Home Finance Politikus Jadi Profesi Paling Tidak Bisa Dipercaya
Finance

Politikus Jadi Profesi Paling Tidak Bisa Dipercaya

Share
Politikus Jadi Profesi Paling Tidak Bisa Dipercaya
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Keahlian dan kompetensi dapat menumbuhkan kepercayaan, tetapi kekuasaan dan popularitas tak serta-merta menghadirkan hal yang sama. Di mata publik, integritas dan kredibilitas justru menjadi penentu utama.

Hal ini tercermin dalam survei lintas negara pada 2026 yang menempatkan politikus sebagai profesi paling tidak dipercaya, sementara dokter dan ilmuwan menduduki dua posisi teratas.

Temuan tersebut berasal dari Ipsos Global Trustworthiness Index 2026, survei daring terhadap 23.537 orang dewasa di 31 negara pada 19 Juni-3 Juli 2026.

Ipsos menggunakan ukuran net trust, yaitu persentase responden yang menganggap suatu profesi dapat dipercaya dikurangi persentase yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Skor +43 untuk dokter, misalnya, berarti selisih 43 poin persentase antara kedua kelompok, bukan berarti 43% responden memercayai dokter.

Skor positif menunjukkan kepercayaan bersih, sedangkan skor negatif menunjukkan ketidakpercayaan bersih. Hasilnya merupakan rata-rata berbobot setara dari 31 negara, bukan berdasarkan jumlah penduduk masing-masing negara.


Politikus mencatat skor net trust terendah, minus 48. Hanya 13% responden menganggap mereka dapat dipercaya, sedangkan 61% menilainya tidak dapat dipercaya. Di bawahnya terdapat influencer media sosial dengan skor minus 44 dan menteri pemerintahan minus 37.

Sebagai konteks umum, rendahnya kepercayaan terhadap politikus sejalan dengan survei Pew Research Center di 25 negara pada 2025. Median 47% responden menilai hanya sedikit atau tidak ada politikus terpilih di negara mereka yang jujur.

Sebanyak 46% juga menilai hanya sedikit atau tidak ada pejabat yang memahami kebutuhan masyarakat biasa. Temuan ini memberi konteks tentang persoalan kejujuran dan keterwakilan, tetapi tidak membuktikan bahwa keduanya menjadi penyebab skor Ipsos 2026.

Persepsi atas integritas pemerintahan juga dapat memengaruhi kepercayaan terhadap institusi publik. Dalam Government at a Glance 2025, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menjelaskan bahwa persepsi tentang perilaku tidak etis, termasuk korupsi, suap, dan pilih kasih, dapat melemahkan kepercayaan terhadap institusi dan pejabat publik.

Di industri media, responden percaya kepada influencer media sosial dari data Ipsos hanya 14%.

Hal ini menjadikan influencer menghadapi persoalan kredibilitas terkait konten komersial. Studi dalam European Journal of Communication menemukan bahwa skeptisisme terhadap intensitas iklan dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap kredibilitas konten kreator.

Perbedaan kepercayaan juga terlihat di antara profesi dalam institusi atau industri yang sama. Pegawai pemerintahan dan aparatur sipil mencatat skor minus 9, atau 28 poin lebih tinggi daripada menteri pemerintahan.

Pembawa berita televisi memperoleh minus 3, lebih tinggi daripada jurnalis yang mencatat minus 10. Meski begitu, influencer berada jauh di bawah keduanya, dengan minus 44. Perbedaan ini menunjukkan bahwa publik tidak menilai seluruh profesi dalam pemerintahan atau media dengan cara yang sama, meski survei tidak menjelaskan alasan di balik kesenjangan tersebut.

Di luar kelompok dengan skor terendah itu, eksekutif periklanan mencatat minus 26, pemuka agama atau pendeta minus 11, bankir minus 10, pemimpin bisnis minus 8, dan pembawa berita televisi minus 3. Pollster berada di minus 2, sedangkan pengacara mencatat nol. Artinya, persentase yang percaya sama dengan persentase yang tidak percaya.

Dokter dan Ilmuwan Jadi Profesi Paling Dipercaya

Dokter berada di posisi teratas dengan skor net trust plus 43, disusul ilmuwan plus 42 dan guru plus 37. Menurut Ipsos, ketiga profesi ini menempati posisi teratas di 27 dari 31 negara yang disurvei.

Riset Pew Research Center di Amerika Serikat pada 2019 memberi konteks mengenai kepercayaan terhadap dokter.

Sebanyak 57% warga AS mengatakan dokter biasanya memperhatikan kepentingan terbaik pasien, 49% menilai dokter biasanya memberikan diagnosis dan rekomendasi pengobatan yang baik, dan 48% mengatakan dokter biasanya memberikan informasi yang adil dan akurat saat menyampaikan rekomendasi.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa persepsi tentang kepedulian terhadap pasien dan kemampuan profesional berkaitan dengan penilaian publik terhadap dokter.

Namun, riset Pew itu hanya mencakup Amerika Serikat pada 2019, bukan 31 negara dalam survei Ipsos 2026, sehingga tidak dapat dianggap sebagai penjelasan langsung atas hasil terbaru.

Ilmuwan berada di posisi kedua dengan skor plus 42. Meski tingginya skor ini konsisten dengan kepercayaan terhadap peran sains dalam menghasilkan pengetahuan, survei Ipsos hanya mengukur tingkat kepercayaan, bukan alasan di baliknya. Karena itu, peringkat tersebut tidak membuktikan bahwa responden memercayai ilmuwan secara khusus karena metode penelitian atau bukti ilmiah.

Selisih antara dokter dan politikus mencapai 91 poin persentase dalam skor net trust, menggambarkan jurang kepercayaan bersih antara profesi dengan nilai tertinggi dan terendah. Angka tersebut bukan berarti 91% responden lebih percaya kepada dokter daripada politikus.

Secara keseluruhan, survei Ipsos menunjukkan bahwa kepercayaan publik terkonsentrasi pada dokter, ilmuwan, dan guru, sementara politikus dan influencer menghadapi defisit terbesar.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *