Jakarta, CNBC Indonesia – Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menghadapi salah satu tahun terberat sejak berkuasa.
Ambisinya untuk menjadikan Arab Saudi sebagai pusat investasi global terhambat oleh serangan Houthi, memburuknya prospek ekonomi, serta ketidakpastian dukungan Amerika Serikat di bawah Donald Trump.
Penundaan forum investasi Future Investment Initiative (FII) menjadi simbol tekanan yang dihadapi kerajaan, di tengah proyek-proyek besar yang tersendat dan investasi asing yang masih jauh dari target.
U.S. President Donald Trump greets Saudi Crown Prince and Prime Minister Mohammed bin Salman, during a dinner at the White House in Washington, D.C., U.S., November 18, 2025. REUTERS/Tom Brenner Foto: REUTERS/Tom Brenner
|
Meski posisi politik MBS dinilai tetap kokoh, krisis ini memperlihatkan kelemahan mendasar Arab Saudi yakni ketergantungan pada minyak, keterbatasan kemampuan militer, dan kebutuhan akan perlindungan Washington.
Tantangan MBS kini bukan sekadar mempertahankan stabilitas, melainkan membangun fondasi ekonomi dan keamanan yang lebih mandiri agar ambisi transformasi Saudi tidak terus terguncang oleh konflik regional dan keputusan negara lain.
Forum yang dijuluki Davos in the Desert, akhirnya ditunda hingga 2027.
Forum yang semula dijadwalkan berlangsung mulai 26 Oktober 2026 itu biasanya mempertemukan pemimpin dunia, investor, dan petinggi perusahaan global untuk membicarakan peluang bisnis di Saudi. Namun, eskalasi serangan Houthi membuat risiko keamanan menjadi perhatian utama.
Serangan Houthi Mengusik Keamanan Saudi
Serangan terhadap bandara di Riyadh dan Abha menandai eskalasi yang mengganggu aktivitas sipil di Saudi.
Pada 6-7 Oktober 2026, serangan terhadap dua bandara tersebut menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober kemudian menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut laporan Reuters.
Dampaknya melampaui korban jiwa. Gangguan penerbangan, peringatan perjalanan dari sejumlah pemerintah Barat, serta penundaan acara internasional memperlihatkan bagaimana ancaman keamanan dapat merusak citra Saudi sebagai destinasi bisnis dan investasi.
Serangan terhadap kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran pada 13 Oktober juga menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur strategis.
Bagi MBS, masalahnya adalah bagaimana meyakinkan investor bahwa Saudi tetap aman untuk menanamkan modal ketika konflik regional belum mereda.
Ekonomi Saudi Menghadapi Ujian Berat
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan ekonomi Saudi tumbuh 4% pada 2026 tetapi proyeksi tersebut diturunkan menjadi kontraksi 3,3%.
Pemulihan ekonomi Saudi pada 2027 bergantung pada tercapainya perdamaian di Timur Tengah, yang sebagian besar ditentukan oleh Donald Trump.
Riyadh semula berharap investasi besar dan kesepakatan bisnis dengan keluarga Trump bisa memperkuat pengaruhnya, tetapi upaya itu tak menghentikan perang. Seorang tokoh Saudi menyebut Trump sebagai sosok yang sulit diharapkan setia pada siapa pun dalam jangka panjang.
Tekanan keamanan datang ketika agenda transformasi ekonomi Saudi belum sepenuhnya mencapai target.
Program diversifikasi yang dikenal melalui Saudi Vision 2030 bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap minyak dengan memperluas peran sektor swasta dan menarik investasi asing.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Saudi masih membutuhkan arus modal yang jauh lebih besar.
Riyadh semula mengira memiliki pengaruh terhadap Trump dengan menjanjikan investasi dalam jumlah fantastis di AS.
Saudi juga menjalin kesepakatan bisnis dengan keluarga Trump, termasuk membayar lapangan golf milik Trump untuk menggelar turnamen yang didanai Saudi dan menginvestasikan US$2 miliar bersama Jared Kushner, menantu Trump.
Namun, upaya tersebut tak menghentikan Trump memulai perang yang dinilai membawa dampak buruk, sehingga seorang tokoh Saudi menyebut Trump sebagai sosok yang tidak pernah lama setia kepada siapa pun.
Krisis Baru, Kekuasaan MBS Lebih Kokoh
Meski tak ada jajak pendapat publik yang andal, mayoritas warga Saudi dinilai masih memercayai pemerintah. Namun, perang Yaman telah mengganggu kehidupan masyarakat, sementara MBS relatif tak terlihat sejak rudal Houthi menewaskan 13 orang di bandara Riyadh pada 10 Oktober.
Meski sejumlah pengamat Barat mempertanyakan apakah krisis ini mengancam kekuasaan MBS, para diplomat di Riyadh menilai posisinya kini lebih kuat dibandingkan tujuh atau delapan tahun lalu.
Saat itu, ia masih berusaha mengonsolidasikan kekuasaan di tengah perang Yaman, blokade Qatar yang memicu ketegangan dengan AS, serta kecaman dunia atas pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul.
Kini, MBS telah menyingkirkan rival dan memusatkan kekuasaan. Bahkan, sejumlah kritikus lama perang Yaman mengakui Saudi kini memiliki sedikit pilihan selain melawan Houthi.
Namun, krisis kali ini lebih rumit karena keputusan besar berada di tangan Donald Trump. Jika Trump kembali menyerang Iran setelah pemilu sela November, Saudi terancam menghadapi Houthi dari selatan, milisi Irak dari utara, dan Iran dari timur, sementara persediaan pencegat pertahanan udaranya terbatas untuk melindungi wilayah empat kali luas Prancis.
Sebelumnya, MBS menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis dengan mengakhiri blokade Qatar dan mengupayakan kesepakatan dengan Houthi.
Pemerintahan Joe Biden, yang semula berjanji mengucilkan MBS dari pergaulan internasional, akhirnya mengakui perubahan arah kebijakan luar negeri Saudi yang lebih pragmatis.
Dalam satu dekade terakhir, MBS melonggarkan aturan sosial: perempuan kini boleh mengemudi, partisipasi angkatan kerja perempuan hampir dua kali lipat, konser dan bioskop semakin umum, serta sebagian warga asing kaya boleh mengonsumsi alkohol secara legal.
Namun, fondasi negara belum banyak berubah. Ekonomi masih bergantung pada minyak, militer lebih dirancang melindungi rezim daripada berperang, dan keamanan tetap mengandalkan AS.
Pakta pertahanan dengan Pakistan dan Turki menjadi upaya mencari sekutu alternatif, tetapi perubahan itu membutuhkan waktu. Tantangan MBS pada dekade keduanya adalah mengubah fondasi negara, bukan sekadar penampilannya.
(mae/mae)

Leave a comment