
Jakarta, CNBC Indonesia – Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi identik dengan persaingan geopolitik dalam beberapa bulan terakhir. Siapa pun yang menguasai jalur perairan sempit ini memegang kendali atas arus lalu lintas maritim dari Laut Arab dan Laut Merah menuju Samudra Hindia dan sekitarnya, bagian yang sangat vital dari perdagangan global.
Namun, konflik memperebutkan selat-selat ini sudah ada hampir sejak awal mula perdagangan maritim modern itu sendiri.
“Perseteruan antara AS dan Iran terkait titik-titik strategis ini hanyalah babak terbaru dalam sejarah panjang-yang telah berlangsung berabad-abad-di mana kekuatan dari luar kawasan berupaya memengaruhi atau mendominasi Timur Tengah melalui jalur laut” tulis Ibrahim Al-Marashi di Conversation dikutip pada Sabtu (26/9/2026).
Menurut Ibrahim, meskipun hegemoni maritim dari kekuatan luar kawasan itu mungkin terjadi, sifatnya hanyalah sementara.
“Pelajaran sejarahnya adalah bahwa meskipun hegemoni maritim dari kekuatan luar kawasan itu mungkin terjadi, sifatnya hanyalah sementara dan fana, tak ubahnya seperti ombak yang membawanya,” tegasnya.
Sejarah telah membuktikannya kata Ibrahim. Setelah Perang Dunia II, keseimbangan kekuatan kembali bergeser. AS menggantikan posisi Inggris dengan menempatkan pangkalan militer, gugus tugas kapal induk, dan melakukan penjualan senjata sebagai imbalan atas akses terhadap minyak Teluk.
Pada tahun 1980, Presiden AS Jimmy Carter menyatakan bahwa setiap upaya Uni Soviet untuk menguasai kawasan Teluk akan dianggap sebagai serangan terhadap kepentingan Amerika dan akan dilawan dengan kekuatan militer.
Empat puluh lima tahun kemudian, Trump secara efektif (meskipun mungkin tanpa disengaja) telah meruntuhkan Doktrin Carter. Meskipun kapal-kapal angkatan laut AS kini berada di Selat Hormuz untuk melindungi kebebasan navigasi, justru perang yang dikobarkan Trump pada Februari 2026 itulah yang awalnya membahayakan pelayaran, karena memicu Iran untuk mengganggu perdagangan di Teluk sebagai tindakan balasan.
Bermula dari Tiongkok
Tiongkok meninggalkan armada lautnya, Portugal kehilangan kendali atas Hormuz, Belanda memusatkan perhatian pada Jawa, dan Inggris meninggalkan Aden. Dominasi kekuasaan bergeser ketika kekuatan hegemonik melampaui batas kemampuannya, teknologi berubah, dan aliansi lokal mengalami penataan ulang.
Iran dan kelompok Houthi-yang baru-baru ini merebut Mokha-tidak membutuhkan armada kapal induk. Sebaliknya, rudal, ranjau, dan pesawat nirawak (drone) mereka menjadikan biaya asuransi maritim sebagai senjata. Terlepas dari kekuatan angkatan lautnya yang luar biasa, AS tidak dapat melenyapkan peran aktif masyarakat lokal di sekitar Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Setiap imperium di masa lalu telah menyadari bahwa menguasai titik strategis (chokepoint) tidak serta-merta berarti menguasai dinamika politik dan kehendak masyarakat di sekitarnya.
China pada masa Dinasti Ming menyajikan salah satu contoh paling awal mengenai kekuatan luar kawasan yang memproyeksikan kekuasaannya melalui kekuatan angkatan laut dan diplomasi.
Pada tahun 1405, Zheng He-seorang laksamana, penjelajah, dan diplomat Muslim Tiongkok-memulai ekspedisi pertama dari tujuh pelayaran melintasi Samudra Hindia. Memimpin armada yang terdiri dari lebih dari 300 kapal, ia mencapai kota Hormuz sekitar tahun 1414, kemudian Aden di Yaman, serta melintasi Bab el-Mandeb untuk memasuki Laut Merah.
‘Pax Sincia’ ini tidak bertujuan menguasai selat-selat tersebut. Sebaliknya, kehadiran ini membangun posisi perdagangan yang kuat melalui unjuk kekuatan angkatan laut, misi diplomatik, dan pertukaran hadiah yang bernilai tinggi.
Berbeda dengan kekuatan kolonial di masa-masa berikutnya, Zheng He tidak mendirikan koloni di Hormuz ataupun di sepanjang pesisir Arab. Ia justru masuk ke dalam sistem perdagangan yang telah ada, yang dibangun oleh para pedagang Arab, Persia, India, dan Afrika Timur di kawasan tersebut.
“Pelayaran-pelayaran ini juga memperlihatkan batasan dari kekuatan maritim yang melampaui kapasitasnya,” ungkapnya.
