Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan teknologi China yang selama ini tak banyak diketahui publik mendadak jadi investor di tengah krisis industri chip global. ChangXin Memory Technologies (CXMT) bersiap mencetak sejarah melalui penawaran umum perdana (IPO) jumbo di bursa China.
CXMT diperkirakan menghimpun sedikitnya 57,9 miliar yuan (Rp1.043 triliun) dari IPO di STAR Market, bursa Nasdaq-nya Shanghai. Penawaran saham dijadwalkan pada Juli 2026 dan berpotensi mencapai 66,6 miliar yuan (Rp1.199 triliun) jika opsi penjatahan lebih dilakukan.
Jika terealisasi, IPO CXMT akan menjadi aksi penjualan saham terbesar di Asia sepanjang tahun ini, demikian dikutip dari Reuters, Kamis (16/7/2026).
Langkah tersebut menjadi tonggak penting bagi CXMT. Perusahaan itu kini berkembang menjadi produsen chip memori DRAM terbesar di China sekaligus simbol ambisi Beijing untuk membangun kemandirian teknologi.
CXMT merupakan produsen chip dynamic random-access memory (DRAM) terbesar di China. Chip ini berfungsi sebagai memori jangka pendek yang digunakan pada smartphone, komputer pribadi, server, sistem kecerdasan buatan (AI), dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
Pasar DRAM global selama ini dikuasai oleh raksasa seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology. CXMT kini menjadi produsen DRAM terbesar keempat di dunia dengan pangsa pasar sekitar 7,7% pada 2025, berdasarkan prospektus IPO perusahaan.
Pertumbuhan CXMT makin pesat seiring dengan siklus kenaikan industri chip memori yang dimulai tahun lalu. Lonjakan permintaan terkait AI mendorong harga chip sekaligus meningkatkan belanja untuk produk memori canggih. Hal ini turut menciptakan krisis kelangkaan chip memori, bahkan berdampak ke chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen seperti laptop, HP, dan konsol game.
Pendapatan CXMT melonjak 719% secara tahunan menjadi 50,8 miliar yuan pada kuartal I 2026. Perusahaan memperkirakan pendapatan semester I tahun ini mencapai 110 miliar-120 miliar yuan, hampir dua kali lipat dari total pendapatan sepanjang 2025 yang mencapai 61,8 miliar yuan.
Chip memori menjadi komponen penting bagi hampir seluruh sistem komputasi modern. DRAM juga semakin krusial dalam server AI karena proses pelatihan dan pengoperasian model AI membutuhkan memori berkecepatan tinggi dalam jumlah besar. Dan bagi China, CXMT menjadi jawaban atas kerentanan strategis di sektor teknologi.
Beijing telah bertahun-tahun berupaya mengurangi ketergantungan terhadap chip dan teknologi asing. Upaya tersebut semakin intensif setelah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya memperketat pembatasan ekspor semikonduktor canggih serta peralatan manufaktur chip ke China.
Karena itu, IPO CXMT berart besar dari sekadar aksi korporasi di pasar modal. Perusahaan tersebut menjadi ujian bagi kemampuan China dalam membangun produsen domestik yang kompetitif di industri yang hingga kini masih dikuasai perusahaan asing.
Lantas, siapa yang ada di balik CXMT?
Struktur pemegang saham CXMT mencerminkan sistem pendanaan industri semikonduktor China yang mendapat dukungan negara.
Berdasarkan prospektus perusahaan, pemegang saham milik negara menguasai 36,29% saham CXMT sebelum IPO. Pemegang saham yang memiliki keterkaitan dengan negara antara lain investor terkait pemerintah daerah, Anhui Investment Group, dan China National Integrated Circuit Industry Investment Fund Phase II yang dikenal sebagai “Big Fund”.
Salah satu tokoh penting di balik CXMT adalah Zhu Yiming, pendiri GigaDevice Semiconductor, perusahaan China yang bergerak di bidang desain chip memori dan dikenal lewat produk NOR flash memory.
Chip tersebut digunakan untuk menyimpan kode pada berbagai perangkat elektronik.
Dokumen perusahaan menyebut Zhu Yiming berperan penting dalam pendirian dan pengembangan CXMT. Ia membawa pengalaman di industri chip memori dan kemudian menjabat sebagai chairman CXMT.
Meski telah menjadi produsen DRAM terbesar keempat di dunia, CXMT masih tertinggal dari para pemimpin industri dalam teknologi memori canggih, terutama high-bandwidth memory (HBM).
HBM menjadi komponen penting dalam pembuatan akselerator AI, termasuk produk yang digunakan perusahaan seperti Nvidia.
Samsung dan SK Hynix masih mendominasi pasar HBM. Keduanya memiliki keunggulan berupa pengalaman manufaktur selama puluhan tahun, teknologi proses, serta jaringan pelanggan global yang telah teruji. Micron juga menjadi salah satu pemasok utama memori canggih.
CXMT memiliki keunggulan di sisi lain. Perusahaan mendapatkan dukungan kebijakan yang kuat, akses terhadap pendanaan yang terkait dengan negara, serta permintaan yang terus tumbuh dari pelanggan domestik China yang mencari alternatif dari pemasok asing.
Keunggulan tersebut dapat membantu CXMT memperbesar pangsa pasarnya meski perusahaan masih tertinggal secara teknologi dari para pesaing global. CXMT juga menghadapi risiko geopolitik.
Departemen Pertahanan AS pada bulan lalu menetapkan CXMT sebagai “Chinese Military Company”. Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa CXMT telah disetujui oleh komite antarlembaga AS untuk dimasukkan ke dalam Entity List, meski keputusan tersebut belum diterapkan.
CXMT berencana menggunakan dana hasil IPO untuk memperluas kapasitas produksi, meningkatkan teknologi manufaktur, serta membiayai penelitian dan pengembangan.
(fab/fab)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment