Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan minat investor terhadap surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond yang diterbitkan pemerintah Indonesia cukup tinggi. Instrumen pembiayaan tersebut resmi ditawarkan pada Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, Purbaya mengaku belum memperoleh laporan final terkait hasil penerbitan tersebut. Pasalnya, proses closing book atau penutupan masa penawaran baru akan dilakukan pada Jumat (24/7/2026).
“Bagus nilainya, cuma saya belum tahu hasil akhir seperti apa, karena besok ya, Jumat kalau gak salah (closing book-nya) nanti saya cek lagi,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurut Purbaya, salah satu faktor yang membuat Panda Bond Indonesia menarik di mata investor adalah peringkat kredit tertinggi yang diperoleh dari lembaga pemeringkat China, Lianhe Credit Rating.
Pada awal Juli 2026, Panda Bond Indonesia memperoleh peringkat AAA dari lembaga tersebut. Purbaya pun menepis keraguan sejumlah pihak terkait capaian tersebut.
“Yang jelas kita AAA (rating), jadi gak bohong itu ada suratnya dari sana, ada yang bilang saya bohong katanya, bohong gimana di sana ada suratnya kan,” katanya.
Pemerintah menargetkan penerbitan perdana Panda Bond ini dapat menghimpun dana hingga US$1 miliar. Namun, Purbaya membuka peluang untuk kembali menerbitkan instrumen serupa dengan nilai yang lebih besar apabila kebutuhan pembiayaan meningkat.
“Terus kita akan issue sekitar US$ 1 miliar, karena ini masih pertama untuk pengenalan pasar dulu, berikutnya kalau dibutuhkan nanti di issue lagi atau lebih besar,” ujarnya.
Terkait pemanfaatan dana yang diperoleh, Purbaya menjelaskan sebagian hasil penerbitan Panda Bond akan digunakan untuk membantu pembiayaan defisit APBN, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan belanja negara.
Penerbitan Panda Bond juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperluas sumber pembiayaan dan mengurangi ketergantungan pada pasar obligasi berdenominasi dolar AS.
“Kan sebelumnya kalau global hanya dolar, kita diversifikasi ke Jepang, Australia, maupun China. China kan mata uangnya baru renminbi yang pasarnya kuat sekali,” kata Purbaya.
Ia menilai pasar keuangan China semakin menarik seiring perubahan tren global yang mulai mengurangi dominasi dolar AS. Salah satu indikatornya adalah menurunnya kepemilikan surat utang berdenominasi dolar di China yang sebelumnya mencapai sekitar US$3 triliun.
Di saat yang sama, penggunaan yuan dalam perdagangan dan investasi internasional terus meningkat, termasuk melalui skema Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China.
“Sehingga mereka bayar yuan saya terima rupiah di sini antar bank dengan central bank,” paparnya.
Menurut Purbaya, perkembangan tersebut memberikan keuntungan bagi Indonesia karena membuka alternatif sumber pembiayaan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar AS dalam transaksi internasional.
“Cukup bagus bagi kita karena ketergantungan terhadap dolar berkurang secara signifikan,” imbuhnya.
(haa/haa)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment