Home Finance RI Punya Icomex, Ini 11 Bursa Mineral Logam & Komoditas Terbesar Dunia
Finance

RI Punya Icomex, Ini 11 Bursa Mineral Logam & Komoditas Terbesar Dunia

Share
RI Punya Icomex, Ini 11 Bursa Mineral Logam & Komoditas Terbesar Dunia
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis atau Indonesia Commodity Exchange (Icomex) membuat bursa mineral dan logam dunia kembali menjadi perhatian.

Icomex ditargetkan beroperasi pada 1 Januari 2027. Pemerintah berharap bursa tersebut dapat menjadi tempat perdagangan komoditas strategis sekaligus menghasilkan Indonesia Reference Price sebagai harga acuan nasional.

Sebelum Indonesia merencanakan Icomex, sejumlah bursa komoditas dunia telah lebih dahulu menjadi pusat perdagangan logam dasar, logam mulia, bijih besi, ferroalloy, hingga mineral untuk baterai dan energi baru.

Namun, tidak semua bursa dan kontrak memiliki tingkat likuiditas yang sama. Beberapa bursa menjadi benchmark global, sebagian kuat di pasar regional, sementara lainnya menguasai komoditas khusus.


London Metal Exchange atau LME merupakan salah satu bursa paling berpengaruh dalam pembentukan harga logam dasar dunia.

Bursa yang berbasis di Inggris ini memperdagangkan aluminium, tembaga, nikel, timah, seng, dan timbal melalui kontrak berjangka, opsi, serta penyerahan fisik.

Pada 2025, rata-rata lebih dari 170.000 lot tembaga diperdagangkan setiap hari. Harga LME juga masih digunakan Indonesia sebagai salah satu acuan dalam menentukan Harga Mineral Acuan nikel.

2. Commodity Exchange

Commodity Exchange atau COMEX merupakan bagian dari CME Group di Amerika Serikat.

Bursa ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan kontrak berjangka dan opsi emas, perak, serta tembaga terbesar dunia. Kontraknya digunakan perusahaan tambang, bank, investor, dan industri pengguna untuk perdagangan maupun lindung nilai.

Pada Juni 2026, volume COMEX Gold mencapai sekitar 3,30 juta kontrak. Sementara itu, COMEX Copper mencatat 1,85 juta kontrak dan COMEX Silver sekitar 1,57 juta kontrak.

3. Shanghai Futures Exchange

Shanghai Futures Exchange atau SHFE merupakan salah satu bursa logam terbesar di Asia.

Produk yang tersedia mencakup tembaga, aluminium, seng, timbal, nikel, timah, alumina, emas, perak, serta berbagai produk baja.

Posisi SHFE menjadi penting karena China merupakan salah satu produsen, pengolah, dan konsumen logam terbesar dunia. Pergerakan harga SHFE sering digunakan untuk membaca kondisi permintaan industri serta pasar fisik logam di China.

4. Dalian Commodity Exchange

Dalian Commodity Exchange atau DCE memiliki posisi penting dalam perdagangan bijih besi.

Selain bijih besi, bursa ini memperdagangkan kokas dan batu bara kokas yang menjadi bahan penting dalam industri pembuatan baja.

Harga DCE banyak diperhatikan perusahaan tambang, pedagang komoditas, dan produsen baja. Hal ini tidak lepas dari posisi China sebagai konsumen dan importir bijih besi terbesar dunia.

5. Singapore Exchange

Singapore Exchange atau SGX menjadi salah satu pusat perdagangan derivatif bijih besi yang dapat diakses pelaku pasar internasional.

SGX menawarkan kontrak berjangka, swap, dan opsi bijih besi. Produk tersebut banyak digunakan perusahaan tambang, produsen baja, pedagang komoditas, serta lembaga keuangan.

Pada Maret 2026, volume kontrak berjangka dan opsi bijih besi SGX mencapai 7,15 juta kontrak. Bursa ini menunjukkan bahwa negara nonprodusen juga dapat menjadi pusat pembentukan harga komoditas.

6. Multi Commodity Exchange of India

Multi Commodity Exchange of India atau MCX merupakan salah satu bursa komoditas utama India.

Produk logamnya meliputi emas, perak, tembaga, aluminium, seng, timbal, dan nikel. MCX juga menyediakan beberapa ukuran kontrak untuk memenuhi kebutuhan perusahaan maupun peserta dengan transaksi lebih kecil.

Emas dan perak menjadi produk logam yang paling menonjol. MCX memiliki pengaruh besar di India, tetapi harga logam dasarnya belum menjadi benchmark global sekuat LME.

7. Shanghai Gold Exchange

Shanghai Gold Exchange atau SGE merupakan pusat perdagangan fisik dan produk keuangan logam mulia di China.

SGE memperdagangkan emas, perak, dan platinum melalui transaksi spot, forward, swap, produk margin, serta penyerahan fisik. Bursa tersebut juga memiliki International Board yang dapat diakses institusi asing.

Pada Juni 2026, volume perdagangan emas SGE mencapai sekitar 1,24 juta kilogram, sedangkan perdagangan perak mencapai 8,43 juta kilogram. Namun, aktivitas platinum masih jauh lebih kecil.

8. Guangzhou Futures Exchange

Guangzhou Futures Exchange atau GFEX berfokus pada mineral yang berkaitan dengan kendaraan listrik, energi baru, dan transisi hijau.

Produk yang diperdagangkan mencakup litium karbonat, silikon industri, polysilicon, platinum, dan palladium.

Litium karbonat merupakan bahan utama baterai kendaraan listrik. Sementara silikon industri dan polysilicon dibutuhkan dalam industri panel surya. Kontrak litium dan silikon telah aktif, sedangkan perdagangan platinum dan palladium masih dalam tahap pengembangan.

9. Zhengzhou Commodity Exchange

Zhengzhou Commodity Exchange atau ZCE memperdagangkan ferrosilicon dan manganese silicon yang dibutuhkan industri baja.

Ferrosilicon digunakan sebagai bahan campuran dan deoksidasi, sedangkan manganese silicon membantu meningkatkan kekuatan serta ketahanan baja.

Pada Maret 2026, perdagangan ferrosilicon mencapai sekitar 7,8 juta kontrak. Manganese silicon mencatat sekitar 12,66 juta kontrak. Meski aktif, harga kedua produk tersebut masih lebih berpengaruh di pasar China.

10. Osaka Exchange-JPX

Osaka Exchange yang berada dalam kelompok Japan Exchange Group memperdagangkan produk logam mulia seperti emas, perak, platinum, dan palladium.

Sebagian kontrak komoditas tersebut sebelumnya berada di Tokyo Commodity Exchange sebelum dialihkan ke Osaka Exchange.

Emas dan platinum memiliki pasar yang relatif lebih aktif. Sementara itu, transaksi perak dan palladium cenderung lebih tipis, bahkan kontrak palladium tidak selalu mencatat transaksi setiap hari.

11. Dubai Gold & Commodities Exchange

Dubai Gold & Commodities Exchange atau DGCX mulai beroperasi pada 2005 untuk memperkuat posisi Dubai sebagai pusat perdagangan komoditas Timur Tengah.

Produk logamnya mencakup emas, perak, tembaga, emas dengan penyerahan fisik, dan produk spot emas.

Emas menjadi produk logam paling menonjol di DGCX. Sementara itu, kontrak perak dan tembaga tersedia, tetapi volume perdagangannya tidak selalu ramai sehingga belum menjadi benchmark global.

Indonesia sendiri telah memiliki ICDX dan JFX yang memperdagangkan komoditas seperti emas dan timah. Harga penyelesaian timah dari kedua bursa tersebut juga telah digunakan pemerintah untuk menetapkan Harga Mineral Acuan beberapa jenis ingot timah.

Keberadaan ICDX dan JFX dapat menjadi modal awal pengembangan Icomex. Berkaca dari bursa dunia, Indonesia perlu memilih komoditas unggulan yang benar-benar dapat menarik transaksi besar, seperti nikel dan produk turunannya, timah, ferroalloy, batu bara, serta CPO.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *