Home Finance PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik
Finance

PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik

Share
PMI Manufaktur RI Kontraksi, PHK Naik
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Kinerja sektor manufaktur Indonesia melandai dan memasuki zona kontraksi di Agustus 2026.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Selasa (1/9/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,8 di Agustus 2026 atau mengalami kontraksi.
PMI berbalik arah dari sebelumnya fase ekspansif di Juli 2026.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Laporan S&P Global menunjukkan kondisi bisnis di sektor manufaktur Indonesia secara umum kembali relatif stabil pada pertengahan kuartal III tahun ini.



Penurunan kembali produksi manufaktur, meski relatif ringan, membebani kondisi sektor secara keseluruhan. Namun, pesanan baru meningkat tipis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Maryam Baluch, Ekonom di S&P Global Market Intelligence, mengatakan data PMI terbaru menunjukkan sedikit penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia.

Penurunan kembali pada produksi dan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum relatif netral.

Penurunan produksi terbaru dikaitkan dengan meningkatnya persaingan, kondisi permintaan yang lesu, serta harga barang yang lebih tinggi.

“Meski demikian, tekanan inflasi kembali mereda. Selain itu, kepercayaan bisnis juga terus pulih dari titik terendah pada April. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih terbatas, para produsen tetap berharap bahwa kondisi akan membaik,” ujarnya Maryam, dikutip dari website resmi S&P Global.

Aktivitas pembelian stabil dan persediaan bahan baku meningkat tipis di Agustus karena sejumlah perusahaan berupaya mengantisipasi potensi kenaikan harga bahan baku.

PHK Naik, Banyak Karyawan Resign

Sejalan dengan kembali turunnya produksi, sejumlah perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Tingkat ketenagakerjaan kembali masuk zona kontraksi akibat kombinasi pengunduran diri dan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai respons terhadap kebutuhan produksi yang lebih rendah.

Perusahaan lainnya melaporkan kesulitan mempertahankan jumlah karyawan akibat pengunduran diri secara sukarela.

Sementara itu, pekerjaan yang belum terselesaikan (backlog) meningkat untuk bulan kedua berturut-turut. Laju penumpukan masih moderat, tetapi lebih rendah dibandingkan Juli.

Di sisi lain, kondisi permintaan menunjukkan sejumlah tanda ketahanan.

Indeks penyesuaian musiman terkait pesanan baru kembali masuk zona ekspansi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Namun, angkanya hanya sedikit berada di atas level netral 50,0, yang menunjukkan kenaikan pesanan baru masih sangat kecil.

Sejumlah perusahaan melaporkan peningkatan permintaan dan bertambahnya permintaan dari pelanggan. Namun, kondisi tersebut sebagian besar diimbangi oleh perusahaan lain yang masih menghadapi permintaan yang lesu, persaingan yang semakin ketat, serta menurunnya daya beli pelanggan.

Setelah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut, aktivitas pembelian perusahaan stabil pada Agustus.

Meningkatnya arus pesanan baru mendorong sebagian perusahaan meningkatkan pembelian. Namun, rendahnya arus pesanan membuat perusahaan lainnya mengurangi aktivitas pembelian.

 

Perusahaan juga menghadapi waktu pengiriman bahan baku yang lebih lama. Namun, tingkat keterlambatan masih ringan dan hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juli.

Persediaan bahan baku meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meski hanya tipis. Dalam sejumlah kasus, perusahaan berupaya membangun stok pengaman untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan baku.

Sebaliknya, persediaan produk setelah produksi kembali dikurangi pada Agustus, mencatat penurunan untuk bulan keempat berturut-turut.

Laju pengurangan persediaan berada pada tingkat moderat, tetapi menjadi yang tercepat bersama dengan penurunan pada Mei 2025 dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Dari sisi harga, tekanan inflasi kembali mereda pada Agustus.

Meski demikian, tingkat inflasi harga bahan baku dan harga jual produk masih tergolong tinggi secara historis. Tingginya harga bahan baku dan kenaikan biaya dari pemasok mendorong peningkatan biaya operasional perusahaan, yang kemudian sering diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Kalangan bisnis juga masih optimis.

Tingkat kepercayaan bisnis naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan, seiring dengan harapan pelaku usaha terhadap kondisi permintaan yang lebih kuat dan kondisi pasar yang stabil untuk mendukung peningkatan produksi dalam 12 bulan ke depan.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *