Jakarta, CNBC Indonesia – Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Faisal, pernah punya rencana unik untuk mengatasi persoalan air di Timur Tengah. Bukan dengan mengebor sumber air baru atau membangun lebih banyak instalasi desalinasi, melainkan dengan menarik gunung es dari kawasan kutub ke Timur Tengah.
Gagasan tersebut disampaikan Mohammed pada 1977 ketika menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama tentang Pemanfaatan Gunung Es di Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.
Untuk menunjukkan pemanfaatan gunung es bukan sekadar angan-angan, Mohammed membawa bongkahan gletser berusia 4.000 tahun dari Alaska ke lokasi konferensi. Bongkahan seberat 2 ton itu diambil oleh tim penyelam Angkatan Laut AS dengan menggunakan helikopter, pesawat, hingga truk sampai tiba di Iowa.
Bongkahan es kemudian digunakan untuk mendinginkan minuman para delegasi yang tiba pada 2 Oktober 1977. Dalam laporan Times, Mohammed meyakini gunung es dapat menjadi sumber air tawar alternatif yang lebih murah dibandingkan desalinasi air laut.
Soalnya, setiap tahun, terjadi pelepasan alami gunung es dari lapisan es utama di Antarktika dan Greenland. Agar tidak sia-sia, air tawar itu dapat dimanfaatkan sebelum bercampur dengan air laut.
Prince Mohammed Al-Faisal Al Saud. (Dok. sigmaksa.com) Foto: Prince Mohammed Al-Faisal Al Saud. (Dok. sigmaksa.com)
|
Supaya bisa terwujud, Mohammed berani menggelontorkan biaya mencapai sekitar US$90 juta yang dapat selesai dalam waktu 3-5 tahun. Namun, gagasan tersebut langsung mendapat keraguan dari sejumlah ilmuwan yang hadir dalam konferensi.
“Begitu Anda melewati garis khatulistiwa ke arah utara, yang tersisa di ujung tali penarik Anda hanyalah seutas tali saja,” kata Wilford Weeks dari Laboratorium Penelitian dan Rekayasa Wilayah Dingin Angkatan Darat AS, dikutip Time.
Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu persoalan terbesar dalam rencana itu. Gunung es harus melewati perairan yang jauh lebih hangat dibandingkan lingkungan asalnya di Antarktika atau Kutub Selatan. Tanpa perlindungan yang memadai, es akan terus mencair selama perjalanan.
Persoalan lain adalah bagaimana menarik benda dengan bobot puluhan juta ton sejauh ribuan kilometer. Kapal tunda yang tersedia saat itu belum mampu melakukan pekerjaan tersebut secara efektif.
Pada akhirnya, rencana Mohammed tidak pernah terwujud. Tidak ada gunung es Antarktika raksasa yang berhasil ditarik hingga Arab Saudi. Meski demikian, gagasan tersebut tidak sepenuhnya menghilang.
Dalam laporan Science Blog, insinyur Prancis Georges Mougin, yang terlibat dalam pengembangan konsep penarikan gunung es, terus mempelajari kemungkinan tersebut selama puluhan tahun. Perkembangan teknologi komputer dan tersedianya data arus laut yang lebih baik kemudian memungkinkan simulasi yang lebih canggih.
Pada 2011, Mougin kembali mempresentasikan simulasi mengenai kemungkinan membawa gunung es melalui laut. Hasilnya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membuat proyek tersebut lebih memungkinkan dibanding pada era 1970-an, meski tetap menghadapi risiko dan biaya yang besar.
Gagasan serupa juga kembali muncul ketika sejumlah wilayah mengalami krisis air. Pada 2018, misalnya, muncul proposal untuk menarik gunung es Antarktika ke Afrika Selatan di tengah krisis air Cape Town. Proposal lain juga pernah diarahkan ke Uni Emirat Arab.
Namun, hingga kini belum ada proyek penarikan gunung es raksasa yang benar-benar diwujudkan untuk memasok air ke Timur Tengah maupun wilayah lain di dunia.
(mfa)

Leave a comment