
Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia bakal punya pabrik baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle) besar. Pabrik itu dimiliki PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Balil Lahadalia mengatakan pembangunan pabrik itu sudah rampung dan siap beroperasi. Peresmiannya juga tinggal menunggu jadwal dari Presiden Prabowo Subianto.
“Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi. Kalau teman-teman mau lihat, silahkan,” ungkap Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, beberapa waktu yang lalu.
Pabrik baterai ini disebutnya akan jadi yang berskala besar kedua di Indonesia. Sebelumnya telah beroperasi pabrik baterai yang dioperasikan PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang dan diresmikan Juli 2024 lalu.
“Jadi sudah ada dua pabrik baterai yang kita bangun ya. Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi. Satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM. Ini yang disebut dengan hilirisasi yang ekosistem baterainya kita bangun semua di negara kita,” ungkap Bahlil.
CATIB merupakan perusahaan patungan Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL anak usaha dari raksasa produsen baterai terbesar asal China, Contemporary Amperex Technology Co.Limited (CATL).
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif sempat mengatakan kapasitas produksi tahap pertama pabrik baterai mencapai 6,9 Giga Watt hour (GWh). Ditemui Juni lalu, dia mengatakan progress pabrik sudah mencapai 90%.
Dia mengatakan pabrik tidak akan mengalami kesulitas mencari pasar saat mulai beroperasi nanti. Sebab pembelinya sudah tersedia, karena konsep industri baterai dibangun berdasarkan permintaan yang telah ada dan membuatnya bisa langsung berjalan.
“Jadi pada prinsipnya buyer sudah siap sehingga nanti ketika siap untuk komersial itu memang kita sudah langsung berproduksi secara komersial. Jadi sebetulnya saat ini trial-trial production juga sudah berjalan di pabrik PT CATIB ini,” katanya.
Dia juga menjelaskan rantai nilai nikel pada sektor pertambangan hingga menjadi baterai mengalami proses yang cukup panjang. Mulai dari kegiatan penambangan, dilanjutkan dengan pengolahan awal kemudian produksi material baterai, hingga akhirnya produksi baterai.
CATIB berada di posisi paling hilir dalam rantai nilai itu. Keberadaan perusahaan dikatakan Aditya menjadi bagian penting dalam keseluruhan ekosistem industri nikel terintegrasi.
“Kapasitas CATIB ini kan di fase pertama ini 6,9 GWh dan akan segera kita ekspansi ke minimal setidaknya 15 GWh. Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik,” ujarnya.
Pembangunan pabrik yang berada di Artha Industrial Hill (AIh) & Karawang New Industry City (NICC) Karawang, Jawa Barat dimulai pada 29 Juni 2025. Prabowo meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking saat itu.
Artinya jika pabrik mulai beroperasi bulan ini, butuh 13 bulan pabrik dibangun.
Sementara itu, Indonesia tengah membangun ekosistem pabrik baterai EV terintegrasi. Proyek itu disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dengan dukungan nikel sebagai bahan baku komponen utama baterai yang sangat besar.
Total investasi proyek baterai terintegrasi mencapai US$5,9 miliar. Proyek itu terdiri dari enam usaha patungan dari proyek hulu ke hilir.
Berikut rinciannya:
Hulu:
JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.
JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2027 mendatang.
JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
Hilir:
JV 4: Proyek material baterai yang akan memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal mulai berproduksi pada tahun 2026 untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.
JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapasitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini memiliki target awal tahun 2031 mendatang.
(pgr/pgr)
Leave a comment