
Jakarta, CNBC Indonesia – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan bahwa PT Pertamina (Persero) berencana membawa pulang minyak mentah dari asetnya di luar negeri ke Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memperkuat pasokan minyak bagi kebutuhan kilang dalam negeri.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, setidaknya Pertamina akan membawa sekitar 2,5 juta barel minyak hasil produksi dari asetnya di luar negeri ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,7 juta barel telah masuk ke dalam negeri.
“Nah sebagai cadangan, Pertamina juga akan bring oil produksi luar negeri itu dibawa ke sini itu angkanya 2,5 juta barel. Yang sudah masuk ke kita 1,7 juta barel. Ini juga kita bisa perhitungkan untuk memperkuat ketahanan kilang kita,” kata Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (27/8/2026).
Seperti diketahui, Pertamina memiliki sejumlah lapangan migas di luar negeri melalui PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Sejumlah aset migas di luar negeri antara lain terdapat di Aljazair, Iraq, Angola, Malaysia, Gabon, Tanzania, hingga Venezuela.
Di Aljazair, Pertamina memiliki sejumlah aset hulu migas sejak 2012, antara lain 65% hak partisipasi (Participating Interest/ PI) di Lapangan Menzel Lejmet North (MLN), Blok 405a, lalu 16,9% pada EMK Unitization.
Kemudian, pada 2013 di Iraq, di mana Pertamina memiliki 20% hak partisipasi di Blok West Qurna-1 tapi non-operator.
Di Angola, Pertamina memegang 20% hak partisipasi di Blok 3/05 (produksi) dan 3/05A. Sementara di Tanzania, Pertamina memiliki hak partisipasi 48,06% (produksi dan operator) pada proyek Mkuranga dan juga 60% pada Mnazl Bay (eksplorasi, dan operator).
Pada 31 Januari 2026 lalu, Pertamina telah membawa pulang sebanyak 1 juta barel minyak mentah dari asetnya di luar negeri ke Indonesia.
Langkah strategis yang mengusung semangat “Bring Barrels Home” ini merupakan hasil produksi pertama di bawah perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Blok 405A, di Aljazair. Perpanjangan kontrak ini sekaligus memberikan kepastian hukum bagi kelangsungan operasional Pertamina di Aljazair, Afrika Utara, untuk jangka waktu 25 tahun ke depan.
Dalam keterangannya, manajemen Pertamina menegaskan bahwa pengapalan ini adalah wujud nyata kolaborasi terintegrasi di dalam grup perusahaan.
“Pengapalan perdana 1 juta barel minyak mentah menjadi tonggak sejarah dan wujud nyata Pertamina dalam mendukung melayani kebutuhan energi Indonesia,” ujar keterangan Pertamina dalam akun Instagramnya, Sabtu (31/1/2026).
Produksi Minyak Nasional
SKK Migas mencatat, realisasi produksi minyak, kondensat, dan natural gas liquid (NGL) nasional hingga 31 Juli 2026 mencapai 578.156 barel per hari (bph).
Angka tersebut baru mencapai 94,8% dari target produksi terangkut (lifting) minyak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610.000 bph.
Realisasi produksi pada 2026 ini juga terpantau turun bila dibandingkan dengan realisasi produksi minyak pada 2025. Pada 2025, produksi minyak nasional rata-rata mencapai 606,1 ribu bph.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto membeberkan dari 20 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan produksi terbesar, ExxonMobil Cepu Ltd dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjadi dua KKKS dengan realisasi produksi yang paling jauh di bawah target.
Namun demikian, kedua perusahaan minyak tersebut masih menduduki sebagai produsen minyak terbesar RI.
“Yang paling parah adalah ExxonMobil dan Pertamina Hulu Rokan yang tadi sudah saya sampaikan, Pak Dirjen maupun saya jelaskan, itu totalnya dari dua KKKS 54.500, itu yang di bawah target,” kata Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan data SKK Migas per 31 Juli 2026, ExxonMobil Cepu mencatat realisasi produksi sebesar 124.266 bph dari Blok Cepu. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan di dalam APBN 2026 sebesar 148.500 bph atau baru sebesar 83,7% dari target.
Sementara itu, PHR membukukan produksi sebesar 133.581 bph dari Blok Rokan, Riau. Angka tersebut masih di bawah target yang ditetapkan dalam APBN sebesar 163.859 bph atau baru 81,5% dari target.
Dia menjelaskan, untuk produksi di Blok Rokan terkendala karena adanya insiden kebocoran pipa gas yang dioperasikan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada awal 2026. Insiden ini mengakibatkan gangguan produksi atau penyaluran di 9 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) shipper dan supplier gas Terminal Dumai, antara lain PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Bumi Siak Pusako (BSP), SPR Langgak, APGWI, EMP Gandewa, EMP Tonga, PHE Jambi Merang, MEPG, dan PetroChina Jabung.
Selain itu, di Rokan juga terjadi gangguan penyediaan listrik dari pihak MCTN, sehingga mengakibatkan PHR tidak dapat berproduksi optimal.
Sementara di Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Ltd karena ada gangguan pada reservoir.
“Exxon karena masalah reservoir atau masalah ngambek, itu belum diberikan insentif. PHR tadi sudah sampaikan, sampai hari ini MCTN belum selesai, adanya pipa putus dan rig yang sempat dihentikan,” katanya.
(wia)
Leave a comment