Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dibagikan kepada siswa ketika sekolah diliburkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, penyaluran MBG mengikuti operasional sekolah. Ketika sekolah tidak melakukan kegiatan belajar mengajar karena kondisi darurat, distribusi MBG juga dihentikan.
“Karhutla itu kan.. jadi SPPG melayani, mengirimkan MBG itu di jam operasional sekolah. Nah, kasus Karhutla di beberapa daerah itu adalah dia sudah masak baru kemudian diberitahu bahwa karena Karhutla itu kemudian sekolahnya diliburkan,” kata Sudaryono saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Sudaryono menegaskan, ketika sekolah masih diliburkan dan kegiatan belajar dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ), MBG tidak diberikan kepada siswa.
“Selama PJJ, selama online kan tidak masuk sekolah, itu tidak kami berikan MBG,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, kebijakan tersebut berlaku karena MBG memang diperuntukkan bagi penerima manfaat yang menjalani aktivitas di sekolah. Karena itu, ketika sekolah tidak beroperasi, distribusi makanan juga dihentikan.
Namun, terdapat kondisi khusus ketika sekolah baru saja diliburkan setelah proses produksi makanan sudah berjalan. Dalam kondisi tersebut, BGN tidak serta-merta menghentikan distribusi karena bahan makanan sudah terlanjur dibeli dan sebagian telah diolah.
“Sehingga kami perjelas lagi bahwa yang dibagi itu adalah yang dia sudah beli, kan beli bahan makanannya di hari sebelumnya. Jadi kemudian sebagian sudah dimasak,” jelasnya.
Dalam rangka memperingati HUT ke-25 yang jatuh pada (26/10) kemarin, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kegiatan Bakti Kesehatan hingga program MBG di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (29/10/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Dalam rangka memperingati HUT ke-25 yang jatuh pada (26/10) kemarin, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kegiatan Bakti Kesehatan hingga program MBG di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (29/10/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
|
Sudaryono menjelaskan, makanan yang sudah terlanjur dimasak tetap disalurkan dengan mekanisme tertentu agar tidak terbuang. Penyaluran dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait.
“Nah yang sudah kadung dibeli bahan bakunya itu kemudian tetap dimasak, dan kemudian berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah, kepala daerah, dan pihak berwenang di lingkungan itu, bagaimana mekanisme supaya makanan tidak dibuang,” ucap dia.
Salah satu mekanismenya adalah makanan diambil oleh orang tua siswa. Skema tersebut dilakukan pada hari pertama ketika makanan sudah telanjur diproduksi, sementara sekolah kemudian memutuskan untuk libur akibat kabut asap.
Meski demikian, Sudaryono menegaskan penyaluran tersebut tidak berlangsung terus-menerus selama sekolah masih libur.
“Tapi setelah itu, di hari berikutnya nggak ada lagi, karena memang operasional sekolahnya tidak bersekolah. Jadi sekolahnya libur karena adanya kabut asap,” terang Sudaryono.
BGN, katanya, telah menerbitkan edaran kepada dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengenai mekanisme penyaluran MBG ketika sekolah diliburkan akibat kondisi tertentu.
“Jadi ini kita sudah memberikan edaran seperti itu di dapur-dapur sehingga pada saat dia libur sekolah ya nggak dikasih, cuma hari pertama karena sudah kadung dimasak,” tuturnya.
Sudaryono menuturkan, mekanisme tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat hingga sejumlah wilayah di Sumatra.
(wur)

Leave a comment