
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali menguat hingga menyentuh level tertinggi sejak Desember 2024 atau dalam sekitar 20 bulan lebih.
Kenaikan harga ditopang oleh prospek peningkatan permintaan biofuel serta risiko penurunan produksi akibat kondisi cuaca seiring berkembangnya El Niño.
Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, baru-baru ini mulai menjalankan mandat biodiesel B50 yang ambisius. Kebijakan tersebut diperkirakan akan menyerap lebih banyak pasokan sawit untuk kebutuhan bahan bakar domestik dan berpotensi menekan volume ekspor Indonesia.
Periode kering mulai melanda perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia, yang merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua dunia.
El Niño cenderung memicu kondisi cuaca lebih kering di sebagian besar Asia Tenggara sehingga berisiko mengganggu produksi minyak sawit.
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan stok minyak sawit global akan turun ke level terendah dalam sembilan tahun pada musim 2026/2027.
Prospek cuaca yang kurang mendukung turut mendorong aksi beli spekulatif di pasar.
Pelaku pasar memperkirakan El Niño akan menekan produksi Indonesia dan Malaysia, menurut Budiman Suwardi kepada The Edge Malaysia.
Kepala Divisi Treasury dan Markets dari Prime EcoHarvest Commodities. Pembeli juga berupaya mengamankan pasokan sebelum 1 Oktober, ketika mandat biodiesel B50 Indonesia telah berjalan penuh, katanya.
Kontrak berjangkaCPO di Kuala Lumpur sempat naik hingga 1,7% menjadi MYR4.977 per ton atau sekitar Rp21,8 juta per ton (MYR1 = Rp4.379) pada Kamis (20/8/2026).
Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Desember 2024.
Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO kemudian ditutup di MYR4.961 per ton, naik 1,39% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Kenaikan CPO juga terjadi bersamaan dengan penguatan sejumlah komoditas pertanian utama lain, termasuk jagung dan gula. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi pangan.
Gangguan pasokan juga datang dari kawasan Laut Hitam. Serangan yang terjadi belakangan ini memperlambat ekspor komoditas pertanian dari Rusia dan Ukraina secara signifikan. Kedua negara merupakan pemasok utama minyak bunga matahari dunia sehingga sebagian pembeli mulai beralih ke minyak nabati alternatif untuk menutup kekurangan pasokan.
Menurut Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Divisi Trading and Hedging Strategies Kaleesuwari Intercontinental Ltd., level tertinggi CPO pada Kamis merupakan titik technical breakout, yakni saat harga berhasil menembus level yang sebelumnya belum mampu dilewati.
Meski demikian, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi membatasi kenaikan harga lebih lanjut, termasuk penguatan ringgit Malaysia serta harga minyak kedelai yang masih kompetitif.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(Salma Laiqa/slm)
Leave a comment