Home Finance Rekor! Imbal Hasil Obligasi Amerika Tembus 5%, Tertinggi 19 Tahun
Finance

Rekor! Imbal Hasil Obligasi Amerika Tembus 5%, Tertinggi 19 Tahun

Share
Rekor! Imbal Hasil Obligasi Amerika Tembus 5%, Tertinggi 19 Tahun
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar obligasi global kembali diguncang aksi jual. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah sejumlah negara utama melonjak ke level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008 bahkan sejak 2007.

Di Amerika Serikat (AS), yield Treasury tenor 10 tahun bahkan menembus 5,004% bahkan sempat menembus 5,041% pada hari ini, Selasa (15/9/2026). Posisi ini adalah yang tertinggi sejak penutupan 9 Juli 2007 atau 19 tahun terakhir.

Lonjakan imbal hasil ini meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah dan korporasi sekaligus memperbesar tekanan terhadap negara-negara dengan tingkat utang tinggi.

Kenaikan yield terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan arah kebijakan bank sentral. Konflik yang semakin meluas di Timur Tengah telah mendorong harga minyak kembali menembus US$100 per barel.



Lonjakan harga energi tersebut berpotensi kembali mendorong inflasi sehingga memberikan tekanan kepada bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Pasar memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 pada Rabu (16/9/2026). Bank Sentral Jepang (BoJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat (18/9/2026).

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga pada pekan lalu dan masih membuka peluang untuk melakukan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

 

Kenaikan yield tidak hanya berdampak terhadap investor obligasi.

Bagi pemerintah, yield yang lebih tinggi berarti biaya untuk menerbitkan utang baru ikut meningkat. Beban pembayaran bunga utang juga semakin besar sehingga berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk membiayai program sosial, pertahanan maupun belanja pemerintah lainnya.

“Yield 5% bukan masalah jika ekonomi tumbuh 6,5%. Namun, jika pertumbuhan hanya 5% sementara yield berada di 5%, ceritanya bisa berbeda,” kata Samy Chaar, Chief Economist Lombard Odier, dikutip dari Reuters.

Yield Treasury Jadi Alarm Pasar

Kenaikan yield Treasury AS tenor 10 tahun hingga di atas 5% menjadi perhatian besar pasar global. Instrumen tersebut menjadi salah satu acuan utama dalam menentukan harga berbagai aset keuangan, mulai dari obligasi korporasi hingga pinjaman.

Dengan demikian, kenaikan yield Treasury dapat ikut meningkatkan biaya pendanaan di berbagai negara.

Namun, kemampuan AS menghadapi kenaikan biaya utang dinilai masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain karena pertumbuhan ekonomi AS relatif kuat.

Sejumlah analis menilai AS mungkin masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup untuk menopang biaya pinjaman 10 tahun di atas 5%. Namun, negara lain belum tentu memiliki kemampuan yang sama.

Investor Kehilangan Kepastian

Tekanan di pasar obligasi juga diperburuk oleh meningkatnya ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral.

Ketua The Fed Kevin Warsh dikenal kurang menyukai kebijakan forward guidance, yakni pemberian sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Kondisi tersebut membuat investor harus lebih banyak membaca data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral untuk menentukan arah suku bunga.

 

“Semua bank sentral kini memasuki era baru tanpa forward guidance. Mereka hanya berupaya membangun kredibilitas dan kepercayaan. Namun, seperti yang terlihat di pasar obligasi saat ini, pendekatan tersebut belum berhasil,” ujar Shriya Samarth, Head of EMEA Rates StoneX kepada Reuters.

Menurutnya, pasar saat ini menghadapi sejumlah persoalan secara bersamaan, mulai dari lonjakan belanja modal untuk kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran fiskal hingga tingginya utang pemerintah.

“Belanja modal AI menambah persoalan. Ada kecemasan mengenai kebijakan fiskal. Utang AS kini mencapai US$40 triliun. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Inggris dan zona euro juga berada pada level historis tinggi,” katanya.

Yield Global Ikut Melejit

Kenaikan yield tidak hanya terjadi di AS. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun menembus 3%, level tertinggi dalam tiga dekade.

Di Jerman, yield tenor 10 tahun mencapai sekitar 3,55%, mendekati level tertinggi sejak 2009. Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun juga berada di dekat level tertinggi dalam 18 tahun.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun mencapai 5,45%, level tertinggi sejak 2007.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar obligasi telah menyebar ke berbagai negara utama.



Saham Belum Tumbang, Tapi Risiko Meningkat

Menariknya, kenaikan yield obligasi belum mampu menghentikan reli pasar saham global.

Bursa saham global justru mencatat kenaikan kuat sepanjang tahun ini, terutama saham-saham yang terkait dengan booming kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan investasi di sektor AI telah mendorong peningkatan belanja modal, pembiayaan dan pertumbuhan laba perusahaan.

Namun, kenaikan yield tetap menjadi ancaman bagi pasar saham karena dapat meningkatkan biaya modal dan membuat aset berisiko menjadi relatif kurang menarik dibandingkan obligasi.

 

“Jika yield terus naik, tentu akan ada dampak lanjutan ke berbagai pasar,” kata Khoon Goh, Head of Asia Research ANZ.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah untuk menahan kenaikan yield jangka panjang, termasuk meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah (buyback).

Namun, langkah tersebut sejauh ini belum mampu menghentikan tekanan jual secara signifikan.

James Bilson, Global Fixed Income Strategist Schroders, menilai kenaikan yield AS saat ini belum menunjukkan peningkatan risiko kredit pemerintah.

Menurutnya, persoalan utama pasar obligasi saat ini justru terletak pada kebijakan fiskal dan inflasi.

“Gabungan kebijakan yang ada saat ini terlalu longgar untuk menghasilkan inflasi yang bertahan di level 2%,” ujarnya.

“Ini adalah akar penyebab utama pelemahan pasar obligasi saat ini. Jika inflasi dapat diatasi, banyak persoalan lainnya juga akan menjadi jauh lebih mudah diselesaikan.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *