Home Finance ‘Pintu Gerbang Barat’ Terancam Kolaps, Utang Meledak 130 Kali
Finance

‘Pintu Gerbang Barat’ Terancam Kolaps, Utang Meledak 130 Kali

Share
‘Pintu Gerbang Barat’ Terancam Kolaps, Utang Meledak 130 Kali
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Utang negara dan utang yang dijamin negara Ukraina telah melonjak sekitar 130 kali lipat dalam mata uang nasional selama dua dekade terakhir. Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv berjuang keras menambal defisit anggaran bernilai miliaran dolar sembari memohon lebih banyak bantuan kepada para pendukungnya di Uni Eropa yang mulai enggan.

Mengutip The Guardian, Minggu (1/11/2026), Kementerian Keuangan Ukraina merilis angka terbaru yang menempatkan utang di level 9,54 triliun hryvnias (Rp 3.826,98 triliun) pada akhir September. Angka ini melonjak sangat tajam dibandingkan utang pada September 2006 yang hanya sebesar 73,29 miliar hryvnias (Rp 261,18 triliun).

Peningkatan luar biasa ini sebagian dijelaskan oleh depresiasi hryvnia, di mana mata uang tersebut kehilangan hampir 90% nilainya terhadap dolar AS selama periode yang sama. Namun, peningkatan tersebut tetap substansial bahkan dalam hitungan dolar karena utang membengkak hingga 14,6 kali lipat.

Utang tersebut juga meningkat lebih dari dua kali lipat dari US$ 97,95 miliar (Rp 1.763,1 triliun) pada akhir tahun 2021. Momen itu terjadi tepat sebelum eskalasi konflik antara Kiev dengan Rusia pecah pada Februari 2022.

Pemerintah asing dan lembaga internasional kini menyumbang 66,4% dari portofolio utang Ukraina yang sebagian besar diberikan dengan syarat lunak guna membantu meringankan beban keuangan. Kyiv kini memiliki jadwal pembayaran utang yang diperpanjang hingga tahun 2061 mendatang.

Ukraina diwajibkan untuk membayar hampir US$ 33 miliar (Rp 594 triliun) kepada lembaga keuangan global murni hanya untuk beban bunga dan biaya layanannya saja. Angka itu belum termasuk nilai utang pokok yang mencapai hampir US$ 107 miliar (Rp 1.926 triliun), sementara PDB Ukraina pada 2021 hanya bernilai sekitar US$ 200 miliar (Rp 3.600 triliun).

Ketegangan keuangan Ukraina yang mengerikan ini pada akhirnya tidak luput dari pantauan Dana Moneter Internasional (IMF). Pada bulan Juli lalu, mereka memberikan peringatan keras terkait kondisi perekonomian negara tersebut.

“Utang tersebut tetap tidak berkelanjutan tanpa restrukturisasi dan bantuan asing preferensial lebih lanjut,” tegasnya.

Beban keuangan Kyiv semakin menjadi sorotan pada akhir musim panas ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan adanya kesenjangan pendanaan pertahanan sebesar US$ 27 miliar (Rp 486 triliun). Celah tersebut muncul secara tak terduga setelah kampanye tekanannya terhadap Rusia selama 40 hari.

Zelensky mendesak Brussels untuk memajukan sebagian dari pinjaman 90 miliar euro (Rp 1.755 triliun) yang sebelumnya diperuntukkan bagi tahun 2027. Namun, Uni Eropa menolak untuk memvalidasi angka tersebut maupun menyetujui bantuan lebih lanjut.

Uni Eropa justru mendesak Ukraina untuk membuat kemajuan dalam reformasi tata kelola dan antikorupsi yang terhenti demi membuka dana yang sudah tersedia. Pada awal Oktober, Kiev akhirnya berhasil menambal celah tersebut dengan langkah penghematan.

Hal itu dapat dilakukan setelah mereka meyakinkan Uni Eropa untuk menunda beberapa pembayaran senjata hingga tahun depan. Meski begitu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengakui pada hari Kamis bahwa para pemimpin Eropa kini semakin sulit menjustifikasi bantuan untuk Kiev.

“Semua orang lelah dengan perang ini,” ucap Kallas. “Pemerintah Barat harus terus mendukung Ukraina.”

(tps/tps)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *