Home Finance RI Bisa Ketiban ‘Durian Runtuh’ Rp 679,2 T di 2026 dari Proyek Ini
Finance

RI Bisa Ketiban ‘Durian Runtuh’ Rp 679,2 T di 2026 dari Proyek Ini

Share
RI Bisa Ketiban ‘Durian Runtuh’ Rp 679,2 T di 2026 dari Proyek Ini
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan nilai ekspor hasil hilirisasi, khususnya nikel, akan melonjak hingga menyentuh US$ 38-40 miliar pada 2026. Nilai tersebut setara Rp 679,2-714,9 triliun (asumsi kurs Rp 17.874 per US$).

Bahlil menyebutkan proyeksi nilai tambah tersebut didorong oleh regulasi pemerintah untuk melarang ekspor bijih nikel mentah dan mewajibkan pembangunan smelter di dalam negeri.

Bahlil membeberkan bahwa sebelum kebijakan larangan ekspor bijih nikel diberlakukan pada 2017-2018, nilai ekspor nikel Indonesia dalam bentuk bijih (ore) hanya berada di angka US$ 3,3 miliar.

Namun setelah dilakukan pengolahan di dalam negeri, nilai ekspor nikel melesat tajam menjadi US$ 34 miliar pada 2023 dan diperkirakan akan terus meningkat di 2026.

“Di tahun 2017-2018 kita ambil contoh nikel, itu ekspor kita waktu itu hanya US$ 3,3 miliar. Kita menyetop ekspor ore nikel, kemudian kita mewajibkan untuk membangun smelter semuanya. Dan di 2023 kita sudah mampu mencapai ekspor kita US$ 34 miliar. 2026 ini bisa mencapai kurang lebih sekitar US$ 38-40 miliar di 2026 ini,” kata Bahlil dalam Investor Daily Summit 2026, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Kendati peningkatan nilai ekspor nikel terhitung pesat, Bahlil menggarisbawahi kondisi industri smelter nikel yang beroperasi saat ini. Dia membeberkan sebagian besar smelter nikel dalam negeri masih menghasilkan produk setengah jadi pada kisaran 50%-60%, sehingga belum mencapai tahap produk akhir bernilai tinggi.

“Smelter yang ada sekarang untuk dari sektor nikel itu masih mayoritas itu adalah produk yang baru 50%-60%, belum sampai produk hilir, masih setengah bahan baku. Yang kemudian itu dibawa ke luar negeri untuk dijadikan sebagai bahan baku mereka dan kemudian membawa lagi ke kita dalam bentuk barang jadi,” imbuhnya.

Adapun, untuk memaksimalkan dampak ekonomi, pemerintah telah menyusun peta jalan (blueprint) hilirisasi yang mencakup 28 komoditas di empat sektor utama, yaitu mineral batu bara dan gas bumi, perikanan, pertanian, serta perkebunan dan kehutanan. Total potensi nilai peta jalan hilirisasi tersebut diperkirakan menembus US$ 618 miliar.

“Ini desain yang kita buat untuk hilirisasi di 4 sektor: mineral batu bara dan gas bumi, kemudian adalah perikanan pertanian, perkebunan dan kehutanan. Itu semua sudah ada di master plan kita,” paparnya.

Bahlil menambahkan bahwa percepatan hilirisasi dan industrialisasi tersebut akan menjadi sektor untuk mengubah struktur ekonomi nasional dari berbasis konsumsi menjadi produktif.

“Dan rencana kita dalam rangka pembangunan ini tidak semuanya mesti di Jawa. Harus kita letakkan juga di daerah-daerah di mana mendekatkan dengan bahan baku daripada industri itu sendiri,” tandasnya.

(wia)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *