
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan material beton inovatif untuk infrastruktur pesisir. Langkah ini menjadi bagian dari upaya riset agar kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah tidak tenggelam.
Mengutip laman BRIN, Minggu (8/11/2026), material beton tersebut berbasis abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) atau dikenal sebagai FABA. Pengembangan teknologi pelindung pesisir ini dibahas dalam webinar nasional pada Jumat (30/10) untuk menghadapi abrasi dan banjir rob.
Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN Teguh Muttaqie menjelaskan setiap wilayah Pantura memiliki karakteristik yang berbeda. Penanganannya jelas membutuhkan pendekatan terintegrasi yang mempertimbangkan berbagai aspek mulai dari teknis, ekonomi, hingga lingkungan.
“Kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan solusi dari setiap permasalahan, baik dari segi tekno-ekonomi hingga dampak terhadap lingkungan hidup di sekitar Pantura,” paparnya.
Salah satu teknologi yang sedang dikaji secara mendalam untuk perlindungan pesisir adalah tanggul laut raksasa atau giant sea wall. Pengembangannya dipastikan akan melibatkan kolaborasi erat antara lembaga riset, industri, dan pemerintah daerah.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Cuk Supriyadi Ali Nandar turut menekankan pentingnya riset kolaboratif lintas sektor ini. Implementasi tanggul laut raksasa tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan melihat kesiapan wilayah percontohan.
“PRTH mendorong riset untuk menjawab permasalahan Pantura dengan solusi konkret,” tuturnya.
Desa Timbulsloko di Demak kini telah disiapkan secara khusus sebagai laboratorium hidup untuk menguji coba teknologi ini. Kepala Desa Timbulsloko H. Nadhiri mengungkap permukiman dan infrastruktur desanya selama ini memang kerap rusak akibat terendam air laut.
Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN Ridwan Budi Prasetyo menyebut fondasi beton antikorosi adaptif pesisir ini memanfaatkan FABA dari limbah batu bara. Material tersebut diketahui memiliki kekuatan mekanik yang sangat tinggi dengan umur layanan mencapai 20 hingga 25 tahun.
Inisiatif BRIN ini mendapat dukungan penuh dari Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ). Deputi Bidang Pengelolaan Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur BOPPJ Agus Adriyanto menegaskan tanggul laut raksasa adalah solusi terpadu untuk melindungi aset nasional.
Dari sisi industri, inovasi ini juga mendapat sambutan baik dari PT PLN (Persero) UIT TJB melalui MAN K3 Nandi Hidayat. Pemanfaatan limbah batu bara menjadi material beton geopolimer ini menjadi bentuk nyata penerapan ekonomi sirkular dalam infrastruktur pesisir.
(tps/wur)
Leave a comment