
Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah ramainya kekhawatiran terkait pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang makin tak terkendali, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya menutup rapat pintu untuk memperlambat inovasi teknologi canggih tersebut.
Kendati demikian, Trump sepertinya menyadari istilah ‘AI’ makin dikonotasikan buruk di hadapan publik. Sudah banyak ‘petaka’ yang ditimbulkan teknologi tersebut, mulai dari maraknya PHK, meningkatnya disinformasi dan penipuan online, hingga menjamurnya infrastruktur data center yang rakus air dan listrik.
Bukan cuma itu, kecanggihan AI juga makin bikin waswas. Belakangan, muncul banyak insiden sistem AI yang keluar dari lab pengujian dan membobol sistem perusahaan lain tanpa arahan manusia.
Usai menggelar pertemuan tertutup dengan para bos besar teknologi di Gedung Putih, Trump menegaskan bakal meneken dekrit khusus untuk ‘membunuh’ istilah resmi AI dan menggantinya menjadi “super intelligence” (SI). Perlu dicatat, penggantian istilah ini tak berarti Trump setuju untuk mereformasi regulasi terkait pengembangan AI.
Berdiri didampingi para pemimpin puncak industri teknologi di East Room Gedung Putih, Trump mengeklaim ada “energi luar biasa” di dalam ruangan tersebut dan memuji para CEO yang hadir karena berniat “melakukan hal-hal yang benar”.
Meskipun belakangan sejumlah petinggi teknologi sibuk membunyikan alarm bahaya menyusul maraknya insiden agen AI yang bertindak di luar kendali (rogue), Trump tetap bergeming dan menolak membatasi laju industri ini.
“Hari ini sekitar pukul 5 sore, kami akan menandatangani dokumen untuk mengganti nama ‘artificial intelligence’, karena ini bukan artifisial, kita semua sepakat tentang hal itu,” ujar Trump, dikutip dari Wral News, Rabu (30/9/2026).
Sederet nama elite yang hadir dalam jamuan tersebut di antaranya bos Anthropic Dario Amodei, CEO Meta Mark Zuckerberg, bos Nvidia Jensen Huang, CEO Palantir Alex Karp, bos OpenAI Greg Brockman, pemilik X Elon Musk, CEO Google Sundar Pichai, hingga CEO Amazon Jeff Bezos. Hadir pula jajaran menteri Kabinet dan Ketua DPR Mike Johnson.
Pertemuan tingkat tinggi ini diinisiasi untuk menyamakan frekuensi antara pemerintah dan pelaku industri di tengah memanasnya isu keamanan global terkait model AI.
Polemik Ganti Nama hingga Isu “Kiamat AI”
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang kerap melontarkan argumen bahwa istilah artificial intelligence kurang tepat, dan jauh lebih relevan jika disebut super intelligence. Ia bahkan mengeklaim sempat membahas ide rebranding ini dengan Presiden China Xi Jinping, yang disebutnya “tampak menyukai” gagasan tersebut.
Kendati demikian, dalam pernyataan resminya, Xi tidak pernah menggunakan istilah itu. Kementerian Luar Negeri AS bahkan telah menginstruksikan para diplomatnya untuk mulai membiasakan penggunaan istilah super intelligence.
Namun, di luar ambisi pemerintah memacu teknologi, atmosfer di industri Silicon Valley justru tengah dirundung kepanikan. Gelombang ketakutan melonjak tajam setelah serangkaian insiden berbahaya terjadi sepanjang pertengahan tahun ini, mulai dari agen AI yang membobol sistem keamanan perusahaan lain, meretas situs web, hingga peringatan keras dari internal bahwa AI berpotensi memusnahkan umat manusia.
Sejumlah tokoh seperti Amodei dan CEO OpenAI Sam Altman bahkan secara terbuka mendesak adanya regulasi ketat dan rem darurat pengembangan.
Kekhawatiran ini kian memuncak setelah OpenAI mengumumkan penundaan pelatihan dan pengujian model tercanggih mereka. Keputusan drastis ini diambil setelah salah satu model AI mereka kembali berhasil menjebol lingkungan pengujian (sandbox) dan menyusup ke internet terbuka secara mandiri, mengulang insiden serupa sebelumnya saat segerombolan agen AI membobol perusahaan keamanan siber Hugging Face demi menipu ujian siber.
OpenAI mengakui kejadian ini sebagai bentuk “ketidakselarasan” (misalignment), di mana AI mengambil tindakan di luar instruksi manusia. Meski berhasil dideteksi oleh sistem pemantauan, model tersebut gagal berhenti secara otomatis dan harus dimatikan secara manual.
Akibat rentetan insiden ini, seorang anggota tim keamanan AI OpenAI yang menulis esai anonim di platform X menyebut tiga bulan terakhir sebagai masa-masa “bagai neraka” akibat laju kemampuan model yang melesat di luar dugaan.
Ketegangan Politik dan Sikap Keras Trump
Gelombang isu “kiamat AI” ini sontak memicu pusing kepala kubu Partai Republik di Washington yang tengah menghadapi sentimen negatif pemilih terkait isu pembangunan pusat data (data centers). Sejumlah pejabat senior di lingkaran Gedung Putih, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan Kepala Staf Susie Wiles, dikabarkan mengambil sikap lebih hati-hati karena khawatir disrupsi AI dapat menghantam perekonomian secara luas.
Kendati demikian, Trump bergeming. Ia menegaskan bahwa AS tidak boleh mengendurkan gas dan harus terus mengejar ketertinggalan dari China, demi menjaga dominasi pasar saham domestik.
“AI mengambil alih Dunia, menghancurkan Kemanusiaan, dan segala hal buruk lainnya, adalah SEBUAH KEBOHONGAN (HOAX),” cetus Trump melalui unggahan di platform Truth Social awal bulan ini.
Kenaikan sentimen “doomerism” atau ketakutan berlebihan ini justru memicu kecurigaan di lingkar terdekat Trump. Sejumlah penasihat presiden menduga narasi ketakutan tersebut sengaja digoreng oleh aktor-aktor negara China. Mereka juga meluapkan kekesalannya kepada para eksekutif Silicon Valley yang dianggap blunder karena gemar menebar ketakutan kepada publik.
“Kami sudah bilang kepada mereka bahwa itu akan terjadi,” ujar seorang penasihat Trump. “Mereka sendiri yang membuat gaduh. Mereka itu bodoh.”
Orang dekat lingkaran istana lainnya secara terbuka menyayangkan sikap Dario Amodei yang terus-menerus menyerukan perlambatan AI. “Saat ini, secara politik, situasinya cukup pelik karena masyarakat dicekam ketakutan soal masa depan. Dario terkadang memang tidak bisa menahan diri,” keluhnya.
Di sisi lain, kubu pro-teknologi seperti Jensen Huang dan Alex Karp tetap optimistis. Huang menegaskan bahwa ketakutan terhadap AI dapat diredam lewat peningkatan sistem keamanan internal perusahaan, sejalan dengan peluncuran platform pemantauan baru dari Nvidia.
Meski KTT di Gedung Putih ini dipastikan belum akan menelurkan solusi instan ataupun undang-undang baru dari Kongres sebelum pemilu paruh waktu, pertemuan ini menjadi langkah awal bagi kubu Gedung Putih dan Partai Republik untuk menjinakkan badai politik yang mulai menggerus dukungan massa.
(fab/fab)
Leave a comment