Home Finance Saham Ambruk, Ini Emiten Sawit Melantai di Singapura-Beroperasi di RI
Finance

Saham Ambruk, Ini Emiten Sawit Melantai di Singapura-Beroperasi di RI

Share
Saham Ambruk, Ini Emiten Sawit Melantai di Singapura-Beroperasi di RI
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas saham emiten sawit yang masuk dalam sorotan pemerintah Singapura terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mengalami tekanan. Dalam satu bulan, penurunan harga sahamnya mencapai lebih dari 22%.

Dari tujuh emiten yang diamati di Bursa Singapura atau Singapore Exchange (SGX), enam saham melemah dalam sebulan dan satu stagnan. Bumitama Agri mencatat koreksi bulanan terdalam, sementara Kencana Agri menjadi saham dengan penurunan terbesar dalam sepekan.

Pelemahan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya pemeriksaan terkait kabut asap lintas batas. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) pada 23 Oktober 2026 meminta dokumen dan informasi dari 10 perusahaan, termasuk mengenai hubungan korporasi, lokasi konsesi, serta langkah pencegahan dan penanganan kebakaran di Indonesia.


Bumitama Agri membukukan penurunan sebesar 22,64% dalam sebulan, atau kehilangan hampir seperempat harga sahamnya. Dalam sepekan terakhir, saham tersebut juga terkoreksi 5,20%.

TSH Resources menyusul dengan penurunan bulanan 21,51%, diikuti First Resources yang melemah 18,04%.

Sementara itu, Golden Agri-Resources (GAR) mencatat koreksi 14,06% dalam sebulan dan 1,79% dalam sepekan. Wilmar International turut melemah, masing-masing 9,42% dan 3,54%.

Indofood Agri Resources menjadi satu-satunya saham dalam kelompok ini yang tidak mencatat perubahan harga pada kedua periode tersebut.

Kencana Paling Tertekan Sepekan

Dalam periode mingguan, tekanan terbesar terjadi pada Kencana Agri. Sahamnya merosot 9,09%, melampaui koreksi Bumitama, Wilmar, First Resources, dan GAR.

Secara keseluruhan, lima dari tujuh saham melemah dalam sepekan, sedangkan dua lainnya stagnan. Rata-rata sederhana perubahan harga ketujuh saham mencapai minus 3,18% dalam sepekan dan minus 14,72% dalam sebulan, dengan bobot yang sama untuk setiap emiten.

Khusus TSH Resources, harga yang stagnan dalam sepekan perlu dibaca dengan memperhatikan minimnya transaksi.

Volume perdagangan saham tersebut di SGX tercatat nol pada seluruh sesi 21-28 Oktober, sehingga harga yang tidak berubah belum cukup menggambarkan respons aktif investor terhadap perkembangan pemeriksaan.

Pemeriksaan Berlanjut, Belum Ada Penetapan Bersalah

Pada 28 Oktober 2026, pimpinan perusahaan terkait menghadiri pertemuan dengan tiga menteri Singapura. Pemerintah meminta pemeriksaan independen atas operasi, hubungan korporasi, dan rantai pasok untuk menelusuri kemungkinan kontribusi perusahaan terhadap kebakaran penyebab kabut asap.

Daftar 10 penerima surat NEA juga mencakup entitas anak perusahaan. Di antaranya Golden Agri International dalam kelompok GAR, serta TSH Global Plantation dan TSH Oversea dalam kelompok TSH Resources. Karena itu, jumlah penerima surat berbeda dengan jumlah emiten yang dibandingkan.

Proses pemeriksaan tersebut belum merupakan penetapan bahwa perusahaan-perusahaan terkait bersalah.

Adapun seluruh penurunan saham dalam sebulan tidak dapat langsung dianggap sebagai dampak pemanggilan. Periode pengamatan dimulai sebelum surat NEA dan pertemuan pemerintah berlangsung, sehingga angka tersebut menunjukkan kinerja harga sepanjang periode tanpa memisahkan pengaruh isu karhutla dari sentimen pasar lainnya.

–

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *