Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman berbicara mengenai Logam Tanah Jarang atau Rare Earth Elements (REE). Mineral kritis milik Indonesia ini dinilai bisa menjadi sebagai penentu daya saing global, ketahanan ekonomi, dan pertahanan nasional Indonesia.
Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa Indonesia dikaruniai potensi besar berupa cadangan sekitar 350 ribu ton REO (Rare Earth Oxides). Namun demikian, potensi tersebut belum memberikan nilai tambah yang optimal bagi perekonomian nasional.
Padahal, katanya, Logam Tanah Jarang merupakan bahan baku utama bagi industri strategis masa depan, mulai dari semikonduktor, kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, hingga teknologi pertahanan canggih.
“Logam Tanah Jarang harus dipahami sebagai pembangunan rantai nilai industri nasional, bukan sekadar aktivitas pertambangan. Nilai tambah terbesar justru tercipta setelah proses pemisahan, pemurnian, hingga menjadi magnet permanen dan komponen industri berteknologi tinggi,” tegas Dudung, dalam pernyataannya, dikutip Selasa (28/7/2026).
Untuk itu, KSP mengawal secara ketat agar kebijakan hilirisasi LTJ berjalan di atas landasan hukum yang kuat dan memberikan kepastian berusaha. Pemerintah telah menyiapkan kerangka regulasi pelaksana yang komprehensif, mulai dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba, Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 beserta perubahannya, hingga Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025.
Dudung juga memaparkan bahwa pengelolaan LTJ di dalam negeri masih menghadapi berbagai tantangan nyata. Hambatan tersebut mencakup keterbatasan teknologi ekstraksi dan pemurnian, belum optimalnya standar regulasi dan pengawasan, lemahnya sistem pencatatan rantai pasok (traceability), hingga adanya risiko kebocoran sumber daya akibat ekspor yang belum bernilai tambah maksimal.
Selain itu, dibutuhkannya koordinasi yang lebih erat antarinstansi menjadi kunci utama agar seluruh kebijakan dapat berjalan konsisten.
Langkah pembenahan tata kelola LTJ ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Asta Cita dan RPJMN 2025-2029, bahwa hilirisasi sumber daya alam merupakan salah satu instrumen utama untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
“Hilirisasi tidak lagi hanya dimaknai sebagai membangun fasilitas pengolahan, tetapi harus mampu membentuk ekosistem industri nasional yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat penguasaan teknologi, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global,” terang Kepala Staf Kepresidenan.
Guna mewujudkan sasaran tersebut, KSP mendorong strategi nasional pengembangan LTJ yang dijalankan secara simultan melalui lima pilar utama, yaitu penguatan regulasi dan tata kelola, pembangunan ekosistem industri dan teknologi pengolahan, penguatan aspek lingkungan dan keberlanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional, serta penguatan diplomasi ekonomi global.
“Peran KSP bukan mengambil alih kewenangan kementerian/lembaga, melainkan memastikan koordinasi lintas sektor berjalan baik, mengidentifikasi hambatan, memfasilitasi penyelesaian masalah, serta mempercepat pengambilan keputusan agar target hilirisasi nasional tercapai,” jelasnya
Turut hadir dalam rapat koordinasi perwakilan Kemenko Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bareskrim Polri, Kejaksaan Agung, serta perwakilan Danantara. Selain itu, hadir juga pihak Perminas, MIND ID, PT Sucofindo, PT Timah, PT Surveyor Indonesia, Badan Industri Mineral, Indonesia Mining Association (IMA), Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), serta Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Rakor ini diharapkan menghasilkan langkah konkret berupa penyempurnaan regulasi, penguatan sistem verifikasi, integrasi data pengawasan ekspor, dan penyusunan rencana aksi nasional dengan target dan tenggat waktu yang jelas demi mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
(pgr/pgr)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment