Home Finance Ribuan Kapal Nelayan China Bentuk Formasi Misterius, Pasukan Rahasia?
Finance

Ribuan Kapal Nelayan China Bentuk Formasi Misterius, Pasukan Rahasia?

Share
Ribuan Kapal Nelayan China Bentuk Formasi Misterius, Pasukan Rahasia?
Share



Jakarta, CNBC Indonesia – Ribuan kapal nelayan China mulai menunjukkan pergerakan tak biasa di Laut China Timur. Dalam beberapa bulan terakhir, kapal-kapal tersebut berulang kali membentuk formasi raksasa di perairan utara Taiwan, bahkan bertahan selama puluhan jam.

Pergerakan ini memunculkan dugaan bahwa Beijing sedang menguji kemampuan milisi maritimnya. Yakni pasukan paramiliter yang beroperasi menggunakan kapal nelayan sipil. Jika terjadi konflik di Taiwan, armada tersebut dapat dikerahkan untuk membantu pengintaian, logistik, hingga mengganggu jalur pelayaran.

Dilansir dari The Economist, Teluk-teluk di Kepulauan Zhoushan, China, kini dipenuhi kapal nelayan bercat biru yang sedang bersandar setelah berbulan-bulan mencari kepiting dan ikan croaker di Laut China Timur. Namun, sebagian kapal tersebut tampaknya tak hanya digunakan untuk menangkap ikan.

Pada Desember 2025, lebih dari 1.000 kapal asal Zhoushan dan wilayah pesisir timur China melakukan pergerakan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Kapal-kapal itu berbaris membentuk pola menyerupai huruf L di perairan utara Taiwan.

Formasi tersebut bertahan selama lebih dari 12 jam sebelum akhirnya bubar. Dalam beberapa bulan berikutnya, kapal-kapal nelayan China kembali berkumpul di Laut China Timur dalam empat kesempatan yang berbeda.

Media pemerintah China menyebut aktivitas tersebut sebagai kegiatan komersial biasa. Namun, seperti dilaporkan The Economist, skala dan pola pergerakannya menimbulkan dugaan bahwa ada kegiatan lain di balik kumpulan kapal tersebut.

China diketahui memiliki tiga kekuatan maritim.

Dua yang paling jelas adalah angkatan laut dan penjaga pantai. Selain itu, sejak dekade 1950-an, pemerintah China juga mengerahkan sebagian armada penangkap ikannya sebagai pasukan paramiliter yang dikenal sebagai milisi maritim.

Pasukan ini terdiri atas campuran kapal nelayan biasa dan kapal berlambung baja berukuran lebih besar. Sebagian kapal bahkan diduga dibuat khusus untuk menjalankan manuver agresif di laut.

Milisi maritim China selama ini lebih dikenal lewat aktivitasnya di Laut China Selatan. Kapal-kapal tersebut kerap dikerahkan ke pulau-pulau kecil yang disengketakan untuk klaim kedaulatan China.

Dalam beberapa kejadian, pergerakan tersebut juga berujung pada konfrontasi dengan kapal negara lain.

Sementara itu, kapal nelayan di Laut China Timur sebelumnya lebih banyak menjalankan aktivitas penangkapan ikan. Namun, pola tersebut kemungkinan mulai berubah.




Fishing boats set sail in August 2025 from the bays of the Zhoushan archipelago, south of Shanghai Getty Images – The Economist

Formasi yang muncul baru-baru ini jauh lebih besar dibandingkan yang pernah terlihat sebelumnya, termasuk di Laut China Selatan. Besarnya jumlah kapal menunjukkan bahwa pengerahan tersebut kemungkinan melibatkan banyak nelayan biasa, bukan hanya anggota resmi milisi.

Kapal-kapal itu juga berkumpul dengan jarak yang sangat rapat. Sejumlah kapal kargo bahkan terlihat mengubah jalur pelayaran untuk menghindarinya.

Manuver tersebut memunculkan dugaan bahwa pemerintah China sedang menguji kemampuan mengerahkan dan mengendalikan armada sipil dalam jumlah besar. Sejumlah pengamat khawatir kemampuan itu dapat memberi China keunggulan bila konflik dengan Taiwan pecah.

Pasukan yang Bahkan Tak Diakui China

Tidak ada data resmi mengenai jumlah anggota maupun kapal yang tergabung dalam milisi maritim China.

Media pemerintah China bahkan terkadang membantah keberadaan pasukan tersebut.

Namun, sebuah artikel yang diterbitkan jurnal pertahanan China pada 2014 justru memuji milisi maritim sebagai kekuatan yang “tak tergantikan” karena memiliki “penyebaran yang luas, identitas tersamar, dan pemahaman terhadap kondisi laut.”

Berbeda dengan angkatan laut, keberadaan milisi maritim memungkinkan pemerintah China menjalankan aktivitas di wilayah abu-abu atau grey zone tanpa harus mengaku terlibat secara langsung.

Ketika terjadi bentrokan dengan kapal negara lain, misalnya, Beijing dapat menyebut insiden tersebut sebagai tindakan spontan “nelayan patriotik” yang bergerak secara mandiri, bukan operasi resmi pemerintah.




ChinaChina Foto: The Economist

Selama puluhan tahun, milisi maritim China dikenal sebagai pasukan yang tidak terlalu terorganisasi.

Peralatannya kuno, tidak memiliki kedisiplinan, dan bahkan anggotanya kesulitan mengoperasikan teknologi saat ini.

Sebagian besar nelayan China juga telah berusia lanjut. Berdasarkan survei pada 2024, hanya sekitar 5% nelayan yang berusia di bawah 30 tahun.

Masalah lainnya adalah motivasi. Kompensasi yang diterima anggota milisi dilaporkan relatif rendah.

Collin Koh dari Nanyang Technological University di Singapura mengatakan milisi tersebut memang dirancang untuk bergerak atas dasar tugas patriotik, bukan keuntungan pribadi. Pemerintah daerah dan otoritas militer juga terkadang berselisih mengenai pihak yang harus membiayai operasinya.

Namun, sejak Xi Jinping berkuasa pada 2012, China berusaha membangun apa yang disebut sebagai milisi maritim “gaya baru”. Pasukan ini dipersiapkan agar memiliki perlengkapan lebih baik, mendapatkan pelatihan lebih matang, dan bergerak lebih terorganisasi.

Besarnya anggaran yang dikucurkan untuk program tersebut sulit diketahui.

Sejumlah kapal nelayan dilaporkan bisa memperoleh subsidi harian lebih dari 24.000 yuan atau sekitar US$3.500 untuk berada di wilayah sengketa. Nilainya lebih dari cukup untuk menutup biaya operasional, sehingga pemilik kapal tetap bisa memperoleh keuntungan walau tanpa menangkap ikan.

Modernisasi Paling Pesat di Laut China Selatan

Modernisasi milisi maritim China paling jauh berlangsung di Laut China Selatan. China mengklaim hampir seluruh kawasan tersebut, meski enam negara lain, termasuk Vietnam dan Filipina, juga memiliki klaim yang saling tumpang tindih.

Laut China Selatan memiliki cadangan ikan yang besar serta potensi sumber daya energi. Kawasan itu juga menjadi salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Di sejumlah wilayah pesisir China, sebagian penduduk bahkan telah menjadi anggota milisi. Mereka mengoperasikan kapal besar yang dilengkapi meriam air berdaya tinggi.

Kapal-kapal tersebut bergerombol di sekitar perairan dangkal yang diklaim China.

Aktivitas milisi maritim memang sulit dilacak. Namun, jumlahnya di Laut China Selatan terlihat terus meningkat.

Asia Maritime Transparency Initiative, program milik Center for Strategic and International Studies (CSIS), menggunakan citra satelit untuk mencari ciri-ciri kapal milisi. Di antaranya adalah kapal yang diam lama tanpa menurunkan alat menangkap ikan serta sejumlah kapal yang saling mengikatkan diri hingga membentuk penghalang terapung.

Sepanjang tahun lalu, CSIS menghitung rata-rata terdapat 241 kapal China yang diduga sebagai milisi berlayar setiap hari di kawasan sengketa Laut China Selatan. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak pemantauan dimulai pada 2021.




Militia vesselsMilitia vessels Foto: The Economist




Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Misteri Formasi Raksasa di Laut China Timur

China juga memiliki sengketa wilayah di Laut China Timur dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Namun, anggota milisi maritim secara historis tidak terlalu agresif di kawasan tersebut.

Mereka lebih sering menjalankan tugas sipil, seperti membantu penanganan keadaan darurat setelah topan.

Laut China Timur juga memiliki luas kurang dari seperempat Laut China Selatan. Klaim Beijing di kawasan tersebut lebih terpusat pada wilayah tertentu, termasuk Kepulauan Senkaku yang dikuasai Jepang dan disebut China sebagai Diaoyu.

Karena cakupan sengketanya lebih terbatas, penjaga pantai China seharusnya mampu melakukan patroli dan menghadapi kapal negara lain tanpa bantuan kapal nelayan sipil.

Kondisi tersebut membuat kemunculan formasi besar kapal nelayan baru-baru ini semakin misterius. IngeniSPACE, perusahaan riset yang melacak pergerakan kapal-kapal tersebut, mencatat sedikitnya lima formasi muncul dalam waktu kurang dari enam bulan.

Lebih dari 1.000 Kapal Membentuk Formasi Sepanjang 450 Kilometer

Formasi pertama muncul sekitar Hari Natal 2025. Lebih dari 1.000 kapal berkumpul membentuk dua barisan sejajar yang secara keseluruhan membentang sekitar 450 kilometer.

Pola pergerakan kapal terlihat menyerupai huruf L di perairan antara pesisir timur China dan kawasan utara Taiwan.




Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

Kapal Bertahan Lebih dari 30 Jam

Formasi berikutnya terbentuk pada Januari 2026. Dalam pergerakan kali ini, sebagian kapal bertahan di lokasi selama lebih dari 30 jam.

Hanya beberapa hari sebelumnya, militer China menggelar latihan perang berskala besar di sekitar Taiwan.




Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

Formasi Bergeser Mendekati Pulau Jeju

Pada akhir Maret 2026, formasi baru muncul sekitar 100 kilometer lebih ke timur dibandingkan posisi sebelumnya.

Pergerakan tersebut membuat kumpulan kapal berada lebih dekat dengan Pulau Jeju, Korea Selatan.




Kapal MiliatKapal Miliat Foto: The Economist

Kembali Berkumpul Menjelang Larangan Menangkap Ikan

Kapal-kapal kembali berkumpul membentuk formasi pada April 2026. Lokasinya berada di garis bujur yang sama dengan formasi sebelumnya.

Pergerakan itu terjadi tidak lama sebelum dimulainya larangan menangkap ikan tahunan selama musim panas di China.




Kapal MilitiaKapal Militia Foto: The Economist

China Bisa Mengendalikan Ribuan Kapal

Mengatur begitu banyak kapal agar tetap berada dalam satu formasi selama berjam-jam bukan pekerjaan yang mudah. Tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga politis.

Gregory Poling dari CSIS mengatakan banyak negara bahkan kesulitan meminta nelayan untuk terus menyalakan perangkat pelacak dan menyiarkan posisi mereka. Sebagian nelayan sengaja menyembunyikan lokasi agar kawasan penangkapan ikan terbaik mereka tidak diketahui pihak lain.

China justru mampu menggerakkan armada sipil dalam jumlah sangat besar secara serentak.

Menurut Poling, Beijing telah menunjukkan “tingkat kontrol politik yang tidak dapat diklaim oleh negara lain di dunia” terhadap armada sipilnya.

Kemampuan tersebut dapat digunakan dalam berbagai skenario apabila konflik mengenai Taiwan pecah. Milisi maritim bisa membantu angkatan laut untuk menjalankan pengintaian atau mengangkut kebutuhan logistik.

Kapal-kapal milisi juga pernah dituduh memutus kabel komunikasi bawah laut. Kabel tersebut menjadi bagian penting dari jaringan internet dan komunikasi antara Taiwan dengan wilayah lain.

Apabila China melancarkan invasi amfibi, ratusan atau bahkan ribuan kapal nelayan bisa digunakan untuk membanjiri perairan dengan banyak sasaran sekaligus. Kondisi ini dapat menyulitkan lawan membedakan kapal sipil, kapal milisi, dan kapal yang terlibat langsung dalam operasi militer.

Armada nelayan dalam jumlah besar juga berpotensi mengambil peran lebih penting apabila China mencoba memberlakukan blokade penuh terhadap Taiwan atau menjalankan “karantina” yang lebih terbatas dengan hanya menghalangi barang-barang tertentu.

Kapal-kapal tersebut bisa ditempatkan di sekitar pelabuhan untuk mengganggu arus pelayaran dan lalu lintas barang menuju maupun keluar dari Taiwan.

Nelayan Zhoushan dan Kenangan Lama soal Taiwan

Hubungan antara masyarakat Zhoushan dan Taiwan juga memiliki sejarah panjang. Pada 1950, Zhoushan menjadi salah satu wilayah terakhir di China yang masih dikuasai Kuomintang setelah kelompok tersebut dikalahkan Partai Komunis China.

Ribuan pria setempat ketika itu dipaksa bergabung untuk menambah kekuatan tentara Kuomintang, kemudian dibawa ke Taiwan. Sebagian warga Zhoushan masih menyimpan kepahitan terhadap peristiwa tersebut.

Meski demikian, tidak semua nelayan ingin terlibat dalam konflik. Seorang kapten kapal berusia lanjut mengatakan perang akan menjadi bencana bagi usahanya. Ia hanya akan membantu apabila pemerintah memerintahkannya.

Seorang nelayan yang lebih muda justru yakin warga setempat akan mengambil bagian jika situasi memanas.

“Kami orang China seperti butiran pasir yang tercerai-berai, tetapi akan bersatu ketika waktunya tiba,” ujarnya. “Kami semua akan menjadi milisi.”

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *