
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Bertempat Istana Al Shati, Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab, pada Juli 2022, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menandatangani Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) Indonesia-Uni Emirat Arab yang telah ditunggu oleh kelompok usaha sejak lama, disaksikan oleh dua pemimpin negara, setelah melalui sepuluh bulan negosiasi.
Kesepakatan ini merupakan salah satu dari sejumlah perjanjian serupa yang dijalin UEA dengan ekonomi-ekonomi Asia yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari India hingga Korea Selatan. Perjanjian tersebut menjadi kemitraan ekonomi komprehensif ketiga bagi Indonesia, setelah pengaturan serupa dengan Australia pada 2020 dan European Free Trade Association (EFTA) pada 2021.
Perjanjian ini bertujuan menghapus hambatan perdagangan barang dan jasa, sekaligus menargetkan peningkatan perdagangan bilateral menjadi 10 miliar dolar AS (setara Rp176 triliun) dalam lima tahun, sebagai bagian dari upaya UEA mendiversifikasi ekonominya dari minyak dengan memposisikan diri sebagai pusat bagi pasar-pasar Asia yang sedang berkembang. Berdasarkan kesepakatan itu, nilai perdagangan jasa tahunan antara UEA dan Indonesia diproyeksikan mencapai 630 juta dolar AS pada 2030.
Empat tahun kemudian, kendati perlambatan ekonomi global akibat perang di Iran, perdagangan antara kedua negara tetap kokoh dan telah melampaui angka 6 miliar dolar AS pada 2025. Dunia usaha Indonesia merasakan manfaat langsung dari perkembangan ini.
Pada tahun 2024, perdagangan non-migas antara Dubai dan Indonesia mencapai lebih dari 2,7 miliar dolar AS (sekitar Rp47 triliun), sementara jumlah pelaku usaha Indonesia yang terdaftar di Dubai Chamber of Commerce kini mencapai hampir 200 perusahaan, laju pertumbuhan yang menempatkan komunitas usaha Indonesia sebagai salah satu yang berkembang paling cepat di antara komunitas Asia di kota tersebut. Pada awal tahun 2025, lembaga ini mengumumkan pembentukan Indonesian Business Council untuk memperkuat jejaring dan kemitraan dagang antara pelaku usaha Indonesia dan Emirat.
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan target Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen pada tahun mendatang. Meski pertumbuhan melambat akibat berbagai peristiwa sepanjang tahun ini, arah jangka panjang perekonomian nasional tetap kuat. Didorong oleh perkembangan tersebut, generasi baru pengusaha muda yang ambisius kini mulai bermunculan.
Generasi saat ini tengah menjajaki peluang internasional untuk babak berikutnya dari perjalanan usaha mereka. Peran Dubai sebagai pusat global memberi daya tarik tersendiri, menghubungkan perusahaan Indonesia tidak hanya dengan kawasan Timur Tengah, tetapi juga dengan pelanggan dan investor di Eropa dan Afrika.
Peran semacam ini semakin sering dijalankan kota tersebut bagi negara-negara tetangganya di Asia Timur dan Asia Tenggara, menawarkan satu basis operasional untuk menjangkau tiga benua sekaligus.
Lewat populasi diaspora Indonesia yang sudah ada dan terus bertambah di kota tersebut, praktik usaha yang kondusif termasuk tingkat perpajakan rendah, serta arus modal dan talenta global yang stabil, Dubai lama menjadi pilihan yang masuk akal. Model yang diterapkan kota ini telah teruji dan terbukti mampu mempertahankan talenta serta investasi bahkan pada masa-masa paling bergejolak sekalipun.
Peluang yang muncul dari perluasan hubungan dagang Indonesia dan UEA sangat menjanjikan bagi para wirausahawan Indonesia. Sejauh ini, sebagaimana lazim terjadi pada tahap awal keterlibatan suatu negara dengan Dubai, perdagangan masih didominasi oleh badan usaha milik negara raksasa seperti PT Pertamina dan PT Bank Syariah Indonesia, di samping kelompok usaha swasta besar seperti Maspion Group dan PT Indofood, yang memasok UEA dengan salah satu ekspor budaya terpenting Indonesia, yakni mi instan Indomie.
Banyak pemimpin dunia usaha Indonesia memuji perkembangan yang ditawarkan Dubai, sebuah transformasi menuju pasar yang memungkinkan para pendiri usaha mengekspor dan membesarkan merek mereka. Dian Faqihdien Suzabar, ketua Indonesian Business Council of Dubai, memuji kemampuan kota tersebut dalam menghubungkan, membiayai, mendistribusikan, dan mengembangkan skala usaha hingga ke pasar global.
Sejumlah perwakilan dewan usaha Asia Tenggara lainnya yang berbasis di Dubai menyampaikan pandangan serupa dalam sesi tertutup bagi pemimpin usaha ASEAN terpilih pada September 2026. Beliau juga menjelaskan bahwa tantangan berikutnya adalah mengubah peluang menjadi proyek yang layak dibiayai, usaha yang layak diinvestasikan, dan platform internasional yang dapat diskalakan.
Salah satu jalan keluar bagi tantangan tersebut terletak pada sektor fintech. Global Financial Centres Index menempatkan Dubai sebagai pusat keuangan terdepan dunia untuk fintech dan peringkat kedua untuk jasa profesional. Dubai International Financial Centre (DIFC) kini menaungi 1.933 perusahaan di bidang kecerdasan buatan, fintech, dan inovasi.
Bagi sektor fintech dan ekonomi digital Indonesia yang tumbuh pesat, salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, Dubai menyediakan panggung pertumbuhan ideal berupa modal, keahlian, dan dukungan regulasi. Innovation Testing Licence milik DIFC menawarkan ruang uji regulasi (regulatory sandbox) untuk mencoba produk kepada pelanggan sebelum memperoleh izin penuh.
Pada saat yang bersamaan, akselerator FinTech Hive mempertemukan perusahaan rintisan dengan bank dan investor untuk pendanaan. Melalui target awal CEPA sebesar 630 juta dolar AS untuk perdagangan jasa antara kedua negara, sektor fintech akan menjadi salah satu penggerak utama pencapaian angka tersebut.
Target perdagangan sebesar 10 miliar dolar AS yang ditetapkan pada 2022 memang ambisius, namun kemajuan yang telah dicapai sejauh ini cukup menggembirakan. Bagi dunia usaha dan perusahaan rintisan Indonesia yang tengah merancang langkah ekspansi berikutnya, sebagaimana halnya ekonomi Asia lain yang turut dilirik Abu Dhabi, CEPA Indonesia-UEA telah menjadikan Dubai sebagai pilihan yang sangat logis.
(miq/miq)
Leave a comment