Home Finance Sebut Ekonomi Tangguh, Negara Ini Pecat Ekonom yang Peringatkan Krisis
Finance

Sebut Ekonomi Tangguh, Negara Ini Pecat Ekonom yang Peringatkan Krisis

Share
Sebut Ekonomi Tangguh, Negara Ini Pecat Ekonom yang Peringatkan Krisis
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia bersikeras ekonominya tetap tangguh. Tetapi, sebagaimana dimuat CNBC International Rabu (19/8/2026), negeri itu malah memecat seorang ekonom terkemuka setelah memperingatkan bahwa perang di Ukraina dapat memicu krisis sosial.

Sebelumnya, pejabat pemerintah Presiden Vladimir Putin memang mengatakan bahwa ekomnmi negara itu tetap sehat dan kuat meskipun menghadapi “tekanan asing yang belum pernah terjadi sebelumnya”, setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada awal 2022.

Hal ini berbeda dengan pandangan mantan kepala ekonom bank pembangunan milik negara Rusia, VEB, Andrei Klepach. Ia diberhentikan pada Minggu setelah memperingatkan bahwa Rusia tidak akan mampu memenangkan perang panjang melawan Ukraina dan memperkirakan akan terjadi krisis sosial besar.

“Pemecatan Klepach disebut berkaitan langsung dengan penilaiannya yang keras terhadap kondisi ekonomi Rusia,” muat media independen Rusia, The Bell, melaporkan dengan mengutip sumber anonim.

Sebenarnya Apa yang Terjadi?

Hal ini dimulai Mei lalu. Kala itu, dalam sebuah pidato di depan sesama ekonom, Klepach mengatakan kritik tajamnya ke perang yang masih terus berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

“Dalam perang yang menguras sumber daya ini, kita tidak akan memenangkan persaingan. Kita berada dalam ilusi bahwa semuanya akan runtuh. Itu belum terjadi dan tidak akan terjadi. Biaya yang harus kita tanggung terus meningkat,” kata Klepach saat itu.

Meski menegaskan Rusia tak akan mengalami keruntuhan ekonomi, ia yakin krisis besar akan datang. Menurutnya ketertinggalan negara itu akan semakin melebar.

“Saya yakin Rusia tidak akan runtuh, tetapi saya hampir yakin bahwa kita pada akhirnya akan menghadapi krisis sosial. Kita tidak akan runtuh secara ekonomi, tetapi ketertinggalan kita akan semakin melebar, dengan segala konsekuensinya,” tegasnya.

Kondisi Fiskal yang Kuat?

Pernyataan itu sontak dibantah pejabat pemerintah Rusia. Melalui kedutaan besarnya di Inggris misalnya, Rusia mengatakan bahwa posisi fiskal mereka masih “secara signifikan lebih kuat” dibandingkan banyak negara Barat.

Ini merujuk pada utang publik luar negeri Rusia yang berada di kisaran US$57 miliar sekitar Rp1.016 triliun. Ditegaskan bahwa angka itu “jauh lebih kecil” dibandingkan jumlah yang dibayarkan Amerika Serikat (AS), Inggris, Italia, atau Prancis hanya untuk membayar biaya pelayanan utang.

“Ekonomi Rusia tetap tangguh, begitu pula tekad rakyat kami,” kata juru bicara Kedutaan Besar Rusia untuk Inggris melalui email kepada CNBC International.

“Upaya untuk melemahkan Rusia melalui tekanan ekonomi tidak menghasilkan dampak seperti yang diharapkan para pencetusnya,” tambahnya.

“Sebaliknya, Barat-termasuk Inggris-juga harus membayar harga yang cukup besar akibat kebijakan sanksi yang sembrono. Perusahaan-perusahaan Inggris kehilangan akses ke pasar Rusia, sementara gangguan rantai pasok serta kenaikan biaya energi dan komoditas menambah beban bagi perekonomian Inggris.”

Justru Ekonomi Kini Mengkhawatirkan?

Sementara itu, ekonom Swedia dan mantan peneliti senior di Atlantic Council, mengatakan kabar pemecatan Klepach bukan sesuatu yang mengejutkan. Karena, tambahnya, ia menyimpulkan Rusia tidak memenangkan perang.

“Dalam analisis yang sangat penting, dia menyimpulkan bahwa Rusia tidak dapat memenangkan perang yang menguras sumber daya melawan Ukraina dan kemungkinan akan berakhir dalam krisis sosial seperti pada 1917,” kata Aslund melalui X pada Minggu.

Hal sama juga diamini peneliti senior untuk Rusia dan Eurasia di International Institute for Strategic Studies, Nigel Gould-Davies. Dikatakannya sebenarnya suara Klepach hanya mewakili, satu dari suara ekonom-ekonom Rusia yang khawatir.

“Saya sudah lama mengatakan bahwa ekonom-ekonom terbaik Rusia adalah mereka yang paling khawatir. Hal ini kembali mengonfirmasinya,” kata Gould-Davies melalui media sosialnya.

Perlu diketahui, ekonomi Rusia dalam masa perang menjadi sorotan lebih tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat serangan drone jarak jauh Ukraina terhadap kilang minyak dan gudang distribusi Rusia. Meski ekonomi Rusia mampu bertahan di luar ekspektasi dan bahkan masih tumbuh secara perlahan berdasarkan data terbaru, para analis mengatakan pertumbuhan tersebut menyembunyikan sejumlah persoalan.

Rusia kini sangat bergantung pada belanja militer. Negara itu juga sangat mengandalkan kenaikan pajak dan penyaluran kredit perbankan bersubsidi.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *