Home Finance Saking Sangat Kuatnya El Nino, Wilayah RI Ini Ikut Alami Musim Kemarau
Finance

Saking Sangat Kuatnya El Nino, Wilayah RI Ini Ikut Alami Musim Kemarau

Share
Saking Sangat Kuatnya El Nino, Wilayah RI Ini Ikut Alami Musim Kemarau
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi parahnya kondisi kekeringan di Indonesia yang diprediksi berlangsung lebih lama. Juga potensi mundurnya Musim Hujan.

Pasalnya saat ini El Nino dengan intensitas sangat kuat sedang melanda Indonesia saat 80,7% dari 564 Zona Musim (ZOM) Indonesia mengalami Musim Kemarau. Demikian mengutip keterangan “Prediksi Musim Hujan” di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta pada Selasa (22/9/2026).

Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II September 2026 yang dirilis BMKG pada 23 September 2026 terungkap, ilai SSTA di region Nino3.4 secara dasarian (ENSO bulanan) adalah sebesar +2.97 (Agustus: +2.83). Indeks ENSO (rata-rata 3 bulanan) untuk JAS (Juli-Agustus-September) adalah sebesar 2.63, menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

Di saat bersamaan, indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.935 (Agustus: +0.376). Kondisi indeks Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia ini berdampak pada berkurangnya curah hujan. IOD positif diprediksi berpotensi positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal, dikutip Kamis (24/9/2026).

Efek Mengejutkan El Nino Sangat Kuat

Dalam kesempatan sama, Direktur Perubahan Iklim BMKG A Fachri Radjab menambahkan, salah satu indikasi adanya dampak El Nino adalah kekeringan yang dialami wilayah-wilayah di Indonesia.

Tak hanya itu, saking kuatnya intensitas El Nino, membuat wilayah-wilayah yang tadinya masuk kategori zona dengan musim hujan sepanjang tahun, sampai ikut mengalami Musim Kemarau.

“Berdasarkan hasil monitoring perkembangan musim, sebanyak 556 ZOM yang mencakup 61,91% dari luas daratan Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau,” katanya.

Data analisis menunjukkan, banyak titik pengamatan yang melaporkan kondisi hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi-dengan HTH terpanjang saat ini di wilayah Bantul yaitu 131 hari (>4 bulan).

“Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” tambah Fachri.

Rekomendasi BMKG

Dengan kondisi kering yang masih panjang, BMKG pun merekomendasikan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi terkait, serta seluruh masyarakat melakukan langkah antisipatif demi mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan air.

Bagi sektor pangan, diperlukan jadwal tanam dan varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek serta upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Air hujan yang jarang turun memerlukan perhatian khusus agar lebih berhemat dalam memanfaatkannya, menambah kapasitas tampung pada skala rumah tangga, serta mengatur inflow dan elevasi waduk, serta pelepasan air secara proporsional untuk operasional PLTA,” kata Faisal.

“Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diimbau mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta mengoptimalkan pengelolaan drainase dan konservasi air secara berkelanjutan,” tambahnya.

Lantas, kapan Musim Hujan di Indonesia?

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan, awal Musim Hujan di Indonesia terjadi tidak bersamaan.

“Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada bulan November 2026 (185 ZOM/24,66% wilayah) dan Desember 2026 (266 ZOM/17,31% wilayah),” katanya.

Menurutnya, cakupan wilayah yang mengalami musim hujan mulai November di antaranya yaitu sebagian Sumatra, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Kemudian musim hujan bulan Desember dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.

“Jika dibandingkan rerata klimatologisnya, 529 ZOM atau 61,08% luas daratan Indonesia mengalami musim hujan mundur. Hanya 11 ZOM (1,12% luas daratan) mengalami musim hujan lebih cepat dan 26 ZOM (2,15% luas daratan) memasuki musim hujan sama dengan normalnya,” paparnya.

“Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76% luas daratan Indonesia). Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55% luas daratan Indonesia) karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69%) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” tegas Ardhasena.




Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan. (Dok. BMKG)Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan. (Dok. BMKG) Foto: (Dok. BMKG)

(dce/dce)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *