Home Finance Ringgit-Rupiah Loyo, Tapi Won Tetap Kuat
Finance

Ringgit-Rupiah Loyo, Tapi Won Tetap Kuat

Share
Ringgit-Rupiah Loyo, Tapi Won Tetap Kuat
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Tekanan terjadi di tengah dolar AS yang masih bertahan di level tinggi, setelah menguat cukup tajam pada perdagangan sebelumnya.

Dilansir dari Refinitiv, tujuh mata uang tengah menghadapi tekanan dari greenback, sementara tiga lainnya masih mampu menguat pada pukul 09.15 WIB.

Rupiah ikut masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,17% ke posisi Rp17.910/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali bergerak di area Rp17.900/US$ setelah ditutup menguat ke Rp17.880/US$ pada perdagangan Selasa kemarin.

Tekanan paling dalam pagi ini dialami baht Thailand yang melemah 0,21% ke posisi THB 33,75/US$. Ringgit Malaysia menyusul dengan pelemahan 0,15% ke MYR 4,093/US$.

Dong Vietnam juga terkoreksi 0,08% ke posisi VND 26.331/US$, sementara yuan China melemah 0,07% ke CNY 6,7702/US$. Peso Filipina turun 0,06% ke PHP 61,761/US$, sedangkan dolar Singapura melemah tipis 0,01% ke SGD 1,291/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan dan dolar Taiwan menjadi dua mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia. Keduanya sama-sama menguat 0,10% terhadap dolar AS. Won berada di posisi KRW 1.479,9/US$, sementara dolar Taiwan berada di TWD 32,294/US$.

Yen Jepang juga mampu naik tipis 0,01% ke posisi JPY 163,15/US$. Meski demikian, posisi yen masih berada di area yang sangat lemah terhadap dolar AS.


Pergerakan mata uang Asia pagi ini terjadi di tengah dinamika perkembangan perang di Timur Tengah serta pengaruhnya terhadap pergerakan indeks dolar AS (DXY). 

Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut  terpantau stabil di posisi 101,174 pada pagi ini. Meski demikian, pada penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026), DXY tercatat menguat 0,22% dan kembali menembus level 101. Penguatan tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak mata uang Asia pada pagi ini.

Sentimen utama datang dari serangan terbaru di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran inflasi yang lebih lama.

Ketegangan juga kembali meningkat setelah dua kapal tanker yang membawa minyak mentah Saudi ke Asia dilaporkan berbalik arah di Laut Merah usai adanya ancaman dari kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran. Konflik Timur Tengah yang meluas turut mengganggu jalur pelayaran melalui dua titik penting energi global.


Di saat yang sama, militer AS menyebut telah menyelesaikan putaran serangan terbaru terhadap Iran pada Senin. Serangan itu menandai malam ke-10 berturut-turut operasi AS terhadap Iran.

Harga minyak pun kembali naik. Minyak mentah AS naik 2,09% ke US$84,97 per barel, sementara Brent menguat 1,88% ke US$90,90 per barel setelah sempat menyentuh US$91,99, level tertinggi sejak 11 Juni.

Kenaikan harga minyak membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi. Sebelumnya, optimisme tercapainya kesepakatan damai AS-Iran sempat menekan harga minyak dan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, harga minyak kembali berbalik naik dalam beberapa hari terakhir karena tensi kawasan kembali panas.

Komentar sejumlah pejabat The Fed, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh, juga masih memberi sinyal kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Erik Bregar, director of FX and precious metals risk management Silver Gold Bull di Toronto, menilai pasar saat ini mulai menyesuaikan harga dengan eskalasi konflik yang terus berlangsung.

“Kami sekarang berada pada malam kesepuluh serangan di Iran, jadi pasar memperhitungkan situasi ini secara rasional,” ujar Bregar, dikutip dari Reuters.

Bregar juga menilai sikap The Fed masih cenderung hawkish, terutama jika konflik Timur Tengah terus berlanjut dan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

“The Fed hawkish, saya rasa pasar belum sepenuhnya menghargai itu. Semakin lama konflik ini berlangsung di Timur Tengah, risiko The Fed terdengar lebih hawkish akan semakin meningkat,” ujarnya.

Meski tensi masih tinggi, upaya diplomatik belum sepenuhnya berhenti. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata 10 hari dari mediator.

Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan ada respons jika kelompok Houthi Yaman benar-benar menjalankan ancaman blokade terhadap pelayaran komersial di Laut Merah.

Dari sisi suku bunga, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed juga mulai naik lagi. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat pekan depan naik menjadi 21,9%, dari sekitar 11% pada pekan lalu. Untuk rapat September, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 68,2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *