
Jakarta, CNBC Indonesia – Era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) memunculkan berbagai perangkat baru yang digadang-gadang bakal menggantikan smartphone, mulai dari kacamata pintar hingga pin berbasis AI. Namun, kehadiran perangkat yang memiliki kemampuan melihat, mendengar, dan merespon ini justru memicu ancaman dan bahayanya tersendiri.
Kekhawatiran seputar AI memang telah disuarakan oleh banyak pemimpin perusahaan teknologi belakangan ini. Baru-baru ini, berbagai produk pengganti smartphone menjadi sasaran utama karena ancaman serius yang ditimbulkannya terhadap privasi.
Banyak pihak khawatir kacamata pintar dapat disalahgunakan untuk melakukan perekaman secara rahasia. Teknologi ini bahkan diprediksi berpotensi mengikis hak atas anonimitas serta prinsip pengambilan gambar dengan persetujuan (consent) di masa depan.
Kekhawatiran tersebut tampaknya telah menjadi kenyataan di sejumlah tempat di Inggris, termasuk pada salah satu jaringan pub terbesar, Wetherspoon. Pemilik tempat diketahui telah mulai membatasi penggunaan kacamata pintar di area mereka, dikutip dari Reuters, Rabu (23/9/2026).
Selain itu, gugatan hukum terhadap Meta dan Luxottica of America telah dilayangkan. Gugatan tersebut menyebutkan adanya klaim privasi yang menyesatkan terkait kacamata pintar buatan perusahaan tersebut.
Banyak orang yang tak sengaja terekam terlihat tidak menyadari bahwa diri mereka sedang diambil gambarnya. Ryan Clarkson, kuasa hukum yang mewakili para penggugat, mengatakan bahwa masih belum jelas sejauh mana privasi pengguna lain dikorbankan demi kenyamanan produk tersebut.
“Tidak ada konsumen waras yang diberitahu soal privasi, lalu menyimpulkan bahwa sebuah perangkat dapat sengaja atau tidak sengaja merekam momen-momen paling pribadi mereka,” ujar Clarkson.
Perusahaan di Balik Produk Pengganti Smartphone
Salah satu raksasa teknologi yang memelopori produk ini adalah Meta melalui lini kacamata pintarnya. Perusahaan bahkan dilaporkan akan segera merilis produk terbarunya pada pekan ini.
Tidak ketinggalan, Samsung dikabarkan juga akan merambah pasar kacamata pintar pada akhir tahun ini melalui kerja sama dengan Gentle Monster serta Warby Parker.
Kendati demikian, Wakil Presiden Eksekutif Divisi Mobile Samsung, Jay Kim, menyatakan bahwa pihaknya tidak memposisikan kacamata tersebut sebagai pengganti total smartphone. Ia juga menegaskan bahwa seiring dengan banyaknya tugas yang dikerjakan oleh AI, pengguna tetap menuntut sistem yang aman dan sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan mulai merespons reaksi negatif publik terkait isu privasi ini. Startup asal China, Even Realities, misalnya, memilih memperkenalkan kacamata tanpa kamera pada model G1 di tahun 2024, disusul generasi keduanya setahun kemudian.
Ada pula Plaud yang menghadirkan perangkat perekam AI berbentuk kartu. Perangkat ini dirancang agar hanya aktif saat dinyalakan secara manual, serta dilengkapi lampu indikator atau pengumuman audio untuk memperingatkan orang sekitar saat fitur perekaman digunakan.
Kendati menuai kontroversi, kekhawatiran semacam ini sejatinya bukan hal yang baru. Direktur Perusahaan Riset IDC, Jitesh Ubrani, mengingatkan bahwa saat smartphone pertama kali hadir dengan membawa kamera dan mikrofon, perangkat tersebut juga menghadapi gelombang penolakan dan ketakutan publik yang serupa.
(fab/fab)
Leave a comment