Setelah ekspedisi terakhir Zheng He pada tahun 1430-an, perubahan prioritas di dalam Dinasti Ming mengakhiri rangkaian pelayaran tersebut. Negara tidak lagi bersedia berinvestasi pada angkatan laut maupun biaya pemeliharaannya.
Saat ini, Tiongkok merujuk pada pelayaran Zheng He untuk memberikan legitimasi sejarah bagi hubungan Tiongkok-Timur Tengah.
Beijing menampilkan investasi modernnya di bidang infrastruktur, energi, dan pelabuhan-seperti Gwadar di Pakistan-sebagai bentuk kebangkitan kembali hubungan kuno yang damai, yang jejaknya telah ada sejak era Jalur Sutra pra-modern.
Namun, pada tahun 1500-an, peningkatan lalu lintas pelayaran global dan kedatangan kekuatan kolonial Eropa segera menandai peralihan menuju upaya yang lebih keras dan agresif untuk menguasai selat tersebut.
Dominasi angkatan laut Portugal
Bangsa Portugis adalah inovator di bidang angkatan laut; mereka memperkenalkan bentuk kekuatan maritim yang lebih koersif dengan menggunakan meriam berat pada kapal-kapal penjelajah samudra.
Pada tahun 1513, Afonso de Albuquerque menyerang Aden dalam upaya menguasai akses ke Laut Merah. Ia gagal merebut kota berbenteng di daratan utama tersebut, yang dikelilingi oleh medan pegunungan yang terjal.
Sebagaimana dipelajari oleh Amerika Serikat berabad-abad kemudian, keunggulan angkatan laut tidak serta-merta menghasilkan kemenangan di darat.
“Kapal perang Portugis memang mampu menghancurkan kapal lawan dan membombardir pelabuhan, namun menguasai perairan di luar pelabuhan tidaklah sama dengan menguasai wilayah daratan di belakangnya,” ungkap Ibrahim.
Akan tetapi, pada tahun 1515, Albuquerque berhasil merebut kota Hormuz. Di sana, ia memberlakukan cartaz, sebuah izin berbayar bagi para pedagang untuk melintasi teluk dan Samudra Hindia. Pada dasarnya, pengaturan perdagangan semacam inilah yang kini coba diterapkan oleh Iran melalui sistem pungutan tolnya.
“Pax Lusitana” ini berlangsung dengan cara yang lebih keras dibandingkan pendahulunya dari Tiongkok.
Akhirnya, pada tahun 1622, pasukan dari Dinasti Safawi Iran dan kapal-kapal Perusahaan Hindia Timur Inggris (EIC) bergabung untuk mengusir Portugis dari Hormuz serta membuka akses perdagangan.
Pengambilalihan oleh Inggris dan Belanda
Setelah Portugal tersingkir, kekuatan Utsmaniyah, Safawi, Oman, Belanda, dan Inggris saling berebut kendali. Sistem ini didominasi oleh kapal-kapal Eropa yang tangguh serta penguasa lokal yang mengendalikan pelabuhan maupun arus barang yang melaluinya.
Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) memasuki perairan ini pada tahun 1614. Dengan dukungan kapal-kapal bersenjata lengkap, mereka menempatkan diri di pelabuhan Mokha, Yaman.
Menyusul terusirnya Portugal, Belanda memperoleh hak istimewa perdagangan pada tahun 1623 dan bersaing dengan pedagang Inggris di Bandar Abbas, pusat perdagangan utama di Teluk yang terletak di seberang Hormuz.
Jika Inggris terkenal dengan perdagangan teh, Belanda justru mendominasi perdagangan kopi.
“Sebelumnya merupakan ranah pedagang yang berbasis di Mokha, Belanda mematahkan monopoli Yaman atas perdagangan kopi dengan menyelundupkan tanaman kopi Arabika ke Pulau Jawa di Indonesia, tempat tanaman tersebut dibudidayakan secara besar-besaran,” tuturnya.
Dengan demikian, Belanda membuktikan bahwa keseimbangan kekuatan maritim dapat bergeser melalui pengendalian produksi dan perdagangan, bukan sekadar melalui meriam dan paksaan.
Namun, setelah Inggris merebut Aden pada tahun 1839, mereka berhasil memegang kendali utama. Mereka menandatangani perjanjian dengan para penguasa dan suku-suku tetangga di Yaman Selatan yang memberikan mereka kendali *de facto* atas Bab al-Mandab menjelang fajar era industri.
Aden segera menjadi pangkalan pengisian batu bara bagi kapal laut dan pusat komunikasi yang terhubung ke India melalui kabel telegraf. Ketika Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, Inggris juga mendominasi titik strategis ini, mengingat Laut Merah menawarkan jalur laut terpendek menuju wilayah koloninya di India.
Hegemoni Inggris kemudian sangat bergantung pada kapal perang dan pelabuhan bertenaga uap, serta pinjaman dan perjanjian. Sebagian besar dari hal ini ditopang oleh pihak-pihak perantara lokal di sepanjang pesisir, mulai dari Aden hingga Kuwait.
(ras/ras)
Leave a comment