
Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas mata uang Asia mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (25/9/2026). Penguatan terjadi ketika dolar AS terkoreksi tipis pagi ini, meski posisinya masih bertahan di level tinggi.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.07 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara hanya dua mata uang yang melemah.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini setelah naik 0,29%. Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,25% ke posisi JPY158,43/US$.
Dolar Taiwan menguat 0,21%, sementara baht Thailand naik 0,18%. Won Korea Selatan juga menguat 0,14%, disusul peso Filipina 0,11% dan dong Vietnam 0,05%.
Di tengah penguatan mayoritas mata uang kawasan, rupiah justru masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,14% ke posisi Rp17.910/US$.
Dolar Singapura menjadi mata uang lain yang ikut melemah pagi ini dengan koreksi tipis 0,01%.
Laju penguatan dolar AS mulai tertahan pada Jumat pagi. DXY terkoreksi tipis 0,06% ke posisi 101,223 setelah mengalami reli kuat dalam beberapa hari terakhir.
Kendati demikian, dolar AS masih berada di area tinggi. DXY telah melesat lebih dari 1% sepanjang pekan dan berada di jalur kenaikan mingguan kedua secara beruntun, sesuatu yang terakhir terjadi pada Juni.
Penguatan greenback dalam sepekan terakhir terutama ditopang oleh kenaikan tajam imbal hasil obligasi pemerintah AS dan semakin besarnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve/The Fed masih akan menaikkan suku bunga.
Pasar agresif mengubah perkiraan arah suku bunga setelah The Fed menaikkan bunga pada pekan lalu. Data ekonomi AS yang masih kuat dan risiko inflasi dari kenaikan harga energi kemudian semakin memperkuat keyakinan tersebut.
Sejumlah pejabat The Fed juga kembali menyampaikan nada hawkish. Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson mengatakan pengetatan tambahan dalam skala moderat mungkin masih diperlukan, sementara Presiden The Fed New York John Williams menyebut satu kali kenaikan suku bunga lagi dapat dilakukan sebelum akhir tahun.
Lonjakan yield Treasury ikut menopang dolar AS. Aksi jual obligasi bahkan sempat membawa imbal hasil Treasury berjangka panjang ke level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun.
“Walaupun dolar seharusnya mendapat dukungan dari yield yang lebih tinggi, masih ada kekhawatiran mengenai posisi fiskal AS dan ketidakpastian dalam pembuatan kebijakan AS,” ujar Khoon Goh, head of Asia research ANZ, dikutip dari Reuters.
Menurut Goh, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dolar AS kesulitan melanjutkan reli meski imbal hasil obligasi masih meningkat.
Harga minyak juga kembali menjadi sorotan pasar saat ini. Brent melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Kamis ke level tertinggi dalam sepekan setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi kembali memunculkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan.
Kenaikan harga energi berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi dan membuat peluang pengetatan lanjutan The Fed tetap terbuka.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment