
Jakarta, CNBC Indonesia – Minat perusahaan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 terlihat menurun. Hingga akhir Agustus 2026, baru tujuh perusahaan yang mencatatkan saham dengan total dana dihimpun sekitar Rp2,16 triliun, jauh di bawah periode yang sama tahun lalu.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan penurunan jumlah calon emiten dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kondisi global.
“Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (4/10/2026).
Data BEI menunjukkan jumlah IPO hingga Agustus 2026 turun sekitar 68,2% dibandingkan 22 perusahaan pada Januari-Agustus 2025. Penghimpunan dana juga anjlok sekitar 79,2% dari Rp10,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp2,16 triliun.
OJK Masih Melihat Ada Antrean IPO
Meski realisasi IPO menyusut, OJK mencatat masih ada tujuh perusahaan dalam pipeline per 6 September 2026 dengan target penghimpunan dana maksimal sekitar Rp4,02 triliun. Namun, beberapa rencana IPO belum mendapat persetujuan karena perusahaan masih perlu meningkatkan kualitas keterbukaan informasi.
“Terdapat beberapa rencana IPO saham yang belum memperoleh persetujuan karena masih diperlukan peningkatan kualitas keterbukaan informasi,” kata Hasan.
Penyusutan aktivitas IPO juga terlihat dari nilai transaksi. Rata-rata dana yang dihimpun setiap emiten turun dari sekitar Rp471,91 miliar pada 2025 menjadi Rp308,76 miliar pada 2026, atau berkurang 34,6%.
Bukan Sekadar Mengejar Jumlah IPO
Menurut Hasan, OJK tidak hanya mengejar jumlah perusahaan yang melakukan IPO, tetapi juga memperhatikan total penghimpunan dana di pasar modal. OJK menargetkan penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp250 triliun pada 2026, sementara hingga 6 September 2026 telah mencapai Rp148,3 triliun.
“Dalam mencapai target dimaksud, OJK tetap senantiasa mengedepankan pada kualitas keterbukaan informasi serta kesiapan calon emiten,” imbuh Hasan.
Di sisi lain, minimnya jumlah IPO tidak sepenuhnya berarti saham-saham baru kehilangan minat investor. Sejumlah saham IPO 2026 masih mencatat lonjakan harga yang signifikan setelah debut, meski kondisi tersebut belum cukup untuk menunjukkan pemulihan fungsi pasar perdana sebagai sumber pendanaan perusahaan.
OJK bersama BEI pun terus melakukan sosialisasi dan coaching clinic di sejumlah daerah untuk mendorong perusahaan yang siap melantai di bursa.
(arj/arj)
Leave a comment