
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026). IHSG dibuka turun 36,55 poin atau 0,55% ke level 6.552,79, dan anjlok nyaris 2 % tak lama setelah pasar buka.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, koreksi IHSG semakin besar lima belas menit setelah perdagangan dimulai, dengan level terendah IHSG ambruk lebih dari 1,82% ke level 6.466,60. Hanya 75 saham menguat, 527 saham melemah, dan 106 saham stagnan.
Adapun volume perdagangan pada awal sesi mencapai 7,24 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 3,29 triliun.
Mengutip Refinitiv, seluruh sektor perdagangan terkoreksi hari ini, dengan energy menjadi sektor dengan penurunan terdalam. Selanjutnya diikuti sektor barang baku, konsumer non primer dan finansial.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar pun menjadi pemberat utama IHSG. Bayan Resources (BYAN) menyumbang pelemahan ke indeks hingga 12,37 poin, diikuti Bank Central Asia (BBCA) sebesar 11,73 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Amman Mineral (AMMN) 5,83 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 4,34 poin dan Bumi Resources (BUMI) 3,96 poin.
Setidaknya ada dua sentimen global yang menjadi “hantu” bagi IHSG hari ini, yakni kembali naiknya harga minyak seiring memanasnya konflik Iran-Amerika Serikat dan lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury.
Kombinasi kenaikan yield Treasury dan harga minyak tersebut menjadi sentimen yang kurang bersahabat bagi pasar saham. Yield tinggi meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham, sedangkan lonjakan harga minyak memunculkan kembali risiko inflasi dan dapat mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) menghadapi persoalan utang yang semakin mengkhawatirkan. Utang pemerintah federal AS resmi menembus US$40 triliun, mencetak rekor baru dan menjadi peringatan atas semakin beratnya beban fiskal negara tersebut.
Salah satu dampaknya sudah terlihat di pasar obligasi. Departemen Keuangan AS menyiapkan aksi buyback surat utang hingga US$6 miliar untuk menjaga likuiditas pasar obligasi. Nilai tersebut mencapai tiga kali lipat dari operasi normal, dengan transaksi perdana menyasar Treasury tenor 10 tahun dan 20 tahun.
Akan tetapi kebijakan tersebut justru direspons negatif oleh pasar. Yield Treasury 10 tahun naik ke 4,84%, sementara yield tenor 20 tahun mencapai 5,314% dan tenor 30 tahun menembus 5,3%.
Posisi yield Treasury 10 tahun tersebut bahkan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023. Kenaikan yield menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS sekaligus menekan valuasi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Investor Stanley Druckenmiller memperingatkan bahwa semakin pemerintah berusaha mempertahankan harga obligasi, semakin besar operasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan pasar.
Sementara itu, konflik Iran dan AS kembali memanas. Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz setelah AS menghancurkan lima tanker minyak Iran.
Eskalasi tersebut langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei di tengah berlanjutnya konflik antara AS dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh.
Kenaikan harga minyak tersebut telah berlangsung selama lima hari berturut-turut. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global karena kenaikan harga energi dapat kembali mendorong biaya produksi dan transportasi.
Sejalan dengan IHSG, bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dengan saham Korea Selatan dan Jepang memimpin penurunan di kawasan tersebut. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, anjlok 2,7%.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,6%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1%. Penurunan bursa Asia terjadi setelah saham-saham Amerika Serikat (AS) tertekan oleh lonjakan harga minyak pada perdagangan Kamis.
(fsd/fsd)
Leave a comment