Home Finance RI Kebut Hilirisasi Industri Darah, Perusahaan Jepang Investasi Rp18 T
Finance

RI Kebut Hilirisasi Industri Darah, Perusahaan Jepang Investasi Rp18 T

Share
RI Kebut Hilirisasi Industri Darah, Perusahaan Jepang Investasi Rp18 T
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Kesehatan terus mempercepat transformasi sistem kesehatan Indonesia. Terdapat enam pilar transformasi tersebut, salah satunya transformasi ketahanan kesehatan yang menjadi pilar ketiga.

Urgensi pilar tersebut terlihat sangat nyata saat pandemi Covid-19, di mana Indonesia kesulitan memperoleh alat kesehatan hingga obat-obatan, termasuk di antaranya obat-obatan esensial kategori plasma derived product (PDP) seperti albumin, IVIG/Gamaras, Factor-8, dan Factor-9.

“Obat-obatan PDP ini merupakan hasil hilirisasi dari darah -> plasma -> PDP,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).

Sebagai langkah nyata mendukung investasi hilirisasi industri darah, Kemenkes melonggarkan regulasi mengenai pembangunan pabrik plasma. Setahun berselang, investasi SK Plasma masuk bermitra dengan Indonesian Investment Authority (INA).

“Tahun 2026, pabrik dengan kapasitas 600 ribu liter dengan nilai investasi $ 300 juta (Rp 5,4 triliun) selesai dibangun. Rencana beroperasi penuh setelah memperoleh izin dari BPOM tahun 2027,” kata Budi.

Ia pun telah melakukan kunjungan kerja ke fasilitas hilirisasi milik SK Plasma Core Indonesia di Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026). Kunjungan ini dilakukan guna meninjau langsung kesiapan komersialisasi pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia.

Dalam arahannya, Budi menegaskan Kemenkes akan memfasilitasi kemitraan strategis ini melalui integrasi ekosistem kelembagaan pemerintah agar proses hilirisasi berjalan optimal.

“Kami pasti akan mendukung penuh dan mencari cara terbaik untuk menstrukturkan kerjasama ini dengan baik. Pemerintah dapat bergerak melalui integrasi dengan institusi seperti Danantara, maupun sinergi dengan holding BUMN farmasi seperti Bio Farma,” katanya seperti dikutip siaran pers, Kamis (16/7/2026).

Lebih lanjut, Budi memastikan kerja sama ini benar-benar berjalan dan memberikan dampak nyata, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas.

“Ke depan, kita akan menyusun peta jalan jangka panjang industri layanan kesehatan Indonesia untuk 5, 15, hingga 30 tahun mendatang yang mencakup sektor farmasi, layanan rumah sakit, hingga alat kesehatan. Jika kita bisa mengulang kecepatan pembangunan pabrik plasma ini untuk produksi bahan baku obat lokal, vaksin, dan obat inovatif lainnya, ketahanan kesehatan kita akan sangat kuat,” lanjutnya.

Apresiasi pemerintah terhadap efisiensi regulasi dan kecepatan eksekusi di lapangan terbukti dari lini masa proyek yang berjalan masif sejak perubahan regulasi dilakukan pada tahun 2023, hingga ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2027.

Menanggapi dukungan penuh dari Kemenkes, Presiden Direktur SKPlasma Core Indonesia Hyunho Roh menyatakan kesiapannya untuk melangkah ke fase berikutnya, termasuk pengembangan bank plasma di Indonesia serta riset farmasi tingkat lanjut.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan berkelanjutan dari Kementerian Kesehatan. Saat pertama kali kami datang ke Kemenkes untuk meminta izin usaha, kami berjanji akan membangun pabrik fraksionasi plasma ini dalam waktu dua tahun, dan hari ini pabrik tersebut telah selesai dibangun. Saat ini kami sedang menunggu proses komersialisasi,” Ujar Hyunho.

SKPlasma Core Indonesia siap memulai perjalanan baru bersama Indonesia, tidak hanya untuk pengumpulan plasma melalui bank plasma, tetapi juga mengembangkan industri baru di bidang farmasi, manufaktur API lokal, serta pengembangan vaksin.

“Jika Kemenkes memberikan kesempatan berikutnya, kami akan memberikan kemampuan terbaik kami untuk menjaga komitmen tersebut,” ungkap Hyunho.

Melalui kunjungan ini, Kemenkes akan terus mengawal regulasi dari sisi hulu hingga hilir, dengan fokus jangka pendek pada penguatan sisi pasokan (supply side) di pusat-pusat plasma (plasma centers) nasional demi menjamin ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.

Investasi Takeda
Tahun ini, lanjut dia, Takeda, perusahaan asal Jepang yang merupakan salah satu perusahaan PDP terbesar dunia, menjadi perusahaan plasma ke-2 yang akan berinvestasi lebih dari US$ 1 miliar (Rp 18 triliun), untuk membangun pabrik PDP dengan kapasitas 1.000.000 liter/tahun.

Budi menegaskan bahwa kemitraan strategis ini merupakan langkah konkret pemerintah untuk memastikan kemandirian dan akses berkelanjutan terhadap terapi esensial bagi masyarakat.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan,” ujar Budi melalui siaran pers yang diberikan di Jakarta (13/7/2026).

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS (Rp539 miliar) untuk tahap pengembangan awal selama dua tahun. Investasi ini dialokasikan untuk mendirikan beberapa bank plasma di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.

Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam proses penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda, dengan komitmen mengutamakan kebutuhan domestik. Secara paralel, Takeda juga mengkaji pemenuhan regulasi untuk membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di dalam negeri.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Saat ini, Indonesia dan sebagian besar negara ASEAN masih menghadapi tantangan akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis (underdiagnosis) serta terbatasnya kesadaran masyarakat akan kondisi medis yang membutuhkan PODP.

Kemitraan strategis lintas sektor ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyatakan, kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang yang membawa peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

“Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju,” kata Rosan.

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad mengapresiasi perluasan kolaborasi ini. Ia menyebut Takeda berkomitmen memanfaatkan keahlian globalnya dalam sains plasma untuk mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia, termasuk membuka lapangan kerja baru berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal.

(miq/miq)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *