
Jakarta, CNBC Indonesia – Rumah yang dianggap berhantu biasanya dihindari banyak orang. Namun, di Jepang, properti yang pernah menjadi lokasi kematian tragis justru mulai menarik perhatian pemburu hunian murah karena harganya bisa jauh di bawah pasaran.
Fenomena ini dikenal dengan istilah jiko bukken, yakni properti yang memiliki stigma akibat peristiwa tertentu di masa lalu, seperti pembunuhan, bunuh diri, atau kematian seseorang yang tinggal sendirian.
Melansir BBC International, salah satu penghuni properti tersebut adalah Ryua, seorang penghibur muda di Tokyo yang mengaku tinggal bersama hantu selama empat tahun terakhir. Sejak pertama kali melihat apartemen yang hendak disewanya, Ryua mengaku merasakan kehadiran sosok misterius.
“Ketika saya datang untuk melihat apartemen itu, ada seorang pria berdiri di sana sambil menatap tajam ke arah saya,” kata Ryua. “Karena agen properti tidak bisa melihatnya, saya menyadari bahwa dia pasti hantu,” lanjutnya.
Alih-alih ketakutan dan membatalkan niat menyewa apartemen, Ryua justru memutuskan untuk tinggal di sana. Ia bahkan mengaku ingin berteman dengan sosok yang diyakininya sebagai hantu tersebut.
Empat tahun berlalu, Ryua masih menghuni apartemen yang sama. Ia mengklaim kerap mendengar suara langkah kaki hingga percakapan misterius hampir setiap hari.
Namun, ada alasan lain yang membuatnya bertahan, yakni harga sewa yang jauh lebih murah. Ryua membayar 45.000 yen atau sekitar Rp4,8 juta per bulan untuk apartemen studio seluas 25 meter persegi di Setagaya, salah satu kawasan populer di Tokyo.
Padahal, harga sewa normal apartemen tersebut mencapai 62.000 yen atau sekitar Rp6,6 juta per bulan. Artinya, Ryua mendapatkan potongan harga hampir 30%. Diskon itu diberikan karena seorang pria diketahui pernah meninggal akibat bunuh diri di apartemen tersebut.
Mengapa Rumah Bekas Lokasi Kematian Bisa Murah?
Dalam budaya Jepang, terdapat kepercayaan mengenai yuurei, yakni arwah orang meninggal yang dipercaya masih bergentayangan karena mengalami kematian tragis atau memiliki persoalan yang belum terselesaikan. Kepercayaan ini berkaitan dengan kematian akibat pembunuhan, bunuh diri, hingga seseorang yang meninggal dalam kesendirian.
Apabila seseorang meninggal di rumahnya dalam kondisi tersebut, sebagian masyarakat Jepang percaya arwahnya masih berada di tempat itu. Akibatnya, properti yang memiliki riwayat semacam ini cenderung sulit dijual atau disewakan.
Agen properti di Tokyo, Erik Oskamp, mengatakan masyarakat Jepang relatif sensitif terhadap sejarah sebuah bangunan. Bahkan, apartemen yang berdekatan dengan pemakaman bisa sulit disewakan, terutama jika batu nisan terlihat langsung dari dapur.
Menurut Oskamp, properti dengan riwayat bunuh diri menjadi salah satu yang paling sulit dipasarkan. Selain itu, kasus kejahatan serius dan kematian seseorang yang tinggal sendirian juga dapat memengaruhi minat calon penghuni.
Pemerintah Jepang sendiri telah menerbitkan pedoman pada 2021 yang mewajibkan agen properti mengungkapkan riwayat kematian tertentu kepada calon pembeli atau penyewa. Informasi tersebut mencakup kasus bunuh diri, pembunuhan, kematian akibat kebakaran, serta kematian yang jenazahnya baru ditemukan setelah waktu lama.
Untuk properti sewaan, informasi tersebut umumnya wajib diungkapkan selama tiga tahun. Sementara untuk properti yang dijual, kewajiban pengungkapan tidak memiliki batas waktu serupa.
Beli Rumah Tiga Kamar dengan Harga Setengahnya
Tidak hanya apartemen, rumah dengan riwayat kematian juga bisa dijual dengan harga jauh lebih rendah. Diane Tincher, perempuan asal Amerika Serikat berusia 79 tahun yang telah tinggal di Jepang selama hampir 40 tahun, berhasil membeli rumah besar dengan tiga kamar tidur di Kagoshima, wilayah barat daya Jepang.
Ia hanya membayar 20 juta yen atau sekitar Rp2,1 miliar untuk rumah tersebut. Padahal, properti sejenis di kawasan yang sama biasanya dijual hingga 45 juta yen atau sekitar Rp4,8 miliar.
Harga murah itu diperoleh karena pemilik sebelumnya, seorang perempuan lanjut usia, meninggal sendirian di rumah tersebut. Tincher mengaku tidak mempermasalahkan riwayat rumah yang dibelinya.
“Saya tidak percaya hantu. Tetapi saya tahu masyarakat Jepang sangat percaya pada hal-hal semacam itu,” ujarnya.
“Kalau memang ada hantu, saya berterima kasih kepadanya setiap hari karena bisa tinggal di rumah yang begitu bagus dengan harga terjangkau,” tambahnya.
Tincher menemukan rumah tersebut melalui Oshimaland, situs yang menyediakan informasi mengenai properti jiko bukken. Situs tersebut diluncurkan pada 2005 dengan cakupan awal Tokyo, sebelum berkembang ke seluruh Jepang dan kemudian secara internasional pada 2011.
Informasi properti di Oshimaland dikumpulkan melalui kontribusi masyarakat yang melaporkan lokasi serta peristiwa yang pernah terjadi di dalam bangunan. Pendiri Oshimaland, Teru Oshima mengatakan, pada masa lalu rumah dengan riwayat kematian merupakan pilihan yang kurang diminati masyarakat Jepang.
Namun, situasinya mulai berubah seiring meningkatnya harga properti dan biaya hidup. Bahkan, sebuah survei pada 2025 menemukan lebih dari separuh responden di Jepang bersedia menyewa properti jiko bukken apabila harganya cukup murah.
Sementara itu, Ryua mengaku tetap nyaman tinggal di apartemennya meski meyakini ada sosok lain yang menghuni tempat tersebut.
“Saya percaya bahwa hantu dulunya adalah manusia yang hidup, jadi mereka juga pantas mendapatkan rasa hormat kita,” katanya.
(hsy/hsy)
Leave a comment