
Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah perusahaan di Jepang menjadi korban serangkaian serangan siber hebat. Kejadian ini bahkan memaksa pemerintah Jepang mendeklarasikan keadaan darurat keamanan siber.
The Financial Times mencatat lebih dari 20 perusahaan besar dilaporkan terkena serangan siber tersebut. Beberapa di antaranya adalah jaringan toko serba ada Lawson hingga operator penyewaan mobil Times Car.
Insiden tersebut mengakibatkan puluhan juta data pelanggan bocor dan raib. Di antaranya, sebanyak 1,67 juta alamat email pelanggan dari sistem pemesanan operator kereta api terbesar di Jepang, JR East, turut menjadi korban peretasan.
“Kondisinya sangat kritis,” ungkap Menteri Keamanan Siber Jepang, Toshiharu Furukawa, merespons rentetan serangan siber tersebut, dikutip dari PCMag, Senin (12/10/2026).
Sejumlah pihak menduga serangan ini dilancarkan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pasalnya, AI membuat aksi peretasan menjadi jauh lebih mudah dan efisien dalam hal waktu dibandingkan sebelumnya.
Managing Director Blackpanda Asia Timur Laut, Masaki Hiraoka, menjelaskan bahwa teknologi AI memungkinkan para peretas melancarkan serangan yang sebelumnya membutuhkan waktu sangat lama.
“Layanan atau target kecil yang sebelumnya dianggap tidak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, kini bisa menjadi target yang sangat layak,” ujar Hiraoka.
Sementara itu, Presiden S&J Corp, Nobuo Miwa, menambahkan bahwa AI memudahkan peretas dari luar Jepang untuk beraksi. Sebab, teknologi tersebut mampu menembus hambatan bahasa yang selama ini menjadi benteng pertahanan tersendiri bagi sistem di Jepang.
(fab/fab)
Leave a comment