat saat kebutuhan listrik untuk AC mencapai puncaknya.

Masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan AC akhirnya kehilangan perlindungan ketika suhu berada di level tertinggi.

Pasokan listrik yang tidak bisa diandalkan juga membuat pembelian AC menjadi kurang menarik. Rumah tangga harus membeli mesin mahal yang belum tentu bisa digunakan saat paling dibutuhkan.

Perusahaan listrik ikut tertekan. Banyak penyedia listrik di India, Pakistan, dan Bangladesh dimiliki negara.

Saat permintaan melonjak, perusahaan harus membeli listrik tambahan di pasar dengan harga tinggi. Namun, listrik tersebut sering tetap dijual kepada masyarakat dengan tarif yang sudah disubsidi.

Kerugian perusahaan pun semakin besar.

Utang yang menumpuk kemudian mengurangi kemampuan perusahaan memperbaiki dan membangun jaringan listrik.

Saat perusahaan melakukan pemadaman untuk mengurangi beban, pemerintah harus menghadapi kemarahan dan protes masyarakat.

Listrik Murah Juga Bisa Memperparah Masalah

Demonstran di negara miskin sering menuduh pemerintah memprioritaskan pasokan listrik untuk gedung pemerintah, kawasan kaya, atau perusahaan industri besar.

Mereka menuntut listrik dibagikan secara lebih adil dan dijual dengan harga lebih murah.

Namun, kebijakan tersebut sulit dijalankan ketika jaringan listrik sudah rapuh.

Semakin murah dan mudah listrik diperoleh, semakin banyak pula AC murah serta boros energi yang digunakan.

Beban jaringan kemudian meningkat dan risiko pemadaman justru semakin besar.

Negara yang tidak mampu berinvestasi pada jaringan listrik dan teknologi pendinginan berisiko masuk dalam lingkaran masalah yang sulit diputus.

Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew pernah menyebut AC sebagai salah satu penemuan paling penting dalam sejarah karena mampu membuat pembangunan di wilayah tropis menjadi mungkin.

Singapura memang menjadi negara maju karena banyak faktor. Namun, penggunaan AC ikut membantu masyarakat tetap bekerja dan belajar secara produktif di tengah iklim panas serta lembap.

Tanpa akses pendinginan, negara-negara panas lain berisiko semakin tertinggal.

UNICEF memperkirakan ruang kelas yang terlalu panas dan berbagai gangguan iklim lainnya telah menghambat kegiatan belajar sekitar 130 juta anak di Afrika bagian timur dan selatan.

International Labour Organization memperkirakan tekanan panas akan menghilangkan sekitar 2,2% jam kerja dunia pada 2030.

Jumlah tersebut setara dengan hilangnya 80 juta pekerjaan penuh waktu.

Kerugian terbesar diperkirakan akan dirasakan pekerja pertanian di Asia Selatan dan Afrika Barat.

Butuh Dana hingga US$800 Miliar

Negara kaya sebenarnya dapat membantu mengurangi kesenjangan akses terhadap pendinginan.

Biaya AC saat gelombang panas dapat dimasukkan dalam perhitungan bantuan adaptasi perubahan iklim.

Pemerintah negara maju juga bisa membantu pembelian AC hemat energi dalam jumlah besar agar harganya lebih murah.

Bank pembangunan dapat membiayai penyimpanan energi dan perbaikan jaringan distribusi listrik.

Sementara itu, pemegang paten dapat memberikan lisensi refrigeran generasi baru dengan harga terjangkau agar AC yang sangat hemat energi dapat diproduksi lebih murah.

Namun, langkah yang dilakukan sejauh ini masih terbatas.

Lebih dari 70 negara telah menandatangani Global Cooling Pledge. Mereka berjanji mengurangi emisi dari pendinginan, meningkatkan efisiensi AC baru, serta memperluas akses terhadap teknologi pendinginan berkelanjutan.

Program Beat the Heat juga menargetkan isu akses pendinginan masuk dalam 50 rencana adaptasi nasional pada 2030.

Namun, sebagian besar upaya masih berfokus pada pendinginan pasif, seperti memperbaiki insulasi dan desain bangunan.

Bantuan langsung untuk membeli atau menyubsidi AC bagi masyarakat miskin masih sangat terbatas.

International Finance Corporation, lembaga pembiayaan milik Bank Dunia, memperkirakan kebutuhan dana untuk menutup kekurangan akses pendinginan di negara berkembang mencapai US$400 miliar hingga US$800 miliar.

Masyarakat Sudah Memilih AC

Sebagian kalangan di negara maju masih enggan menerima penggunaan AC sebagai cara beradaptasi terhadap suhu yang terus meningkat.

Namun, masyarakat tampaknya sudah menentukan pilihannya sendiri.

Pada musim panas ini, nilai ekspor AC China ke Uni Eropa melonjak 43% secara tahunan menjadi US$3,8 miliar.

Produk yang paling laris adalah AC portabel yang dibuat sesuai aturan Eropa, terutama ketentuan yang membatasi pengeboran bagian luar bangunan.

Permintaan begitu besar hingga seorang warga Austria rela berkendara sejauh 200 kilometer untuk mendapatkan unit terakhir yang masih tersedia.

Perdebatan mengenai seberapa banyak AC yang boleh digunakan mungkin masih berlangsung di kalangan politikus.

Namun, bagi masyarakat yang menghadapi gelombang panas, udara sejuk semakin sulit dipandang sebagai kemewahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *